Dikutip dari Seri Buku Kecil ‘Hepatitis Virus dan HIV’ Terbitan Mei 2005 oleh Yayasan Spirita , Jl. Johar Baru Utara V No. 17. Johar Baru. Jakarta 10560. Telp: (021) 422-5163, 422-5168 , Fax: (021) 4287 1866. Mei 2005
HEPATITIS VIRUS DAN HIV
Terapi obat anti-HIV baru-baru ini membuat perubahan yang luar biasa pada kehidupan banyak orang dengan HIV. Jumlah infeksi oportunistik menurun dan banyak orang hidup lebih lama dengan HIV – berkat ketersediaan pengobatan ini dan penggunaannya secara lebih luas.
Sayangnya, hidup lebih lama dengan HIV menimbulkan serangkaian masalah baru untuk banyak orang. Ribuan orang dengan HIV juga terinfeksi – atau berisiko terinfeksi – dengan salah satu dari berbagai virus hepatitis. Beberapa di antara virus ini dapat menyebabkan infeksi kronis (menahun), yang berarti infeksinya tidak hilang dan lambat laun dapat mengarahkan pada gangguan hati yang berat. Banyak orang dengan HIV saat ini lebih menghadapi tantangan hepatitis virus daripada infeksi oportunistik terkait AIDS dan juga menjadi ancaman untuk kesehatan dan kehidupannya..
Buku kecil ini dirancang untuk membantu orang dengan HIV untuk memahami tiga virus hepatitis yang dapat mengancam kesehatannya: virus hepatitis A (HAV), virus hepatitis B (HBV), dan virus hepatitis C (HCV). Masing-masing virus ini berbeda satu dengani yang lain, dengan satu kesamaan: semuanya mempunyai potensi untuk merusak hati kita. Buku ini termasuk tinjauan umum mengenai hepatitis, dan bagaimana tiga virus ini menular, perjalanan dan gambaran penyakit, serta pengobatannya, terutama pada orang dengan HIV. Dengan informasi ini, kami mengharapkan pembaca akan berbicara dengan dokter mengenai hepatitis virus, termasuk cara pencegahan dan penanganannya.
TENTANG HATI DAN HEPATITIS
Hati dan Banyak Fungsinya
Hati kita adalah organ yang terbesar dalam tubuh kita. Kurang lebih sama besar dengan buah pepaya, hati terletak di perut kanan-atas.
Kita tidak dapat hidup tanpa fungsi hati yang baik. Hati adalah saringan dan gudang tubuh kita. Hampir semua sel dan jaringan di tubuh kita tergantung pada hati. Bila hati mengalami masalah, hal ini dapat sangat mempengaruhi hampir semua organ di tubuh. Sedikit lebih dari 1½ liter darah dipompa melalui hati kita setiap menit, memungkinkan hati secara cepat dan efektif menyaring racun dan produk pembuangan dari aliran darah. Hati sekaligus menyimpan bahan gizi penting, misalnya vitamin dan zat mineral termasuk zat besi. Hati juga berperan dalam menangani tingkat zat tertentu dalam tubuh, misalnya kadar kolesterol, hormon, dan gula, yang semuanya dibutuhkan untuk mempertahankan hidup, namun juga dapat menimbulkan masalah bila tidak seimbang. Hati juga mempunyai peranan kunci dalam proses pencernaan makanan melalui pembuatan cairan empedu dan memproduksi faktor pembekuan darah, yang mencegah pendarahan yang berlebihan.
Apakah hepatitis itu?
Hepatitis adalah istilah umum yang berarti radang hati. “Hepa” berarti kaitan dengan hati, sementara “itis” berarti radang (seperti di atritis, dermatitis, dan pankreatitis).
Radang hati – hepatitis – mempunyai beberapa penyebab, termasuk:
- Racun dan zat kimia seperti alkohol berlebihan;
- Penyakit yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat dalam tubuh, yang disebut sebagai penyakit autoimun; dan
- Mikroorganisme, termasuk virus.
HAV, HBV, dan HCV menyerang sel hati – atau hepatosit – yang menjadi tempat yang bersahabat bagi virus untuk berkembang biak. Sebagai reaksi terhadap infeksi, sistem kekebalan tubuh memberikan perlawanan dan menyebabkan peradangan hati (hepatitis). Bila hepatitisnya akut (yang dapat terjadi dengan HAV dan HBV) atau menjadi kronis (yang dapat terjadi dengan HBV dan HCV) maka dapat bekembang menjadi jaringan parut di hati, sebuah kondisi yang disebut fibrosis.
Lambat laun, semakin banyak jaringan hati diganti dengan jaringan parut seperti bekas luka, yang dapat menghalangi aliran darah yang normal melalui hati dan sangat mempengaruhi bentuk dan kemampuannya untuk berfungsi semestinya. Ini disebut sebagai sirosis. Bila hati rusak berat, mengakibatkan bendungan di limpa dan kerongkongan bagian bawah akibat tekanan di organ yang tinggi. Dampak dari kondisi ini – yang disebut sebagai hipertensi portal – termasuk pendarahan saluran cerna atas dan cairan dalam perut (asites). Kerusakan pada hati juga dapat mengurangi pembuatan cairan empedu yang dibutuhkan untuk pencernaan yang baik dan mengurangi kemampuan hati untuk menyimpan dan menguraikan bahan nutrisi yang dibutuhkan untuk hidup. Dampak lain dari hati yang rusak temasuk ketidakmampuan untuk menyaring racun dari aliran darah, yang pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan kesadaran dan bahkan koma.
Ada lima virus yang diketahui mempengaruhi hati dan menyebabkan hepatitis: HAV, HBV, HCV, virus hepatis delta (HDV, yang hanya menyebabkan masalah pada orang yang terinfeksi HBV), dan virus hepatitis E (HEV). Tidak ada virus hepatitis F. Virus hepatitis G (HGV) pada awal diperkirakan dapat menyebabkan kerusakan pada hati, tetapi ternyata diketahui sebagai virus yang tidak menyebabkan masalah kesehatan, dan virus ini sekarang diberi nama baru sebagai virus GB-C (GBV-C).
HEPATITIS B
Apakah hepatitis B itu dan bagaimana menular?
Hepatitis B disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV). HBV adalah virus nonsitopatik, yang berarti virus tersebut tidak menyebabkan kerusakan langsung pada sel hati. Sebaliknya, adalah reaksi yang bersifat menyerang oleh sistem kekebalan tubuh yang biasanya menyebabkan radang dan kerusakan pada hati.
Seperti halnya dengan virus hepatitis A, kita dapat divaksinasikan terhadap HBV untuk mencegah infeksi. Cara penularan HBV sangat mirip dengan HIV. HBV terdapat dalam darah, air mani, dan cairan vagina, dan menular melalui hubungan seks, penggunaan alat suntik narkoba (termasuk jarum, kompor, turniket) bergantian, dan mungkin melalui penggunaan sedotan kokain dan pipa ‘crack’. Perempuan hamil dengan hepatitis B juga dapat menularkan virusnya pada bayi, kemungkinan besar saat melahirkan. Jumlah virus (viral load) hepatitis B dalam darah jauh lebih tinggi daripada HIV atau virus hepatitis C, jadi HBV jauh lebih mudah menular dalam keadaan tertentu (misalnya dari ibu-ke-bayi saat melahirkan).
Seperti hepatitis A, hepatitis B dapat menyebabkan hepatitis akut bergejala. Tetapi berbeda dengan hepatitis A, hepatitis B dapat menjadi infeksi kronis (menahun). Ini berarti bahwa sistem kekebalan tubuh tidak mampu memberantas virus dalam enam bulan setelah terinfeksi. Dengan kata lain, virus tersebut terus berkembang dalam hati selama beberapa bulan atau tahun setelah terinfeksi. Hal ini meningkatkan risiko kerusakan hati dan kanker hati. Lagi pula, seseorang dengan HBV kronis dapat menularkan orang lain.
Kurang dari 10 persen orang dewasa yang terinfeksi HBV mengalami infeksi HBV kronis. Sebaliknya, kurang lebih 90 persen bayi yang terinfeksi HBV saat lahir mengalami infeksi HBV kronis. Ada obat yang dapat diberikan pada bayi setelah lahir untuk membantu mencegah hepatitis B. Anak muda yang terinfeksi HBV mempunyai risiko 25-50 persen mengalami hepatitis B kronis.
Pada orang dewasa, kemungkinan menjadi HBV kronis tergantung pada sistem kekebalan tubuhnya. Misalnya, orang dengan sistem kekebalan yang lemah karena pencangkokan organ, melakukan cuci darah karena masalah ginjal, menjalankan kemoterapi, menerima terapi steroid untuk menekan sistem kekebalan, atau akibat infeksi HIV lebih mungkin menjadi HBV kronis dibandingkan dengan orang dengan sistem kekebalan yang sehat.
Penelitian di AS menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen orang dengan HIV pernah terinfeksi dengan HBV pada suatu waktu dalam kehidupannya, dan 15 persen terinfeksi HBV kronis. Keadaan di Indonesia belum jelas, tetapi Depkes menyatakan bahwa 3-33 orang Indonesia terinfeksi HBV.
Apakah gejala hepatitis B?
Tidak semua yang terinfeksi HBV mengalami gejala hepatitis. Antara 30 dan 40 persen orang terinfeksi virus ini tidak mengalami gejala apa pun. Gejala, bila ada, biasanya timbul dalam empat sampai enam minggu setelah terinfeksi, dan dapat berlangsung dari beberapa minggu sampai beberapa bulan. Gejala hepatitis B akut serupa dengan gejala infeksi HAV (lihat daftar di halaman 6). Beberapa orang yang mengalami gejala hepatitis B akut merasa begitu sakit dan lelah sehingga mereka tidak dapat melakukan apa-apa selama beberapa minggu atau bulan. Seperti dengan HAV, kurang dari 1 persen orang terinfeksi HBV dapat mengalami infeksi cepat dan berat (‘fulminant’); walaupun hal ini sangat jarang tetapi dapat menyebabkan kegagalan hati dan kematian.
Bila sistem kekebalan tubuh tidak mampu mengendalikan infeksi HBV dalam enam bulan, gejala hepatitis B kronis dapat muncul. Tidak semua orang dengan hepatitis B kronis mengalami gejala. Beberapa orang kadang kala mengalami gejala yang hilang setelah beberapa waktu, sementara yang lain mengalami gejala terus-menerus.
Gejala hepatitis B kronis dapat serupa dengan yang dialami dengan hepatitis B akut. Gejala ini cenderung ringan sampai sedang dan biasanya bersifat sementara. Gejala tambahan dapat terjadi, terutama pada orang yang sudah lama mengalami hepatitis B kronis. Gejala ini termasuk ruam, urtikaria (kaligata – rasa gatal yang berbintik-bintik merah dan bengkak), artritis (peradangan sendi), dan polineuropati (semutan atau rasa terbakar pada lengan dan kaki). Gejela hepatitis, baik akut maupun kronis, harus dilaporkan pada dokter.
Bagaimana mengenai tes laboratorium?
Tersedia tes laboratorium untuk mendiagnosis infeksi HBV dan tes lain untuk memantau orang dengan hepatitis B kronis.
Hepatitis B didiagnosis dengan tes darah yang mencari antigen (pecahan virus hepatitis B) tertentu dan antibodi (yang dibuat oleh sistem kekebalan tubuh sebagai reaksi terhadap HBV). Tes darah awal untuk diagnosis infeksi HBV mencari satu antigen – HbsAg (antigen permukaan, atau surface, hepatitis B) dan dua antibodi – anti-HBs (antibodi terhadap antigen permukaan HBV) dan anti-HBc (antibodi terhadap antigen bagian inti, atau core, HBV). Sebetulnya ada dua tipe antibodi anti-HBc yang dibuat: antibodi IgM dan antibodi IgG.
Tes darah yang dipakai untuk diagnosis infeksi HBV dapat membingungkan, karena ada berbagai kombinasi antigen dan antibodi yang berbeda, dan masing-masing kombinasi mempunyai artinya sendiri. Berikut adalah arti dari kombinasi yang mungkin terjadi:

Tergantung pada hasil ini, tes tambahan mungkin dibutuhkan. Bila kita tidak pernah terinfeksi HBV atau pernah divaksinasikan terhadap HBV, kita tidak membutuhkan tes tambahan. Bila kita baru-baru ini terinfeksi HBV atau kita hepatitis B akut, sebaiknya kita tes ulang setelah enam bulan untuk meyakinkan sudah didapatkan kekebalan yang dibutuhkan.
Bila kita hepatitis B kronis, kita membutuhkan tes tambahan. Tes ini diminta oleh dokter untuk mengetahui apakah infeksinya aktif dan berapa luas kerusakan pada hati:
HBeAg dan Anti-HBe: HBeAg adalah antigen sampul hepatitis B, dan anti-Hbe adalah antibodi yang terbentuk untuk melawan antigen tersebut. Bila HBeAg dapat terdeteksi dalam contoh darah, ini berarti bahwa virus masih aktif dalam hati (dan dapat ditularkan pada orang lain). Bila HBeAg adalah negatif dan anti- HBe positif, umumnya in berarti virus tidak aktif. Namun halini tidak selalu benar. Beberapa orang dengan hepatitis B kronis terinfeksi dengan apa yang disebut sebagai “precore mutant” (semacam mutasi) HBV. Hal ini dapat menyebabkan HbeAg tetap negatif dan anti-HBe menjadi positif, walaupun virus tetap aktif dalam hati.
Viral Load HBV: Tes viral load, yang serupa dengan tes yang dilakukan untuk mengukur jumlah virus HIV dalam darah, dapat mengetahui apakah HBV menggandakan diri dalam hati. Viral load HBV di atas 100.000 menunjukkan bahwa virus adalah aktif dan mempunyai potensi besar untuk menyebabkan kerusakan pada hati. Bila viral load di atas 100.000, terutama jika enzim hati juga tinggi, sebaiknya pengobatan dipertimbangkan. Bila viral load di bawah 100.000, terutama jika HBeAg negatif dan anti-HBe positif, ini menunjukkan bahwa virus dikendalikan oleh sistem kekebalan tubuh. Namun, walaupun begitu, virus masih dapat menular pada orang lain.
Tes Enzim Hati: Tingkat enzim hati – yang disebut SGPT dan SGOT (atau ALT dan AST di daerah lain) – diukur dengan tes enzim hati, yang sering disebut sebagai tes fungsi hati. Tingkat enzim hati yang tinggi menunjukkan bahwa hati tidak berfungsi semestinya, dan mungkin ada risiko kerusakan permanen pada hati. Selama infeksi hepatitis B akut, tingkat enzim hati dapat tinggi untuk sementara, tetapi hal ini jarang menimbulkan masalah jangka panjang pada hati. Pada hepatitis B kronis, enzim ini, terutama SGPT, dapat menjadi lebih tinggi, secara berkala atau terus-menerus, dan hal ini menunjukkan risiko kerusakan hati jangka panjang.
Alfa-fetoprotein (AFP): Ada tes yang mengukur tingkat AFP, yaitu sebuah protein yang dibuat oleh sel hati yang kanker. Karena orang dengan hepatitis B kronis berisiko lebih tinggi terhadap kanker hati, tes ini sering diminta oleh dokter setiap 6 sampai 12 bulan. Memakai tingkat AFP untuk mengetahui keberadaan tumor dapat disalah tafsirkan, jadi tes ini mungkin paling berguna untuk orang dengan sirosis, karena mereka mempunyai kemungkinan lebih tinggi mendapatkan kanker hati.
Ultrasound: Banyak spesialis hati juga mengusulkan pemeriksaan ultrasound atau “gema” untuk mengetahui timbulnya kanker hati pada orang dengan hepatitis B kronis, karena tes ini lebih peka dalam mendeteksi tumor dibandingkan AFP. Tes ini memang lebih mahal. Ultrasound menggunakan
alat, yang disebut sebagai transducer, yang digeser-geserkan pada perut atas untuk mengetahui bentuk, ukuran dan struktur hati. Pemeriksaan dengan ultrasound tidak menimbulkan rasa sakit dan hanya membutuhkan 10-15 menit. Beberapa ahli mengusulkan melakukan tes ultrasound setiap 6-12 bulan, walaupun, seperti dengan pemeriksaan AFP, tes ini paling berguna untuk orang dengan sirosis.
Biopsi Hati: Sayangnya, tes darah tidak dapat memberikan semua informasi tentang keadaan hati seseorang. Mengukur viral load HBV, tingkat enzim hati, dan AFP dalam darah tidak dapat menentukan apakah ada kerusakan, dan bila ada, tingkat kerusakan. Untuk ini, dibutuhkan biopsi hati. Biopsi hati hanya diusulkan untuk pasien dengan viral load HBV yang tinggi (di atas 100.000 kopi) dan tingkat enzim hati yang tinggi.
Biopsi hati biasanya dilakukan di klinik rawat jalan di rumah sakit. Ultrasound kadang kala dipakai untuk menentukan daerah terbaik untuk biopsi. Kita harus telentang, sedikit ke kiri. Daerah kulit yang dipilih dibersihkan. Kemudian, daerah tersebut disuntik untuk mematikan rasa pada kulit dan jaringan di bawahnya. Sebuah jarum khusus yang tipis ditusuk melalui kulit. Pada saat ini, dokter akan minta kita mengambil napas masuk, keluar dan tahan untuk kurang lebih lima detik. Jarum dimasukkan pada hati dan dikeluarkan lagi. Tindakan ini hanya membutuhkan satu-dua detik. Sepotong jaringan hati yang kecil dicabut dengan jarumnya, dan diperiksa dalam laboratorium. Proses ini dari awal hanya membutuhkan 15-20 menit. Tetapi setelah itu,kita harus terbaring secara tenang selama beberapa jam untuk menghindari kemungkinan akan perdarahan di dalam. Mungkin akan dirasakan sedikit nyeri pada dada atau bahu, tetapi ini bersifat sementara.
Orang bereaksi secara berbeda-beda pada biopsi – beberapa orang merasa sakit, sementara kebanyakan merasa heran karena mereka hampir tidak mengalami rasa sakit. Sebagian besar orang menggambarkan proses sebagai membosankan, karena harus terbaring begitu lama setelah dilakukan tindakan. Hasil biopsi biasanya didapat dalam satu minggu, kemudian hasilnya baru akan dijelaskan oleh dokter.

Bagaimana hepatitis B berbeda untuk Odha?
Walaupun HBV hanya menjadi kronis pada kurang dari 10 persen orang dewasa tanpa HIV, angka ini menjadi hampir 25 persen untuk orang yang juga terinfeksi HIV. Dengan kata lain, Odha lebih mudah menjadi hepatitis B kronis bila terinfeksi HBV dibandingkan dengan orang HIV-negatif dengan sistem kekebalan tubuh yang kuat.
Beberapa laporan juga memberi kesan bahwa, dengan berlanjutnya infeksi HIV maka , reaksi kekebalan terhadap HBV semakin berkurang bahkan dapat menghilang. Hal ini dapat menyebabkan virus hepatitis B menjadi aktif kembali setelah masa tidak aktif, dan hal ini dapat meningkatkan risiko kerusakan hati.
Dampak HIV pada infeksi HBV kronis belum dipahami secara keseluruhan. Pernah ada beberapa laporan yang menunjukkan bahwa orang yang terinfeksi dengan kedua virus ini mempunyai viral load HBV yang lebih tinggi dan lebih banyak sirosis, tanpa menghiraukan sistem kekebalan tubuh. Juga ada data dari penelitian yang memberi kesan bahwa kegagalan hati pada orang dengan HIV dan hepatitis B kronis dua kali lipat lebih mungkin dibandingkan dengan orang HIV-negatif sehingga akhirnya perlu mempertimbangkan pencangkokan hati. Belum diketahui apakah orang dengan HIV dan hepatitis B kronis mempunyai risiko kanker hati yang lebih tinggi daripada orang HIV-negatif, tetapi dengan adanya kaitan yang sangat erat antara HBV dan kanker hati, hal ini tampaknya kemungkinan besar akan terjadi.
Seperti akan dibahas di bawah ini, orang dengan infeksi HIV bersama dengan hepatitis B kronis harus sangat hati-hati waktu memilih pengobatan untuk kedua infeksi.
Bagaimana hepatitis B diobati?
Orang dengan hepatitis B akut tidak membutuhkan pengobatan. Biasanya seorang yang mengalami gejala hepatitis B akut hanya membutuhkan istirahat di tempat tidur, minum banyak cairan, dan obat penawar rasa sakit yang dapat dibeli tanpa resep, misalnya ibuprofen.
Pengobatan hanya disarankan untuk orang dengan hepatitis B kronis. Tujuan terapi adalah untuk mengurangi viral load HBV menjadi tingkat yang tidak terdeteksi dan mengembalikan enzim hati menjadi normal, dengan harapan untuk menghilangkan baik HBeAg maupun HbsAg. Jika kedua antigen ini dapat dihilangkan dari darah, kemungkin kecil viral load akan meningkat kembali.
Waktu terbaik untuk mulai terapi anti-HBV adalah saat viral load HBV di atas 100.000 kopi dan tingkat SGPT sedikitnya dua kali lipat di atas tingkat normal. Memulai terapi pada saat SGPT normal atau hanya sedikit lebih tinggi kemungkinan tidak sama efektif.
Ada tiga jenis pengobatan yang disetujui di AS untuk hepatitis B kronis:
Interferon-alfa: Obat ini meniru kegiatan interferon-alfa yang berada secara alami dalam tubuh kita dan berfungsi sebagai antivirus. Obat ini disetujui di AS beberapa tahun yang lalu untuk pengobatan hepatitis B kronis. Dosis yang diberikan 5 juta satuan (IU) setiap hari atau 10 juta IU tiga kali seminggu – disuntik di bawah kulit atau ke dalam otot – selama empat bulan. Bila dipakai tanpa obat lain pada orang HIV-negatif dan (selain HBV-nya) sehat, interferon-alfa dapat memberantas HBeAg untuk sampai 40 persen orang, dan HbsAg untuk sampai 15 persen orang. Karena alasan yang belum dipahami secara penuh, interferon-alfa tidak sama efektif bila dipakai oleh orang HIV-positif dan hepatitis B kronis. Karena manfaat pengobatan ini kemungkinan rendah, maka interferon tidak disarankan dipakai untuk mengobati HBV pada Odha.
Pegylated interferon, sebuah obat yang mengandung butir polietalin glikol yang sangat kecil yang terikat pada molekul interferon, sedang diujicobakan untuk mengobati HBV kronis. Obat ini disuntikkan sekali seminggu, dan hasil uji coba klinis awal memberi kesan bahwa obat ini lebih efektif daripada interferon biasa. Uji coba klinis tambahan sedang dilakukan untuk meyakinkan keamanan dan tingkat efektifitasnya pegylated interferon untuk mengobati hepatitis B kronis.
Lamivudine (3TC): Setelah disetujui untuk mengobati HIV, 3TC juga disetujui untuk mengobati hepatitis B kronis. Orang yang hanya terinfeksi HBV (dan tidak HIV) meminum satu tablet 100mg 3TC setiap hari. Orang dengan HBV dan HIV bersama harus memakai dosis yang dibutuhkan untuk mengobati HIV – 300mg sehari. Pada uji coba klinis dengan dosis 100mg sehari, pengobatan dengan 3TC memberikan hasil HBeAg negatif setelah satu tahun pengobatan pada 17–33 persen orang dengan hepatitis B kronis. Pasien yang diberikan 3TC juga mengalami tingkat fibrosis yang lebih rendah.
Seperti dengan HIV, HBV dapat menjadi resistan (kebal) terhadap 3TC. Bila 3TC dipakai sendiri tanpa obat anti-HBV lain, kurang lebih 14–32 persen orang menjadi resistansi terhadap obat ini dalam satu tahun. Setelah empat tahun penggunaan 3TC, kurang lebih 66 persen orang mempunyai jenis HBV yang resistan terhadap obat ini, dan persentase ini lebih tinggi lagi pada orang dengan HIV dan HBV.
Walaupun hal ini memberi kesan bahwa manfaat dari penggunaan 3TC sendiri (tanpa obat lain) adalah terbatas, ada kesan juga bahwa resistansi terhadap 3TC berkembang lebih cepat dengan HIV dibandingkan dengan HBV. Dan bahkan waktu resistansi terhadap HBV terjadi, obat ini tampaknya masih membantu menekan viral load HBV tetap rendah dan memperlambatkan kelangsungan penyakit hati akibat HBV.
Orang dengan HIV yang memakai 3TC untuk mengobati HIV dan hepatitis B kronis harus mengetahui bahwa, walaupun HIV-nya menjadi resistan terhadap 3TC, mungkin mereka harus tetap memakai obat ini untuk mengobati HBV-nya. Bila penggunaan 3TC dihentikan terlalu mendadak, hal ini dapat menyebabkan peningkatan tajam pada jumlah HBV dalam tubuhnya, dan menghasilkan gejala (yang disebut sebagai “flare”). Flare ini – kadang kala cukup gawat – juga dapat terjadi bila HBV-nya menjadi resistan terhadap 3TC. Dan kita harus ingat bahwa 3TC adalah satu unsur dalam beberapa tablet kombinasi, misalnya Duviral (AZT + 3TC).
Adefovir dipivoxil: Penelitian obat ini pada awal untuk pengobatan HIV, tetapi dosis yang efektif untuk HIV menimbulkan efek samping pada ginjal. Dosis yang dibutuhkan untuk mengobati HBV jauh lebih rendah – hanya satu tablet 10mg sehari – dan karena itu risiko efek samping pada ginjal juga lebih rendah. Pada uji coba klinis, adefovir ternyata efektif untuk pengobatan orang dengan hepatitis B kronis yang baru memakai terapi untuk pertama kali, dan juga untuk orang dengan HBV yang sudah resistan terhadap 3TC.
Pada dua penelitian besar yang dilakukan oleh produsennya, adefovir lebih mungkin mengurangi peradangan hati, memperbaiki fibrosis, mengurangi viral load HBV, dan mengembalikan enzim hati menjadi normal dibandingkan dengan plasebo (pil gula). Dikabarkan bahwa tidak seorang pun menjadi resistan terhadap obat ini.
Tidak jelas apakah orang dengan HIV dan HBV sebaiknya diobati dengan adefovir. Adefovir mirip dengan tenofovir, sebuah obat yang juga disetujui untuk mengobati HIV dan juga aktif terhadap HBV. Bila regimen seorang Odha mengandung tenofovir, tidak dibutuhkan menambahkan adefovir. Satu pilihan adalah untuk memakai adefovir untuk mengobati HBV sebelum dibutuhkan terapi antiretroviral (seumpamanya jika jumlah CD4-nya masih tinggi dan viral load HIV-nya rendah). Saat terapi antiretroviral dibutuhkan, sebaiknya ini mengandung 3TC dan/atau tenofovir. Namun, pendekatan ini belum diteliti dalam uji coba klinis.
Walaupun tenofovir adalah aktif terhadap HBV, obat ini belum diteliti dengan baik dalam uji coba klinis, dan belum disetujui untuk mengobati HBV. Hal ini juga sama untuk FTC (emtricitabine), sebuah obat anti-HIV yang mirip dengan 3TC.
Pada waktu yang akan datang, kemungkinan kita akan mendengar jauh lebih banyak tentang terapi kombinasi untuk mengobati hepatitis B. Seperti kombinasi obat membantu menekan viral load HIV menjadi tidak terdeteksi dan memperlambat timbulnya resistansi, kemungkinan kombinasi obat anti-HBV akan membantu meningkatkan potensi terapi HBV dan mengurangi kemungkinan menjadi resistan.
Bagaimana hepatitis B dapat dicegah?
Cara terbaik untuk mencegah hepatitis B adalah vaksinasi. Dua jenis vaksin tersedia: Recombivax HB dan Energix-B. Kedua vaksin membutuhkan tiga suntikan yang diberikan selama jangka waktu enam bulan. Efek samping, bila terjadi, biasanya ringan dan dapat termasuk rasa sakit pada daerah suntikan dan gejala mirip flu yang ringan. Juga tersedia vaksin kominasi terhadap HAV dan HBV (Twinrix), yang menawarkan manfaat tambahan yaitu pemberian perlindungan terhadap kedua infeksi virus.
Vaksin HBV adalah efektif untuk lebih dari 90 persen orang dewasa dan anak yang menerima ketiga dosis semuanya. Tetapi ada penelitian yang memberi kesan bahwa Odha lebih mungkin tidak menjadi kebal/imun terhadap HBV melalui vaksinasi, terutama bila sistem kekebalan tubuhnya sudah lemah. Jadi sebaiknya Odha menerima vaksin hepatitis B saat jumlah CD4- nya masih cukup tinggi.
Bila kita belum pernah terinfeksi hepatitis B, sebaiknya kita berbicara dengan dokter. Karena Odha lebih mungkin terkena hepatitis B kronis dan fungsi hati yang baik dibutuhkan untuk mengeluarkan sisa obat antiretroviralnya, vaksin hepatitis B sangat disarankan untuk Odha. Melakukan vaksinasi terutama penting untuk orang dengan HIV dan hepatitis C atau penyakit hati yang lain.
Jika kita belum divaksinasikan terhadap hepatitis B, masih ada yang dapat dilakukan untuk mencegah infeksi HBV. Upaya ini termasuk penggunaan kondom saat berhubungan seks. Pembersihan jarum suntik yang dipakai bergantian dengan pemutih tidak efektif untuk mencegah hepatitis B – pengguna narkoba suntikan sebaiknya selalu memakai jarum baru. Sebaiknya juga benda yang dapat tercemar dengan darah orang lain, misalnya sikat gigi, alat cukur dan jarum tindik, tidak dipakai bergantian.
Bila kita belum divaksinasi terhadap hepatitis B dan merasa kita baru-baru terpajan terhadap HBV – misalnya tertusuk dengan jarum suntik bekas pakai, atau berhubungan seks dengan seorang yang terinfeksi hepatitis B – mungkin dapat diminta suntikan imun globulin hepatitis B (HBIG). HBIG disarankan setelah pajanan pada virus hepatitis B karena obat ini memberi perlindungan cepat tetapi jangka pendek terhadap virus tersebut. Pada saat yang sama juga diberikan suntikan pertama vaksinasi hepatitis B. Setelah itu, dua dosis tambahan vaksin hepatitis B diberikan sesuai dengan jadwal untuk melengkapinya dan memberi perlindungan jangka panjang.
MELINDUNGI HATI
Walaupun hepatitis virus merusak hati kita, jelas kita ingin agar hati tetap dilindungi, jadi sebaiknya kita membicarakannya dengan dokter, dan mempertimbangkan yang berikut:
- Minta divaksinasikan terhadap hepatitis A dan B bila belum ada antibodi terhadapnya.
- Jangan memakai alat bergantian: alat dan perlengkap suntikan, termasuk jarum, semprit, sendok, kapas, air, sedotan; sikat gigi, alat cukur, alat kuku, benda lain yang dapat menahan darah.
- Coba mengurangi atau menghentikan penggunaan alkohol.
- Alkohol meningkatkan risiko menjadi sirosis dan kanker hati secara bermakna.
- Bila kita mempunyai HBV atau HCV kronis, kita sebaiknya mencari dokter yang memahami hepatitis virus. Bila kita mempertimbangkan terapi, yang terbaik adalah pendekatan tim, termasuk spesialis hati, spesialis HIV atau penyakit dalam, dan psikiater.
- Periksa ke dokter secara berkala, termasuk pemeriksaan enzim hati. Catat hasil tes yang penting – enzim hati, viral load, genotipe.
- Makan diet yang seimbang dengan sayuran segar, buahbuahan, buncis, daging tidak berlemak.
- Kurangi makanan dengan kandungan garam, gula atau lemak yang tinggi: keju, makanan cepat, gorengan, dan makanan dikelola (biskuit, kue, makanan kemas dengan kadaluwarsa panjang, makanan instan).
- Makan protein secara seimbang – kelebihan protein dapat menambah tekanan pada hati.
- Minum banyak cairan – terutama air – untuk membilas racun dari tubuhnya.
- Berolahraga teratur dan membuat rencana untuk mengurangi stres.
- Asetaminofen (obat penawar rasa sakit non-aspirin), terutama dengan dosis tinggi (2.000mg per hari), dapat meracuni hati. Asetaminofen dikandungkan dalam banyak macam obat, jadi baca etiket dengan seksama. Asetaminofen dan alkohol bersama dapat menyebabkan kerusakan hati yang berat.
- Hindari vitamin A, D, E dan K dengan dosis tinggi.
- Rempah dan jamu yang kadang kala dipakai untuk meningkatkan kesehatan hati termasuk: milk thystle (silymarin), temu lawak, astralagus, dandelion, bupleuru, bawang putih, akar likoris, artichoke, asem tioktik (alfalipoik), dan ginkgo biloba. Semua zat, termasuk jamu, dapat menyebabkan efek samping dan dapat berinteraksi dengan obat lain yang dipakai, termasuk ARV.
- Hindari rempah yang diketahui meracuni hati: peppermint, mistletoe, teh yerba, sassafras, germander, chaparral, skull cap, pala, valerian, Jin Bu Juan, comfrey (teh bush), pennyroyal, dan tansy ragwortsenna.
- Jangan memakai tambahan zat besi kecuali diusulkan oleh dokter – zat besi berlebihan dapat menambah beban pada hati.