Kenali & Waspadai Hepatitis (Prof. Suwandhi Widjaja)

Kenali & Waspadai Hepatitis (Prof. Suwandhi Widjaja)

Sumber : Info Medistra Edisi Khusus No. 01/2006.

Ditulis oleh : Prof. Dr. Suwandhi Widjaja, Sp.PD, Ph.D

APA GEJALA HEPATITIS, DAN BAGAIMANA PENULARAN, PENCEGAHAN SERTA PENGOBATANNYA ?

Hati atau organ tubuh yang letaknya di dalam rongga perut bagian kanan ternyata rentan terkena penyakit. Salah satu penyakit yang kerap menyerang hati adalah hepatitis atau peradangan yang terjadi pada sel hati. Penyebab dan dampak kerusakan yang ditimbulkan beragam. Ada yang diakibatkan oleh virus, kelainan akibat reaksi imunitas tubuh seperti penyakit autoimmune, mengkonsumsi alkohol yang berlebih serta perlemakan hati akibat obesitas atau kegemukan.

 

 

Virus yang secara langsung dapat menimbulkan hepatitis, dalam dunia kedokteran diberi nama sesuai dengan dengan abjad dari A sampai G. Meski demikian di antara virus ini mereka berbeda satu dengan yang lain, tidak ada kemiripannya. Dalam bahasa ilmiahnya mereka berbeda genus.

Yang paling sering menyerang manusia adalah virus hepatitis A, B dan C. Hepatitis A merupakan penyakit tersering yang menyerang penduduk dengan sosial ekonomi rendah. Dan terutama menyerang anak dan dewasa muda karena hepatitis A ditularkan melalui makan dan minuman yang terkontaminasi virus hepatitis A yang biasanya ada di kotoran manusia.

Di Indonesia diperkirakantujuh juta penderita hepatitis B menahun dan enam juta penderita hepatitis C. Hepatitis juga dapat terjadi akibat mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan. Setelah berada di dalam tubuh, alkohol dan obat-obatan tersebut akan diurai menjadi berbagai bentuk zat kimia, dan beberapa diantaranya sangat beracun. Racun yang ada dalam tubuh itu kemudian, dapat merusak hati.

Penyebab hepatitis lainnya yang juga sering dijumpai adalah, perlemakan pada hati. Perlemakan ini biasanya terjadi pada penderita obesitas dan diabetes. Meski pada banyak kasus kedua faktor itu tidak terlalu menimbulkan risiko karena sifatnya jinak, tapi pada orang tertentu kedua faktor itu bisa menimbulkan sirosis, kegagalan hati bahkan kanker hati.

Cara Penularan dan Gejala Hepatitis Virus

Penularan virus hepatitis  B dan C terjadi melalui cara yang berbeda. Hepatitis B ditularkan ke bayi melalui proses kelahiran pada ibu pengidap hepatitis B, hubungan seksual dengan pengidap hepatitis B dan pengguna narkoba intra vena. Pada hepatitis C melalui transfusi darah yang belum diskrining, dan penggunaan jarum suntik pernah dipakai oleh orang yang telah terjangkit virus hepatitis C serta penerima organ transplantasi dari pengidap hepatitis. Hubungan seksual dengan partner yang ganda/banyak dan pemakaian alat-alat pribadi (sikat gigi, misalnya) bersama merupakan risiko untuk mendapatkan infeksi hepatitis C. Sedang penularan hepatitis C dari ibu ke bayi pada waktu proses kelahiran tidak besar. Tetapi kira-kira 50% penderita hepatitis C tidak mengetahui dari mana dia mendapat infeksi hepatitis C.

Gejala klinik yang ditimbulkan oleh hepatitis A, B maupun C mirip meskipun ada variasinya. Karena itu perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk membedakan ketiga macam hepatitis ini.

Gejala manifestasi kliniknya dapat bervariasi dari tidak ada gejala sama sekali atau kadangkala hanya seperti flu biasa sampai gejala hepatitis yang sangat berat atau disebut fulminan hepatitis. Misalnya, pada penderita bayi atau anak yang terinfeksi hepatitis virus A maupun B, gejala klinisnya biasanya sangat ringan atau bahkan tidak ada. Sedang pada orang dewasa atau pada wanita hamil gejala hepatitis dapat sangat berat.

Gejala klinis yang biasanya terjadi atau yang klasik dari hepatitis adalah seperti flu, demam atau ruam, rasa mual, dan muntah. Setelah itu biasanya penderita mengenali bahwa urine serta kulit nya berwarna kuning.

Masa inkubasi virus hepatitis ono berbeda antara virus hepatitis A, B dan C. Untuk A, dua – enam minggu, untuk B, dua – enam bulan, sedangkan untuk C, dua minggu sampai enam bulan.

Pada penderita hepatitis A semua penderitanya akan sembuh sempurna dan tidak pernah akan berkembang menjadi menahun atau kronis. Mereka akan mendapat kekebalan seumur hidup. Sedang sebagian penderita hepatitis B dan C dapat menjadi menahun dan sebagian akan berkembang menjadi sirosis dan kanker hati.

Pencegahan

Sebenarnya banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencegah virus hepatitis. Pada hepatitis A dapat dicegah dengan memperbaiki kebersihan lingkungan dan sanitasi pribadi. Hepatitis A ditularkan karena sanitasi yang kurang baik. Penyakit ini untungnya hanya satu kali seumur hidup. Sekarang ada vaksin terhadap hepatitis A. Vaksin ini biasanya sangat dianjurkan pada balita. Pada hepatitis B pencegahan terutama dengan pemberian vaksinasi pada bayi dan balita serta remaja. Selain informasi bagaimana sikap hidup dan pengelolaan penderita hepatitis B menahun yang benar harus digalakan untuk menghindari sirosis dan kanker hati.

Pada saat ini belum ada vaksin terhadap hepatitis C. Karena itu pencegahan terutama ditujukan menghindari seseorang tertular virus ini. Jadi screening terhadap darah, produk darah dan organ transplant terhadap hepatitis C merupakan hal yang penting.

Selain memberikan sosialisasi sikap / pola hidup dan informasi pengelolaan penderita hepatitis C merupakan hal yang tidak boleh dilupakan, sehingga penyakit ini tidak berkembang lebih lanjut.

Pengobatan

Pada saat initelah banyak ditemukan obat yang sangat bermanfaat untuk penderita hepatitis B maupun C. Sayangnya pengobatan terhadap hepatitis B maupun C masih mahal, maka pemilihan penderita yang benar-benar membutuhkan pengobatan harus benar.

Obat yang dipakai untuk mengobati hepatitis B yang sudah diakui oleh masyarakat ilmiah adalah interferon / pegylated interferon, lamivudine, adefovir, dan entecavir. Masih ada sederetan obat yang akan beredardalam waktu mendatang untuk pengobatan hepatitis B. Sedang untuk hepatitis C obat yang sudah diakui bermanfaat adalah interferon / pegylated interferon dengan kombinasi ribavirin. Juga banyak obat-obatan baru yang akan beredar untuk mengobati hepatitis C.

Pada sirois lanjut dan kanker hati, satu-satunya pengobatan definitif adalah transplantasi hati. Meski demikian, transplantasi itu juga mengandung resiko kegagalan, mahal, serta hanya dapat dilakukan pada saat ini di luar negeri.

Catatan : Foto diambil dari  http://www.klikdokter.com/page/profil-9

—– end