Renungan Hari Hepatitis Dunia (WHO) , 28 Juli 2010
Semoga Tak Perlu Ganti Hati
Sumber : JAWA POS, 28 Juli 2010
Ditulis oleh : dr. Sugiharto MARS, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
LEBIH dari tiga tahun lalu, seorang Dahlan Iskan bergumul hebat dalam perjuangan operasi besaaar (dikutip sesuai dengan aslinya) cangkok hati, seperti yang bisa kita ikuti siaran live atau langsungnya dalam tulisan bersambung di Jawa Pos yang kemudian menjadi buku Ganti Hati. Mengenang masa-masa itu, tak habis-habusnya ucapan syukur mengalir untuk kehidupan baru yang dikaruniakan kepada orang nomor satu di PLN saat itu tersebut.
Dalam salah satu tulisan yang menjadi bab ke-13 buku tersebut, dia membuka rahasia medisnya tentang penyebab harus ganti hati: kerusakan parah di hatinya karena infeksi virus hepatitis B. Bahkan, disebutkan sekitar 10 persen penduduk Indonesia sedang menghadapi masa depan seperti dia gara-gara terkena hepatitis B -dan tak banyak yang semampu dan seberuntung pimpinan Jawa Pos itu.
Selain hepatitis B, hepatitis C merupakan penyebab kerusakan parah di hati. Menurut Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan pada peringatan tahun lalu, sekitar 7 juta orang Indonesia hidup dengan hepatitis C kronis dan diperkirakan terdapat ribuan infeksi baru yang muncul setiap tahun.
Silent Killer
Hepatitis merupakan salah satu radang yang dapat mengganggu fungsi hati, bahkan merusaknya. Di antara beberapa jenis virus hepatitis, bahaya yang paling sering mengancam berasal dari hepatitis B dan C. Duo virus hepatitis tersebut dikenal sebagai silent killer. Sebab, sebagian besar kasus hampir tanpa gejala. Situasi itu meningkatkan risiko penularan hepatitis B maupun C yang tak disadari si pembawa virus.
Satu di antara 12 orang di dunia menderita hepatitis B atau C. Parahnya, banyak orang yang tak memedulikannya. Padahal, virus hepatitis B sangat infeksius (mudah menular). Bahkan, peluang penularannya 50-100 kali lipat jika dibandingkan dengan HIV! Bila dibiarkan tanpa penanganan yang memadai, virus penyebab kanker hati tersebut dapat membunuh. Sekitar satu juta nyawa per tahun direnggut kematian karena hepatitis B dan C.
Semua orang berisiko tertular virus hepatitis, terutama jenis B dan C. Prinsip utama penularannya, virus masuk dengan menembus kulit atau mukosa (jaringan lunak). Mekanismenya, antara lain, virus masuk melalui tato, tindik, atau suntikan dari jarum bekas penderita hepatitis. Virus tersebut juga bisa masuk ke dalam tubuh lewat peralatan medis bekas penderita hepatitis, transfusi darah, dan hubungan seks yang tak aman.
Yang cukup mengkhawatirkan -meski masih jadi perdebatan sengit-, ternyata orang yang punya hubungan dekat dengan penderita hepatitis B juga berisiko tertular bila tubuhnya tak memiliki daya tahan terhadap hepatitis B (anti-HBs). Sebab, virus hepatitis B terdapat dalam hampir semua cairan tubuh penderita, seperti darah, keringat, air mata, cairan kelamin, bahkan air susu ibu. Menurut epidemiologi, proses itu disebut penularan horizontal.
Cara penularan lain yang cukup tragis, ibu yang menderita hepatitis B menularkan penyakit tersebut kepada janin yang dikandung. Proses tersebut dikenal sebagai penularan vertikal. Betapa berdosanya kita bila membiarkan hal seperti itu terjadi padahal tersedia cara yang cukup jitu untuk mencegahnya: vaksinasi.
Memang sampai saat ini vaksin yang ada hanya digunakan untuk mencegah penyakit hepatitis A dan B. Vaksin hepatitis B sudah dimasukkan dalam imunisasi wajib bagi semua bayi demi menyelamatkan generasi bangsa. Diperlukan upaya terus-menerus agar program vaksinasi itu benar-benar sukses sepanjang masa, baik dalam pelaksanaan maupun pengawasan.
Di Mana Peran Anda?
Merujuk pada peringatan Hari Hepatitis Dunia versi World Hepatitis Alliance pada 19 Mei lalu, ada empat hal yang ditekankan dalam hubungannya dengan hepatitis, di mana kita semua dapat berperan serta.
Pertama, pencegahan atau get protected. Caranya, mengetahui faktor-faktor risiko penularan hepatitis B dan C. Kedua, diagnosis atau get tested. Langkahnya, lakukan tes laboratorium yang sederhana dan tak perlu waktu lama.
Ketiga, perlindungan atau get vaccinated. Vaksinasi dilakukan agar seseorang terlindung dari hepatitis B. Keempat, penanganan atau get treated. Caranya, lakukan terapi hepatitis B dan C secara efektif dengan dokter.
Dalam empat hal itu, semua lini masyarakat dapat berperan aktif, terlebih para praktisi kesehatan. Institusi-institusi kesehatan perlu memperbanyak program tentang hepatitis yang terjangkau masyarakat dari segi biaya, jarak, maupun waktu.
Rumah sakit (RS) melalui dokter-dokter spesialisnya secara rutin bisa menyelenggarakan seminar awam yang berkaitan dengan hepatitis untuk mengedukasi masyarakat. Program tersebut bisa dihelat di RS itu sendiri maupun tempat umum. Bisa juga narasumber mendatangi komunitas-komunitas yang ada untuk memberikan edukasi tentang penyakit tersebut. Upaya lain, program pemeriksaan laboratorium dan vaksinasi hepatitis B semakin digencarkan dengan menggandeng produsen vaksin yang ada. Dengan demikian, diharapkan semakin banyak masyarakat yang terjangkau vaksinasi dan terlindungi dari hepatitis.
Apotek bisa memberikan harga khusus untuk obat-obat hepatitis yang aduhai mahalnya. Sebab, obat itu harus digunakan dalam jangka panjang. Perusahaan-perusahaan bisa menerapkan pemantauan rutin kesehatan karyawan, terutama screening hepatitis B. Juga, menjalankan program corporate social responsibility dalam pemeriksaan dan vaksinasi hepatitis B murah dengan menggandeng institusi kesehatan (RS/klinik) atau produsen vaksin tertentu untuk menjangkau masyarakat sekitarnya. Lembaga-lembaga keagamaan pun dapat menjalin kerja sama, terutama untuk jamaahnya.
Untuk mencapai empat hal itu, diperlukan kemitraan yang baik antara pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan, organisasi profesi kesehatan, LSM peduli hepatitis, dan mitra kerja swasta lain.
Karena itu, mari kita jadikan peringatan Hari Hepatitis Dunia (WHO) kali ini sebagai langkah awal untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesehatan. Semoga tak perlu sampai ganti hati seperti bos PLN itu.
————– End