Diagnosis Gangguan Faal Hati (Prof. Suwandhi Widjaja)

Diagnosis Gangguan Faal Hati (Prof. Suwandhi Widjaja)

Sumber : Info Medistra Edisi Khusus No. 02/2007

Ditulis oleh : Prof. Dr. Suwandhi Widjaja, Sp.PD, Ph.D

Gangguan fungsi hati sangat beragam. Agar berhasil dalam pengobatan, seorang dokter harus pandai mendiagnosis. Mulai dari mengetahui riwayat penyakit pasiem, mencari tanda penyakit hati kronis, hingga penyakit lain penyebab gangguan faal hati.

Penderita gangguan hati sering memperlihatkan hasil laboratorium kepada dokter. Berdasarkan catatan laboratorium yang menunjukan adanya gangguan fungsi hati itu, mereka meminta kepada dokter pendapat dan metode pengobatannya. Hal ini mereka lakukan agar fungsi liver kembali membaik. Lalu bagaimana sikap bijak kita (para dokter) ?

Sebagai seorang dokter klinis, kita tidak boleh lupa, pertanyaan utama pasien. Apa sebenarnya penyakit saya itu, dok ?

Untuk dapat menjawab pertanyaan itu, kita harus mengetahui bagaimana riwayat penyakit, simptomatologi, dan riwayat yang relevan (ada kaitannya)  dengan kondisi klinis pasien. Riwayat mengkonsumsi obat-obatan termasuk obat tradisionil, serta eksposisi dengan zat kimia/makanan adalah hal lain yang perlu juga mendapat perhatian kita.

Tak hanya itu. Pemeriksaan fisik untuk mencari tanda penyakit hati kronis seperti palmar erithema, jaundice, spider nevi, dan sebagainya juga sangat membantu dalam menganalisis hasil laboratorium.

Perlu diingat, kelainan faal hati juga sering dijumpai pada penyakit lain diluar penyakit hati. Misalnya, penyakit kelenjar thyroid, payah jantung, dan payah ginjal. Masing-masing tes terhadap penyakit tersebut biasanya juga menunjukan faal hati yang terganggu. Oleh karena itu kita memerlukan pemeriksaan penunjang lainnya untuk memberikan konklusi dari hasil laboratorium.

Fungsi Hati

Hati merupakan organ padat terbesar yang terletak di rongga perut bagian kanan atas. Organ ini sangat penting karena memiliki berbagai fungsi. Seperti sebagai regulator dari semua metabolisme (karbohidrat, protein dan lemak, tempat sintesis dari berbagai komponen (protein, pembekuan darah, kolesterol, ureum, dan zat lainnya yang sangat vital.

Selain itu hati juga merupakan tempat pembentukan dan penyaluran asam empedu, pusat pendetoksifikasi racun, dan tempat penghancuran (degradasi) hormon-hormon steroid (estrogen).

Pada jaringan hati terdapat sel-sel kupfer. Sel ini sangat penting dalam eliminasi organisme asing, baik bakteri maupun virus. Oleh karena itu untuk memperlihatkan adanya gangguan fungsi hati itu. Dokter perlu mengetahui, semua tes kesehatan selalu mempunyai sensitivitas, dan spesifisitas yang berlainan. Sehingga untuk interpretasi hasil tersebut kita harus mengenal tes tersebut, bagaimana sensitivitas, dan bagaimana spesifitasnya.

Tes Faal Hati

hati dalam tubuh mempunyai multifungsi, sehingga tes faal hati pun beraneka ragam sesuai dengan apa yang hendak kita nilai.

  1. Untuk menilai fungsi sintesis (protein, zat pembekuan darah dan lemak) biasanya dilakukan pemeriksaan albumin, masa protrombin, dan kolesterol.
  2. Untuk menilai fungsi ekskresi/transportasi menggunakan pemeriksaan bilirubin, alkali fosfatase, γ-GT
  3. Untuk mengetahui kerusakan sel hati/jaringan hati, memakai pemeriksaan SGOT (AST), SGPT (ALT).
  4. Untuk melihat adanya pertumbuhan sel hati yang muda (karsinoma sel hati) digunakan Alfa Feto Protein (AFP)
  5. Untuk menjelaskan adanya kontak dengan virus hepatitis B, pemeriksaan HBsAg, Anti HBs, HBeAg, Anti HBe, Anti HBc, dan HBVDNA perlu dijalani pasien.
  6. Untuk melihat adanya kontak dengan virus hepatitis C, pemeriksaan anti HCV, HCV RNA, dan genotype HCV perlu dilakukan.

Gangguan Faal Hati

Secara umum terdapat dua jenis/macam gangguan faal hati.

  1. Akibat peradangan umum atau peradangan khusus di hati. Kondisi ini menimbulkan kerusakan jaringan/sel hati.
  2. Akibat tersumbatnya saluran empedu. 

Macam Hasil Tes

  1. Test faal hati pada pasien dengan infeksi bakterial maupun virus sistemik yang bukan virus hepatitis. Gejala klinisnya berupa demam tinggi, myalgia, nausea, asthenia dan sebagainya. Tes ini memperlihatkan peningkatan SGOT, SGPT serta γ-GT antara 3-5 kali nilai normal. Albumin sedikit menurun bila infeksi sudah terjadi lama dan bilirubin dapat meningkat sedikit terutama bila infeksi cukup berat.
  2. Test faal hati pada pasien dengan hepatitis virus akut maupun drug induce hepatitis. Faal hati seperti bilirubin direct / indirect dapat meningkat biasanya kurang dari 10 mg%, kecuali pada hepatitis kolestatik, bilirubin dapat lebih dari 10 mg%. SGOT, SGPT meningkat lebih dari 5 sampai 20 kali nilai normal. γ-GT dan alkalifosfatase meningkat dua sampai empat kali nilai normal, kecuali pada hepatitis kolestatik dapat lebih tinggi. Albumin/globulin biasanya masih normal kecuali terjadi hepatitis fulminan, rasio albumin globulin dapat terbalik dan masa protrombin dapat memanjang.
  3. Test faal hati untuk pasien dengan sumbatan saluran empedu. Bilirubin direct dan indirect dapat tinggi sekali (> 20 mg%), terutama bila sumbatan sudah cukup lama. Peningkatan SGOT dan SGPT biasanya tidak terlalu tinggi, sekitar kurang dari 4 kali nilai normal, γ-GT dan alkalifosfatase meningkat sekali dapat lebih dari 5 kali nilai normal. Kolesterol juga meningkat.
  4. Test faal hati bagi pasien dengan perlemakan hati (fatty liver). Albumin/globulin dan bilirubin biasanya masih normal. SGOT dan SGPT meningkat 2-3 kali nilai normal demikian juga γ-GT dan alkalifosfatase meningkat ½ – 1 kali dari normal. Kadar triglyserida dan kolesterol juga terlihat meninggi. Kelainan ini sering terjadi pada wanita dengan usia muda/pertengahan, gemuk, dan biasanya tidak terdapat keluhan yang berupa perasaan tak nyaman pada perut bagian kanan atas. Pada kasus perlemakan hati primer, semua petanda hepatitis C harus negatif.
Tanda Hepatitis Virus
  1. Hepatitis A. Bagi penderita hepatitis A akut atau pasien yang telah sembuh dari hepatitis A mempunyai tanda berupa IgM anti HAV positif. Sedang IgG anti HAV positif sering ditemukan pada anak atau orang dewasa di negara berkembang yang memiliki sanitasi lingkungan jelek. Tanda ini menunjukkan seseorang telah terinfeksi virus hepatitis A di masa lampau. Karena itu prevalensi IgG HAV dapat dipakai sebagai indeks sanitasi lingkungan di suatu negara.
  2. Hepatitis B. Hilangnya HBsAg dan timbulnya anti HBs merupakan tanda bagi seseorang yang telah sembuh dari infeksi hepatitis B. Sedang IgM anti HBc positif, berarti seseorang baru (recent) saja terinfeksi dengan hepatitis B.

Hepatitis B Yang Menahun

  1. Hepatitis kronis fase replikatif/toleran. Ditandai dengan HBsAg +, HBeAg +, HBVDNA + (kuantitatif dapat > 105 copy/ml). Namun, faal hatinya normal.
  2. HBeAg +, HBVDNA + (kuantitatif dapat > 105 copy/ml)). Namun, faal hati abnormal, terutama SGOT/PT tinggi (> 3 kali nilai normal), albumin/globulin biasanya masih normal, bilirubin dapat meningkat sedikit (< dari 3 mg%).
  3. Hepatitis Kronis B mutant. HbsAg +, HBeAg negatif, tetapi anti HBe +, dan HBV DNA +. Fungsi liver terganggu. Biasanya penderita ini, mempunyai penyakit hati yang lebih berat.
  4. Hepatitis inaktif / integratif, HBsAg +, Anti HBe +, HBV DNA negatif atau dibawah < 103 copy/ml dan faal hatinya normal.
  5. Sirosis hati B, rasio albumin/globulin terbalik. Bilirubin meningkat (< dari 5 mg%), SGOT > SGPT, biasanya meningkat dua hingga empat kali normal, tapi pada yang sirosis berat SGOT/SGPT dapat normal. HBsAg +, HBeAg/Anti-HBe dapat +. HBV DNA seringnya sudah negatif.

Hepatitis C

  1. Sembuhdari hepatitis C, ditandai dengan anti HCV +, HCV RNA negatif, faal hati yang normal.
  2. Hepatitis C kronik, ditandai dengan Anti HCV +, HCV RNA +, faal hati sebagian terbesar terganggu, tapi bisa normal pada sebagian kecil penderita.
  3. Sirosis hati C, rasio albumin/globulin terbalik. Bilirubin meningkat (< dari 5 mg%), SGOT > SGPT, biasanya meningkat kira-kira 2-4 kali normal, tapi pada yang sirosis berat SGOT/SGPT dapat normal. Anti HCV dan HCV RNA positif.

Genotype Hepatitis

Pada hepatitis B memiliki delapan genotype dan diberi nama sesuai abjad : A hingga H. Genotipe B dan C merupakan jenis yang banyak ditemui di Indonesia.

Sedangkan pada hepatitis C terdapat enam genotipe dan diberi nama dengan menggunakan angka (1 sampai 6). Selain itu terdapat genotipe yang dibagi ke dalam sub-genotipe, dengan memberikan tambahan huruf kecil dari a sampai c. Di Indonesia kasus terbanyak adalah genotipe jenis 1b. (> 65%).

Kelainan Faal Hati Tak Spesifik

Kelainan faal hati tak spesifik umumnya terjadi pada penderita, yang penyakit hatinya telah mempengaruhi fungsi dari organ lain. Seperti ginjal, paru jantung, dan sebagainya. Dalam hal seperti ini, gambaran klinis serta pemeriksaan penunjang seperti USG, CT Scan, dan Endoscopy Retrograde Cholangio Pancreatography (ERCP) atau bahkan biopsi hati biasanya diperlukan untuk menegakkan diagnosisnya.

Hasil Lab Faal Hati Normal Penderita Penyakit hati Menahun

Pada penderita kronik hepatitis B dengan fase replikatif, inaktif/integratif sering menunjukan hasil laboratorium yang normal. Hal serupa juga dijumpai pada penderita hepatitis C (dengan HCV RNA +), tes faal hati menunjukkan normal. Pada penderita sirosis hati yang kompensata juga memiliki tes faal hati yang normal.

Sedangkan sirosis hati yang sudah lanjut pun kita sering mendapatkan kadar SGPT/SGOT normal. Hal ini terjadi karena jumlah sel hati pada sirosis berat sudah sangat kurang, sehingga kerusakan sel hati relatif sedikit. Tapi kadar bilirubin akan terlihat meninggi dan perbandingan albumin/globulin akan terbalik. Bila kita cermati lebih teliti, kadar SGOT akan lebih tinggi daripada SGPT.

—- end