Sumber : Ejournal Universitas Udayana Bali, Volume 8, Nomor 2, Mei 2007.
Ditulis oleh : I Wayan Eka Saputra, Stephanus Gunawan, Zainul Muttaqin, Soewignjo Soemoharjo. (Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK Unud / RSUD Mataram)
ABSTRACT
CHRONIC HEPATITIS B AND C CASE WITH MUTATION OF GENE P53 CODONE 249 IN THE LIVER TISSUE
Role of gene P53 as a tumor suppressor gene in generating primary liver cancer is very important primarily in cell growth regulation and apoptosis. By using AS-PCR method, the gene mutation can be recognized. It has been reported a chronic hepatitis B and C case with experiencing mutation of gene P53 Codone 249 in liver tissue of a 33 years old male with anti HCV positive, HBsAg positive, on the liver biopsy indicated of chronic hepatitis without cirrhotic features and malignancy signs. On AS-PCR examination found mutation on gene P53 codone 249. This finding was expected to be an early warning sign for occurrence of primary liver cancer, so that, early intervention could be performed.
Keyword : Gene P53, Chronic Hepatitis
PENDAHULUAN
Menurut penelitian sekitar 90-95% dari KHP (kanker hati primer) disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B dan C. Diperkirakan ada sekitar 450 juta penduduk sebagai kronik karier hepatitis B dan 200 juta sebagai karier hepatitis C.1,2
Proses terjadinya KHP pada infeksi virus hepatitis B ada tiga tingkat yaitu : Inisiasi, Promosi, dan Progresi.3 Pada tahap inisiasi terjadi integrasi antara genom virus hepatitis B kedalam genom hepatosit. Pada tahap promosi mulai terjadi ekspansi klonal dari sel-sel yang telah terangsang dalam tahap inisiasi. Pada tahap progresi sel-sel yang telah mengalami transformasi keganasan akan mengalami replikasi lebih lanjut. Pada penderita dengan hepatitis B kejadian KHP bisa langsung terjadi tanpa melalui proses sirosis, tetapi untuk hepatitis C selalu melalui proses sirosis.3,4
Peran dari gen p53 yang merupakan tumor supressor gen dalam terjadinya KHP sangat penting baik dari pengaturan pertumbuhan sel dan proses apoptosis.2 Infeksi virus hepatitis B dan C menghambat gen tersebut dan sering terjadi mutasi pada gen tersebut. Khusus pada KHP sering terjadi mutasi pada kodon 249 gen p53, hal ini diduga sebagai salah satu pemicu terjadinya KHP.
Adanya mutasi gen p53 banyak didapatkan pada jaringan hati yang mengalami keganasan. Dulu dengan metoda SSCP (single-stranded conformational polymorphism) mutasi gen p53 hanya didapatkan pada jaringan ganas dan tidak bisa dideteksi pada jaringan yang belum mengalami keganasan. Namun dengan metode yang lebih canggih seperti AS-PCR (allele-specific polymerase chain reaction) beberapa peneliti melaporkan terdeteksinya mutasi gen p53 pada jaringan hati yang belum mengalami keganasan.5-7
Dengan metode AS-PCR terbuka kemungkinan untuk melakukan deteksi dini dari keganasan hati dengan cara mendeteksi adanya mutasi gen p53 pada penderita-penderita sirosis hati dan penderita hepatitis kronis. sehingga terbuka kemungkinan untuk melakukan intervensi lebih dini terhadap kejadian KHP seperti misalnya pemberian obat anti virus lebih awal.
Saat ini telah tersedia banyak obat-obatan yang digunakan pada pasien hepatitis kronik B dan C, misalnya dengan interferon (IFN) alfa dan PEG IFN alfa, analog nukleosida (lamivudin, ribavirin), dan analog nukleotida (adefovir, entekavir) sehingga makin banyak dilakukan pengobatan anti viral untuk penderitapenderita hepatitis kronik B dan C.1,8-11 Pengobatan ini terbukti bisa menghambat progresifitas penyakit serta menurunkan viral load pada sebagian besar pasien.
Berikut ini adalah suatu kasus dengan hepatitis kronik B dengan HBsAg (+) dan hepatitis C dengan HCV-RNA (+) yang pada pemeriksaan AS-PCR terdapat mutasi pada gen p53 pada kodon 249 dimana pada biopsy dari liver belum ada tanda-tanda keganasan atau chirrosis.
KASUS
Seorang laki-laki 33 tahun ras Cina pekerjaan wiraswasta datang ke Internis dengan keluhan kepala terasa berat sejak 1 bulan. Kepala terasa berat ini terutama dirasakan setiap pagi hari dan mulai berkurang pada siang dan malam hari. Tetapi akhir-akhir ini kepala terasa berat dirasakan hampir setiap hari. Penderita juga mengeluh lemah pada badan yang juga dirasakan sejak 1 bulan. Terasa pegal-pegal pada seluruh badan kadang disertai flu, dan badan sumer-sumer. Kadang-kadang penderita juga mengeluh mual-mual tapi tidak sampai muntah. Terasa tidak enak di bagian ulu hati seperti terasa penuh berisi makanan. Penderita juga mengeluh perut kanan atas terasa sebah, tidak pernah mengeluh mata kuning, tidak pernah mengeluh kencing warna seperti air teh. Penderita tidak pernah menderita penyakit yang sama sebelumnya. Penderita mempunyai kebiasaan minum-minuman beralkohol, kebiasaan memakai narkoba dengan jarum suntik serta narkoba jenis yang diminum. Tetapi sejak penderita sakit, penderita sudah berhenti minum-minuman keras dan memakai narkoba.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan penderita dengan kesadaran kompos mentis, keadaan umum baik, pada lengan penderita tampak tatto, status gizi penderita baik, tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 80 x/menit regular, isi cukup, respirasi 18 x/mnt, dengan temperatur aksila 36,20 C. pada pemeriksaan mata pada konjungtiva palpebra tidak ada anemi, sklera tidak icterus, tidak ada odema palpebra. Pada pemeriksaan THT tidak ditemukan kelainan. Pemeriksaan dada tampak simetris, suara nafas vesikuler, ronchi tidak ada, wheezing tidak ada. Suara jantung S1 dan S2 tunggal, murmur tidak ada. Pemeriksaan abdomen tidak tampak distensi, bising usus normal, hepar dan lien tidak teraba. Pemeriksaan ekstremitas hangat dan tidak ditemukan edema.
Dari pemeriksaan laboratorium tanggal 23 Nopember 2005 didapatkan SGOT 165 U/l, SGPT 119 U/l, bilirubin total 0,84 mg/dl, bilirubin direk 0,13 mg/ dl, glukosa puasa 85 mg/dl, kolesterol total 179 mg/dl, kolesterol LDL 140 mg/dl, kolesterol HDL 34 mg/dl, TG 107 mg/dl, asam urat 8,4 mg/dl.
Pada tanggal 26 Nopember 2005 diperiksa HBsAg (+), anti HCV (+), serum kreatinin 0,9 mg/dl, ureum 29 mg/dl. Dari pemeriksaan darah lengkap didapatkan WBC 12,3 /ul, HGB 14,9 g/dl, PLT 182 x103 /ul. USG abdomen didapatkan hasil liver ukuran membesar, permukaan rata tepi tajam, echoparenchyme meningkat difuse, tidak tampak nodul, liver kidney contrast (+), lain-lain kesan normal. Kesan USG adalah fatty liver. Dari pemeriksaan imunoserologi tanggal 28 Nopember 2005 didapatkan anti HCV reaktif, anti HBc IgM non reaktif, HBeAg reaktif, anti HBe non reaktif. Pada tanggal 30 Nopember 2005 pemeriksaan protrombin time 11,7 detik, INR 0,7. HCV-RNA (+) 1,61 x 103 IU/ml, pada tanggal 2 Desember dilakukan Biopsi hati pemeriksaan mikroskopis didapatkan jaringan hepar dengan portal triads, sel hepar dengan balloning degeneration dan focal necrosis, lobolus hepar sebagian besar masih baik, pada daerah portal sudah ada moderate piece meal necrosis dan moderate portal infiltrate of inflamatory cells (grade 3), sudah ada fibrosis periportal dan belum ada portal to portal fibrosis (stage 1). Sirosis tidak ada, tidak ada tanda-tanda keganasan. Kesimpulan diagnosis PA adalah kronik hepatitis (B dan C) dengan moderate piece-meal necrosis dan moderate portal infiltrate (inflamatori grade 3) dengan fibrotic portal tracts (stage 1).
Pada jaringan biopsi hepar telah dilakukan ASPCR dengan hasil adanya mutasi pada gen p53 pada kodon 249.
Penderita diterapi dengan PEG INF alfa 80 mg/minggu, ribavirin 6 tablet/hari, 3TC 100 mg/hr. Terapi ini diberikan selama 6 bulan. Selama masa pengobatan penderita tidak menunjukkan intoleransi terhadap obat-obatan anti virus tersebut.
Berdasarkan evaluasi ulangan dalam 1 bulan terapi dilakukan pemeriksaan pada tangal 11 Januari 2006 dengan HCV-RNA virus tidak terdeteksi. Pada tanggal 6 Juli 2006 dilakukan pemeriksaan HBsAg (+), HbeAg (+), SGOT 25 U/L, SGPT 32 U/L.
HCV-RNA kualitatif (-), tapi HBsAg masih (+) dengan SGPT dan SGOT masih dalam batas normal sehinga pada tanggal 6 Juli 2006 3TC di hentikan pemberiannya. Pada evaluasi ulangan tanggal 7 Agustus 2006 didapatkan kadar SGPT 91,9 U/L, SGOT 51,3 U/ L. Pemeriksaan USG abdomen kesan tidak jauh berbeda dengan USG sebelumnya yaitu fatty liver.
PEMBAHASAN
Pada kasus ini didapatkan penderita dengan infeksi kronik hepatitis B dan C. Pada pemeriksaan laboratorium dengan anti HCV yang (+), dengan HbsAg yang (+), USG didapatkan kesan fatty liver. Berdasarkan hasil dari biopsi liver didapatkan kesan hepatitis kronik dan belum ada tanda sirosis dan keganasan. Pada pemeriksaan AS-PCR dilaporkan terjadi mutasi pada gen p53 di kodon 249. Dengan adanya mutasi pada gen p53 ini pada jaringan hati yang belum mengalami keganasan apakah bisa sebagai petunjuk bahwa ada suatu proses hepatocarsinogenik yang nantinya penderita ini akan mengarah ke KHP. Pengobatan pun telah dilakukan dengan pemberian antiviral dan imunomodulator seperti PEG interferon alfa 80 mg/minggu, ribavirin 6 tablet/ hari, 3TC 100 mg/hari. Dalam masa pengobatan satu setengah bulan terjadi konversi anti HCV dari (+) menjadi (-) atau tidak terdeteksi.
Secara umum pengobatan hepatitis kronik B dan C dengan antiviral bertujuan untuk.3,9,12
- Menghentikan replikasi virus
- HBsAg dan HCV RNA yang negatif
- Keluhan yang menghilang
- Proses peradangan hati yang membaik
- Tingkat penularan yang kurang
- Mencegah terjadinya sirosis dan KHP
- Masa harapan hidup yang meningkat
- Wands, Jack R. Prevention of hepatocellular carcinoma. The N Eng J Med 2004;7(351):1567-0.
- Tao C, John ML. Evaluation of quantitative PCR and branched-chain DNA in sera from hepatocellular carcinoma and liver transplant patients. J Clin Microbiol. 2000;38(5):1977-80.
- Soewignjo S, Gunawan S. Hepatitis virus B dan karsinoma hepatoseluler. Hepatitis virus B. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1999.p.86-7.
- Wanless IR, Nakashima E, Sherman M. Regresion of human cirrhosis: morfologic features and the genesis of incomplete septal cirrhosis. Arch Pathol Lab Med 2000;124(11):15999-607.
- Peng XM, Yao CL, Chen XJ. Codon 249 mutations of p53 gene in non-neoplasticliver tissues. World J of Gastroenterology 1999; 5(4):324-6.
- Park YM, Yoo YD, Paik SY, Kim BS, Tabor E. Mutation of tumor suppression gene p53 in hepatocellular carcinomas from Korea. Experimental and Molecular Medicine 1996;28(4): 173-9.
- Lee H, Kim HT, Yun Y. Liver-spesific enhancer II is the target for the p53-mediated inhibition of hepatitis B viral gene expression. J Biol Chem. 1998;31(273): 19786-91.
- Poernomo BS. Interferon treatment for chronic hepatitis B focus: pegylated interferon alfa 2 a for treatment strategy and aiming sustained remission. Denpasar: SUDEMA 2; 2006.p.58.
- Abdurachman SA. Hepatitis virus kronik. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Edisi ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 1996p. 262-70.
- Hernomo K. Long-term treatment of chronic HVB with antiviral drug. Surabaya: Pusat Gastro Hepatologi Surabaya Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, RSUD Dr Sutomo Surabaya SUDEMA 2; 2006.p.53-6.
- Chung RT, Podolsky DK. In: Braunwald E, Hauster SL, Fauci AS, Longo DL, Jameson JL, editors. Cirrosis and its complications. Harrison s principles of internal medicine 16th ed. New York: Mc Graw Hill Co; 2005.p.1858-69.
- Dienstag JL, Isselbacher KJ. In: Braunwald E, Hauster SL, Fauci AS, Longo DL, Jameson JL, editors. Chronic hepatitis. Harrisons principles of internal medicine. 16th ed. New York: Mc Graw Hill Co; 2005.p.1844-55.
- Soewignjo S. Kesalahan unum (common mistake) dalam pengobatan anti viral pada hepatitis kronik B dan C. Denpasar: SUDEMA2; 2006.p.101-5.
- Hu K. A practical approach to management of chronic hepatitis B. Int J M 2005;4:30-50.