Sumber : Diambil dari Blog dr Rum Marewa
dr Rum Marewa , lahir di kendari 08 november 1978, Mendedikasikan diri di Dompet Dhuafa sejak 2010 sebagai GM Layanan Kesehatan Cuma-Cuma dan Rumah Bersalin Cuma-Cuma Sulawesi Selatan. (http://www.marewa.cc.cc/ )
PENDAHULUAN
Sirosis hepatis adalah penyakit yang ditandai oleh adanya peradangan difus dan menahun pada hati, diikuti dengan proliferasi jaringan ikat, degenerasi, dan regenerasi sel-sel hati, sehingga timbul kekacauan dalam susunan parenkim hati. Sirosis hepatis juga merupakan penyakit hati kronis yang tidak diketahui penyebabnya dengan pasti. Telah diketahui bahwa penyakit ini merupakan stadium terakhir dari penyakit hati kronis dan terjadinya pengerasan dari hati. Kondisi ini menyebabkan terbentuknya banyak jaringan ikat dan regenerasi noduler dengan berbagai ukuran yang dibentuk oleh sel parenkim hati yang masih sehat. Akibatnya bentuk hati yang normal akan berubah disertai terjadinya penekanan pada pembuluh darah dan terganggunya aliran darah vena porta yang akhirnya menyebabkan hipertensi portal. Pada sirosis dini biasanya hati membesar, teraba kenyal, tepi tumpul, dan terasa nyeri bila ditekan.2,4
Beberapa penderita sirosis ringan tidak memiliki gejala dan nampak sehat selama bertahun-tahun. Penderita lainnya mengalami kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan dan merasa sakit. Jika aliran empedu tersumbat selama bertahun-tahun, bisa terjadi sakit kuning, gatal-gatal dan timbul nodul kecil di kulit yang berwarna kuning, terutama di sekeliling kelopak mata.5
Malnutrisi biasa terjadi karena buruknya nafsu makan dan terganggunya penyerapan lemak dan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak, yang disebabkan oleh berkurangnya produksi garam-garam empedu.5
Kadang-kadang terjadi batuk darah atau muntah darah karena adanya perdarahan dari vena varikosa di ujung bawah kerongkongan (varises esofageal). Pelebaran pembuluh darah ini merupakan akibat dari tingginya tekanan darah dalam vena yang berasal dari usus menunju ke hati. Tekanan darah tinggi ini disebut sebagai hipertensi portal, yang bersamaan dengan jeleknya fungsi hati, juga bisa menyebabkan terkumpulnya cairan di dalam perut (asites). Bisa juga terjadi gagal ginjal dan ensefalopati hepatikum.5
Gejala-gejala penyakit hati lainnya bisa terjadi, seperti:
- kelemahan otot
- kemerahan di telapak tangan (eritema palmaris)
- jari-jari tangan melekuk keatas (kontraktur telapak tangan Dupuytren)
- vena-vena kecil yang memberikan gambaran seperti laba-laba
- pembesaran payudara pada laki-laki (ginekomastia)
- pembesaran kelenjar ludah di pipi
- rambut rontok
- buah pelir mengecil (atrofi testis)
- fungsi saraf abnormal (neuropati perifer).5
ANATOMI DAN FISIOLOGI HATI
Hati merupakan organ terbesar dalam tubuh manusia, mempunyai berat sekitar 1.5 kg . Walaupun berat hati hanya 2-3% dari berat tubuh , namun hati terlibat dalam 25-30% pemakaian oksigen. Sekitar 300 milyar sel-sel hati terutama hepatosit yang jumlahnya kurang lebih 80%, merupakan tempat utama metabolisme intermedier.6
Hati manusia terletak pada bagian atas cavum abdominis, dibawah diafragma, dikedua sisi kuadran atas, yang sebagian besar terdapat pada sebelah kanan. Beratnya 1200-1600 gram. Permukaan atas terletak bersentuhan dibawah diafragma, permukaan bawah terletak bersentuhan di atas organ-organ abdomen. Hepar difiksasi secara erat oleh tekanan intraabdominal dan dibungkus oleh peritonium kecuali di daerah posterior-posterior yang berdekatan dengan vena cava inferior dan mengadakan kontak langsung dengan diafragma.

Hepar dibungkus oleh simpai yg tebal, terdiri dari serabut kolagen dan jaringan elastis yg disebut Kapsul Glisson. Simpai ini akan masuk ke dalam parenchym hepar mengikuti pembuluh darah getah bening dan duktus biliaris. Massa dari hepar seperti sponsyg terdiri dari sel-sel yg disusun di dalam lempengan-lempengan/ plate dimana akan masuk ke dalamnya sistem pembuluh kapiler yang disebut sinusoid. Sinusoid-sinusoid tersebut berbeda dengan kapiler-kapiler di bagian tubuh yang lain, oleh karena lapisan endotel yang meliputinya terediri dari sel-sel fagosit yg disebut sel kupfer. Sel kupfer lebih permeabel yang artinya mudah dilalui oleh sel-sel makro dibandingkan kapiler-kapiler yang lain .Lempengan sel-sel hepar tersebut tebalnya 1 sel dan punya hubungan erat dengan sinusoid. Pada pemantauan selanjutnya nampak parenkim tersusun dalam lobuli-lobuli Di tengah-tengah lobuli tdp 1 vena sentralis yg merupakan cabang dari vena-vena hepatika (vena yang menyalurkan darah keluar dari hepar).Di bagian tepi di antara lobuli-lobuli terhadap tumpukan jaringan ikat yang disebut traktus portalis/ TRIAD yaitu traktus portalis yang mengandung cabang-cabang v.porta, A.hepatika, ductus biliaris.Cabang dari vena porta dan A.hepatika akan mengeluarkan isinya langsung ke dalam sinusoid setelah banyak percabangan Sistem bilier dimulai dari canaliculi biliaris yang halus yg terletak di antara sel-sel hepar dan bahkan turut membentuk dinding sel. Canaliculi akan mengeluarkan isinya ke dalam intralobularis, dibawa ke dalam empedu yg lebih besar , air keluar dari saluran empedu menuju kandung empedu.6

Hati merupakan pusat dari metabolisme seluruh tubuh, merupakan sumber energi tubuh sebanyak 20% serta menggunakan 20 – 25% oksigen darah. Ada beberapa fungsi hati yaitu :
1. Fungsi hati sebagai metabolisme karbohidrat
Pembentukan, perubahan dan pemecahan KH, lemak dan protein saling berkaitan 1 sama lain. Hati mengubah pentosa dan heksosa yang diserap dari usus halus menjadi glikogen, mekanisme ini disebut glikogenesis. Glikogen lalu ditimbun di dalam hati kemudian hati akan memecahkan glikogen menjadi glukosa. Proses pemecahan glikogen mjd glukosa disebut glikogenelisis.Karena proses-proses ini, hati merupakan sumber utama glukosa dalam tubuh, selanjutnya hati mengubah glukosa melalui heksosa monophosphat shunt dan terbentuklah pentosa. Pembentukan pentosa mempunyai beberapa tujuan: Menghasilkan energi, biosintesis dari nukleotida, nucleic acid dan ATP, dan membentuk/ biosintesis senyawa 3 karbon (3C)yaitu piruvic acid (asam piruvat diperlukan dalam siklus krebs).6
2. Fungsi hati sebagai metabolisme lemak
Hati tidak hanya membentuk/ mensintesis lemak tapi sekaligus mengadakan katabolisis asam lemak. Asam lemak dipecah menjadi beberapa komponen :
- Senyawa 4 karbon – KETON BODIES
- Senyawa 2 karbon – ACTIVE ACETATE (dipecah menjadi asam lemak dan gliserol)
- Pembentukan cholesterol
- Pembentukan dan pemecahan fosfolipid
- Hati merupakan pembentukan utama, sintesis, esterifikasi dan ekskresi kholesterol. Dimana serum Cholesterol menjadi standar pemeriksaan metabolisme lipid.6
3. Fungsi hati sebagai metabolisme protein
Hati mensintesis banyak macam protein dari asam amino. dengan proses deaminasi, hati juga mensintesis gula dari asam lemak dan asam amino.Dengan proses transaminasi, hati memproduksi asam amino dari bahan-bahan non nitrogen. Hati merupakan satu-satunya organ yg membentuk plasma albumin dan ∂ – globulin dan organ utama bagi produksi urea.Urea merupakan end product metabolisme protein.∂ – globulin selain dibentuk di dalam hati, juga dibentuk di limpa dan sumsum tulang β – globulin hanya dibentuk di dalam hati.albumin mengandung ± 584 asam amino dengan BM 66.000.6
4. Fungsi hati sehubungan dengan pembekuan darah
Hati merupakan organ penting bagi sintesis protein-protein yang berkaitan dengan koagulasi darah, misalnya: membentuk fibrinogen, protrombin, faktor V, VII, IX, X. Benda asing menusuk kena pembuluh darah – yang beraksi adalah faktor ekstrinsi, bila ada hubungan dengan katup jantung – yang beraksi adalah faktor intrinsik.Fibrin harus isomer biar kuat pembekuannya dan ditambah dengan faktor XIII, sedangakan Vit K dibutuhkan untuk pembentukan protrombin dan beberapa faktor koagulasi.6
5. Fungsi hati sebagai metabolisme vitamin
Semua vitamin disimpan di dalam hati khususnya vitamin A, D, E, K.
6. Fungsi hati sebagai detoksikasi
Hati adalah pusat detoksikasi tubuh, Proses detoksikasi terjadi pada proses oksidasi, reduksi, metilasi, esterifikasi dan konjugasi terhadap berbagai macam bahan seperti zat racun, obat over dosis.
7. Fungsi hati sebagai fagositosis dan imunitas
Sel kupfer merupakan saringan penting bakteri, pigmen dan berbagai bahan melalui proses fagositosis. Selain itu sel kupfer juga ikut memproduksi ∂ – globulin sebagai imun livers mechanism.
8. Fungsi hemodinamik
Hati menerima ± 25% dari cardiac output, aliran darah hati yang normal ± 1500 cc/ menit atau 1000 – 1800 cc/ menit. Darah yang mengalir di dalam a.hepatica ± 25% dan di dalam v.porta 75% dari seluruh aliran darah ke hati. Aliran darah ke hepar dipengaruhi oleh faktor mekanis, pengaruh persarafan dan hormonal, aliran ini berubah cepat pada waktu exercise, terik matahari, shock.Hepar merupakan organ penting untuk mempertahankan aliran darah.6

ETIOLOGI
Penyebab yang pasti dari Sirosis Hepatis sampai sekarang belum jelas.
1. Faktor keturunan dan malnutrisi
WATERLOO (1997) berpendapat bahwa factor kekurangan nutrisi terutama kekurangan protein hewani menjadi penyebab timbulnya Sirosis Hepatis. Menurut CAMPARA (1973) untuk terjadinya Sirosis Hepatis ternyata ada bahan dalam makanan, yaitu kekurangan alfa 1-antitripsin.1
2. Hepatitis virus
Hepatitis virus sering juga disebut sebagai salah satu penyebab dari Sirosis Hepatis. Dan secara klinik telah dikenal bahwa hepatitis virus B lebih banyak mempunyai kecenderungan untuk lebih menetap dan memberi gejala sisa serta menunjukkan perjalanan yang kronis bila dibandingkan dengan hepatitis virus A. penderita dengan hepatitis aktif kronik banyak yang menjadi sirosis karena banyak terjadi kerusakan hati yang kronis. Sebagaimana kita ketahui bahwa sekitar 10 % penderita hepatitis virus B akut akan menjadi kronis. Apalagi bila pada pemeriksaan laboratories ditemukan HBs Ag positif dan menetapnya e-Antigen lebih dari 10 minggu disertai tetap meningginya kadar asam empedu puasa lebih dari 6 bulan, maka mempunyai prognosis kurang baik.
3. Zat hepatotoksik
Beberapa obat-obatan dan zat kimia dapat menyebabkan terjadinya kerusakan fungsi sel hati secara akut dan kronik. Kerusakan hati secara akut akan berakibat nekrosis atau degenerasi lemak. Sedangkan kerusakan kronik akan berupa Sirosis Hepatis. Pemberian bermacam obat-obatan hepatotoksik secara berulang kali dan terus menerus. Mula-mula akan terjadi kerusakan setempat, kemudian terjadi kerusakan hati yang merata, dan akhirnya dapat terjadi Sirosis Hepatis. Zat hepatotoksik yang sering disebut-sebut adalah alcohol. Efek yang nyata dari etil-alkohol adalah penimbunan lemak dalam hati.
4. Penyakit Wilson
Suatu penyakit yang jarang ditemukan, biasanya terdapat pada orang-orang muda dengan ditandai Sirosis Hepatis, degenerasi ganglia basalis dari otak, dan terdapatnya cincin pada kornea yang berwarna coklat kehijauan disebut Kayser Fleiscer Ring. Penyakit ini diduga disebabkan defisiensi bawaan dan sitoplasmin.1
5. Hemokromatosis
Bentuk sirosis yang terjadi biasanya tipe portal. Ada 2 kemungkinan timbulnya hemokromatosis, yaitu :
- sejak dilahirkan, penderita mengalami kenaikan absorpsi dari Fe.
- kemungkinan didapat setelah lahir (aquisita), misalnya dijumpai pada penderita dengan penyakit hati alkoholik. Bertambahnya absorpsi dari Fe, kemungkinan menyebabkan timbulnya Sirosis Hepatis.
6. Sebab-sebab lain
- kelemahan jantung yang lama dapat menyebabkan timbulnya sirosis kardiak. Perubahan fibrotik dalam hati terjadi sekunder terhadap anoksi dan nekrosis sentrilibuler.
- sebagai akibat obstruksi yang lama pada saluran empedu akan dapat menimbulkan sirosis biliaris primer. Penyakit ini lebih banyak dijumpai pada kaum wanita.
- penyebab Sirosis Hepatis yang tidak diketahui dan digolongkan dalam sirosis kriptogenik. Penyakit ini banyak ditemukan di Inggris (menurut Reer 40%, Sherlock melaporkan 49%). Penderita ini sebelumnya tidak menunjukkan tanda-tanda hepatitis atau alkoholisme, sedangkan dalam makanannya cukup mengandung protein.1
- sirosis kompensata atau latent chirrosis hepatic
- sirosis dekompensata atau active chirrosis hepatic
PENGOBATAN
- 3rr0rists. Sirosis Hepatis. 2009. Available from http://3rr0rists.com/computer/sirosis-hepatis.html
- Anonym. Living With Hepatitis : Sirosis Hati. 2007. Available from http://b3d70.wordpress.com/2007/07/31/sirosis-hati/
- Husnul Mubarak. Sirosis Hati (Sirosis Hepatis). 2008. Available from http://cetrione.blogspot.com/2008/05/sirosis-hati-sirosis-hepatis.html
- Mansjoer. A. dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga Jilid Pertama. Media Aesculapius FKUI. Jakarta. 2001. Hal 508-510
- Medicastore. Sirosis. Available from http://medicastore.com/penyakit/615/Sirosis.html
- Pharma NH2. Anatomi Dan Fisiologi Hati. 2010. Available from http://nh2pharma.blogspot.com/2010/03/anatomi-dan-fisiologi-hati.html
- Sudoyo. A.W,dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi Keempat Jilid I. Pusat Penertiban Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Jakarta. 2006. Hal 445-448
- Dialami sejak + 10 hari SMRS, makin bertambah besar tiap hari. Perut membesar disertai dengan rasa nyeri terutama di daerah ulu hati. Rasa nyeri dirasakan tembus kebelakang. Perut terasa penuh. Bengkak pada kedua kaki. OSI malas makan dan minum
- Mual (+), muntah (-)
- Demam (-), riw.demam (+) bersamaan dengan nyeri perut dan turun dengan obat penurun panas
- Mata kuning (+) disadari sejak + 10 hari yll
- Batuk (-), sesak (-), nyeri dada (-)
BAK: biasa
BAB: belum sejak 2 hari yll, riw.berak hitam (-)
- Riw.sakit kuning (-)
- Riw.DM (-), HT (-)
- Riw.dirawat di RS.Sidrap dgn keluhan yg sama 3 hari yll dan dirujuk ke RS.WS
BB = 71 Kg TB = 154 cm Koreksi = 42,6 kg IMT = 17,96 Kg/cm²
Tanda vital : T = 130/80 mmHg P = 20 x/i
N = 84 x/i S = 36,7˚C
Kepala :
Kelopak mata : Edema Palpebra (-) , Konjungtiva : Anemis (+)
Sclera : Ikterus (+), Bibir : Sianosis (-)
Leher :
Massa tumor : (-), Nyeri tekan : (-)
D V S : R-2 cmH₂O
Thoraks :
Inspeksi : simetris kiri = kanan
Palpasi : Fremitus Raba : kiri = kanan
Nyeri tekan : (-)
Massa tumot : (-)
Perkusi : Paru kiri : Sonor
Paru kanan : Sonor
Batas Paru Belakang Kanan : Thorakal VIII
Batas Paru Belakang kiri : Thorakal IX
Bunyi Tambahan : Rh -/-, Wh -/-
Palpasi : Iktus Cordis tidak teraba
Perkusi : Pekak
Auskultasi : BJ I/II Murni regular
Auskultasi : Peristaltik (+), kesan Normal
Palpasi : Massa Tumor : (-)
Nyeri tekan : (-)
Hati/Limpa : Sulit dinilai
Perkusi : Ascites (+), Shifting Dulnes (+)
Alat Kelamin : Tidak Ada Kelainan
Anus dan Rectum : Tidak Dilakukan Pemeriksaan
Palpasi : Vocal Fremitus Kiri = Kanan
Nyeri ketok : (-)
Auskultasi : Dalam batas normal
Lain-lain : (-)
Ektremitas : Edema Pretibial dan Dorsum Pedis +/+
Eritema Palmaris (-)
WBC : 9,1 x 10³/μL , RBC : 3,11 x 10⁶/μL, HGB : 10,5 g/dL, HCT : 32,1 % , PLT : 73 x 10³/μL (T)
PT : 41,7 control 14,0 , APTT : NO COAGULASI
2. Pemeriksaan Kimia Darah
SGOT/SGPT : 83/41 U/L , Bil.tot : 8,51 mg/dL(N) , Bil.drek : 5,91 mg/dL(N) , GDS : 102 mg/dL
Ureum : 16 mg/dL , Kreatinin : 0,5 mg/dL , Protein total : 6,2 mg/dL , Albumin : 1,8 gr/dL(T)
3. Pemeriksaan Elektrolit
Natrium : 135 mmol/L(T) , Kalium : 3,2 mmol/L(T) , Clorida : 104 mmol/L
4. Foto Thoraks AP
Kesan : Pulmo normal, Cardiomegaly CTI 14/24 = 0,58
5. USG Abdomen
Kesan : Sirosis hepatis disertai ascites dan splenomegaly
- Diet Hepar
- IVFD Nacl 0,9% : D5% 1:1 = 28 tpm
- Spironolakton 100 mg 1 x 1
| Tanggal | Perjalanan Penyakit | Instruksi |
| Hari 1 07-04-2010 T=130/70mmHg N=88x/i P=22X/i S=36,8˚C |
S : Perut membesar, perut terasa cepat penuh walaupun hanya makan sedikit, mual (+), muntah (-), NUH (+), demam (-), batuk (-), sesak napas (-), nyeri dada (-). OSI malas makan dan minum O : Anemis (+), ikterus (+), sianosis (-) Bp. Vesikuler, Bt Rh-/-, wh -/-, BJ I/II Murni Reguler, Abdomen : MT(-), NT(-), Ascites (+), Shifting dulnes (+). Ekstremitas : Edema pretibial +/+ dan dorsum pedis +/+ A : Sirosis Hepatis Dekompensata |
R/ Diet Hepar IVFD Nacl 0,9%:D5% 1 : 1 = 12 tpm
|
| Hari 2 08-04-2010 T=130/70mmHg N=84x/i P=24X/i S=36,5˚C |
S : Perut membesar, mual (+), muntah (-), NUH (+), demam (-), batuk (-), sesak napas (-), nyeri dada (-). OSI malas makan dan minum O : Anemis (+), ikterus (+), sianosis (-) Bp. Vesikuler, Bt Rh-/-, wh -/-, BJ I/II Murni Reguler, Abdomen : MT(-), NT(-), Ascites (+), Shifting dulnes (+). Ekstremitas : Edema pretibial +/+ dan dorsum pedis +/+ A : Sirosis Hepatis Dekompensata Albumin = 1,8 (T) |
R/ Diet Hepar IVFD Nacl 0,9%:D5% 1 : 1 = 12 tpm
Rencana koreksi albumin |
| Hari 3 09-04-2010 T=110/70mmHg N=78x/i P=22X/i S=36,6˚C |
S : Perut membesar, mual (+), muntah (-), NUH (+), demam (-), batuk (-), sesak napas (-), nyeri dada (-). OSI malas makan dan minum O : Anemis (+), ikterus (+), sianosis (-) Bp. Vesikuler, Bt Rh-/-, wh -/-, BJ I/II Murni Reguler, Abdomen : MT(-), NT(-), Ascites (+), Shifting dulnes (+). Ekstremitas : Edema pretibial +/+ dan dorsum pedis +/+ A : Sirosis Hepatis Dekompensata |
R/ Diet Hepar IVFD Nacl 0,9%:D5% 1 : 1 = 12 tpm
|
| Hari 4 10-04-2010 T=120/60mmHg N=80x/i P=24X/i S=36,5˚C |
S : Perut membesar, mual (+), muntah (-), NUH (-), demam (-), batuk (-), sesak napas (-), nyeri dada (-). OSI mulai makan dan minum O : Anemis (+), ikterus (+), sianosis (-) Bp. Vesikuler, Bt Rh-/-, wh -/-, BJ I/II Murni Reguler, Abdomen : MT(-), NT(-), ascites (+), Shifting dulnes (+). Ekstremitas : Edema pretibial +/+ dan dorsum pedis +/+(berkurang) A : Sirosis Hepatis Dekompensata |
R/ Diet Hepar IVFD Nacl 0,9%:D5% 1 : 1 = 12 tpm
Konsul Gizi |
| Hari 5 11-04-2010 T=120/60mmHg N=78x/i P=22X/i S=36,5˚C |
S : Perut membesar, perut terasa cepat penuh walaupun hanya makan sedikit, mual (-), muntah (-), NUH (-), demam (-), batuk (-), sesak napas (-), nyeri dada (-). OSI mulai makan dan minum O : Anemis (+), ikterus (+), sianosis (-) Bp. Vesikuler, Bt Rh-/-, wh -/-, BJ I/II Murni Reguler, Abdomen : MT(-), NT(-), ascites (+), Shifting dulnes (+). Ekstremitas : Edema pretibial +/+ dan dorsum pedis +/+(berkurang) A : Sirosis Hepatis Dekompensata |
R/ Diet Hepar IVFD Nacl 0,9%:D5% 1 : 1 = 12 tpm
|
| Hari 6 12-04-2010 T=140/80mmHg N=66x/i P=24X/i S=36,5˚C |
S : Perut membesar, perut terasa cepat penuh walaupun hanya makan sedikit, mual (-), muntah (-), NUH (-), demam (-), batuk (-), sesak napas (-), nyeri dada (-). OSI mulai makan dan minum O : Anemis (+), ikterus (+), sianosis (-) |
R/ Diet Hepar IVFD Nacl 0,9%:D5% 1 : 1 = 12 tpm Spironolakton 100mg 1×1 |
| Hari 7 13-04-2010 T=140/90mmHg N=76x/i P=20X/i S=36,5˚C |
S : Perut membesar, perut terasa cepat penuh walaupun hanya makan sedikit, mual (-), muntah (-), NUH (-), demam (-), batuk (-), sesak napas (-), nyeri dada (-). OSI mulai makan dan minum O : Anemis (+), ikterus (+), sianosis (-) Bp. Vesikuler, Bt Rh-/-, wh -/-, BJ I/II Murni Reguler, Abdomen : MT(-), NT(-), ascites (+), Shifting dulnes (+). Ekstremitas : Edema pretibial -/- dan dorsum pedis -/- A : Sirosis Hepatis Dekompensata |
R/ Diet Hepar IVFD Nacl 0,9%:D5% 1 : 1 = 12 tpm Spironolakton 100mg 1×1 |
- Tekanan koloid plasma yang biasa bergantung pada albumin di dalam serum. Pada keadaan normal albumin dibentuk oleh hati. Bilamana hati terganggu fungsinya, maka pembentukan albumin juga terganggu, dan kadarnya menurun, sehingga tekanan koloid osmotic juga berkurang. Terdapatnya kadar albumin kurang dari 3 gr % sudah dapat merupakan tanda kritis untuk timbulnya asites.1
- Tekanan vena porta. Bila terjadi perdarahan akibat pecahnya varises esophagus, maka kadar plasma protein dapat menurun, sehingga tekanan koloid osmotic menurun pula, kemudian terjadilah asites. Sebaliknya bila kadar plasma protein kembali normal, maka asitesnya akan menghilang walaupun hipertensi portal tetap ada. Hipertensi portal mengakibatkan penurunan volume intravaskuler sehingga perfusi ginjal pun menurun. Hal ini meningkatkan aktifitas plasma rennin sehingga aldosteron juga meningkat. Aldosteron berperan dalam mengatur keseimbangan elektrolit terutama natrium . dengan peningkatan aldosteron maka terjadi terjadi retensi natrium yang pada akhirnya menyebabkan retensi cairan.1