Farmacia : Perjalanan Penyakit dan Konsekuensi Klinis Infeksi Hepatitis B Kronis

Farmacia : Perjalanan Penyakit dan Konsekuensi Klinis Infeksi Hepatitis B Kronis

Sumber : Majalah Farmacia  – Vol.11 No.4, November 2011

INFEKSI virus hepatitis B (VHB) menyerang hati dan dapat menyebabkan infeksi akut maupun infeksi kronis.Kurang lebih 2 milyar penduduk dunia sudah pernah terinfeksi dengan VHB dan sekitar 350-400 juta jiwa diperkirakan mengidap Hepatitis B kronis.1,2 Enam ratus ribu orang diperkirakan meninggal setiap tahunnya akibat hepatitis B akut atau kronis. Pada mereka yang terinfeksi VHB pada masa kanak–kanak, 25% diantaranya meninggal akibat kanker hati atau sirosis hati pada saat usia dewasa.1

Endemik hepatitis B terjadi di Cina dan Asia lainya. Kebanyakan penderita pada daerah endemik ini terinfeksi pada masa kanak–kanak. Pada daerah ini, 8%-10% populasi dewasa menderita infeksi kronis. Selain di Asia, infeksi kronis VHB yang tinggi terdapat pada Amazon, Eropa tengah.1  
 
Gambar – 1 Infeksi Virus Hepatitis B
VHB, yang merupakan famili dari Hepadnaviridae, adalah virus DNA sirkuler rantai ganda parsial. Virus ini hanya melakukan replikasi di sel hati.  Struktur VHB terdiri dari selubung virus yang terdapat pada permukaan virus dan inti virus. Protein pada selubung virus membentuk hepatitis B  surface antigen (HBsAg) sedangkan pada inti virus terdapat antigen ‘c’ (HBcAg). Pada nucleocapsid terdapat antigen ‘e’ (HBeAg).3,4 HBcAg tidak digunakan sebagai indikator dalam klinis karena antibodi terhadap HBcAg timbul segera setelah HBcAg muncul yang menyebabkan konsentrasi HBcAg langsung menurun dengan cepat. HBeAg merupakan indikator adanya aktivitas replikasi virus dalam sel hati.
 
VHB diklasifikasikan menjadi delapan genotip (A hingga H) dengan distribusi geografis yang berbeda. Di Asia, genotip yang dominan adalah genotip B dan C. Beberapa studi menunjukkan bahwa genotip B berhubungan dengan terjadinya serokonversi (hilangnya suatu antigen dan timbulnya antibodi terhadap antigen tersebut) HBeAg spontan pada usia yang lebih muda, infeksi hati yang kurang progresif, dan progresivitas ke arah sirosis yang lebih lambat dibandingkan dengan genotip C.5
 
VHB ditularkan dari manusia yang terinfeksi ke manusia sehat melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh lainnya (contoh: semen dan cairan vagina). Penularan VHB yang umum terjadi pada negara–negara berkembang secara perinatal (dari ibu ke bayi yang dilahirkan), infeksi pada masa kanak–kanak (tertular saat kontak langsung dengan orang terdekat yang terinfeksi), penggunaan jarum suntik yang tidak steril, transfusi darah, dan kontak seksual. Masa inkubasi VHB berkisar antara 30–180 haridengan rata–rata 90 hari.1
 
Perjalanan Penyakit Hepatitis B
 
Infeksi VHB dapat akut maupun kronis. Pada infeksi VHB yang akut, mayoritas penderita sembuh. Pada penderita yang berlanjut menjadi infeksi kronis, risiko untuk terjadinya sirosis hepatis, karsinoma hepatoselular, dan gagal hati meningkat.6 Infeksi kronis ditandai dengan adanya HBsAg + minimal 6 bulan.
 
Fase

HbeAg

Anti HbeAg

HBV DNA ALT Level Biopsi Hati
 Imun tolerans  HbeAg+  > 20.000 IU/ml  Normal

 Normal atau aktivitas minimal

 Imun klirens

 HbeAg + atau

anti HbeAg +

 > 2.000 IU/ml  Meningkat  Inflamasi aktif

 Karier inaktif (replikasi rendah)

 HbeAg – / anti HbeAg +  < 2.000 IU/ml  Normal

 Normal atau inflamasi minimal

 Reaktivasi  HbeAg – / anti HbeAg +  2.000 – 20.000 IU/ml  Meningkat  Inflamas, Fibrosis
 
Tabel 1. Fase infeksi Hepatitis B kronis.
 
Infeksi kronis VHB dibagi menjadi 4 fase yaitu : fase imun tolerans, fase imun klirens, fase karier inaktif (replikasi rendah/nonreplikasi), dan fase reaktivasi.2,6 Empat fase ini tidak bersifat ireversibel, melainkan dinamis.
 
Fase ‘imun tolerans’ 2,6
 
Fase imun tolerans kebanyakan terjadi pada anak yang terinfeksi saat lahir oleh ibu positif hepatitis B dengan level HBV DNA yang tinggi dan pada dewasa muda. Fase ini biasanya terjadi selama 2–4 minggu, tetapi dapat bertahan sampai bertahun–tahun pada mereka yang terinfeksi pada masa perinatal.
 
Individu yang berada pada fase ini sangat mudah menularkan ke individu lain.
 
Fase ‘imun klirens’
 
Pada fase ini, sistem imun tubuh berusaha untuk mengeradikasi VHB dengan menghancurkan sel hati yang terinfeksi.2 Sel hati yang hancur akan mengeluarkan ALT sehingga pada fase ini level HBV DNA menurun, ALT meningkat, dan pada biopsi hati ditemukan inflamasi hati yang aktif. Pada   fase ini pengobatan untuk hepatitis B diberikan. Pada fase ini dapat terjadi serokonversi HBeAg.   
 
Fase ‘karier’ 6
 
Pada fase ini level HBV DNA tidak terdeteksi atau rendah dan ALT biasanya normal menunjukkan tidak ada replikasi VHB atau replikasi yang terjadi rendah. Fase ini dapat berlangsung selama bertahun–tahun atau bahkan seumur hidup.
 
Fase ‘reaktivasi’ 6
 
Pada fase ini level HBV DNA kembali meningkat diikuti dengan kadar ALT yang meningkat dan inflamasi sel hati bahkan bisa sampai terjadi fibrosis. Penderita pada fase ini juga perlu diberikan pengobatan.
 

 
Spektrum Klinis Infeksi VHB
 
Pada infeksi primer, HBsAg terdeteksi setelah 4–10 minggu masa inkubasi, diikuti timbulnya antibodi terhadap HBcAg. Viremia sudah terjadi saat HBsAg terdeteksi.6 ALT pada masa ini tidak meningkat sampai sistem imun tubuh mulai menghancurkan sel hati akibat tingginya replikasi virus dalam hati. Ketika respons sistem imun tubuh bekerja, level HBV DNA menurun. Kesembuhan terjadi apabila HBsAg dan HBeAg menghilang dan anti HBs timbul.
 
Pada sebagian pasien yang mengalami serokonversi HBeAg, menunjukkan peningkatan HBV DNA yang rekuren dan peningkatan kadar ALT yang persisten. Hal ini terjadi karena VHB mengalami mutasi sehingga virus tidak lagi memproduksi HBeAg. Prognosis jangka panjang pada penderita dengan HBeAg negatif lebih buruk dibandingkan dengan penderita dengan HBeAg positif.6
 
Efek Jangka Panjang Infeksi Kronis VHB
 
Survival rate 5 tahun pada penderita hepatitis B kronis diperkirakan 100%. Namun sirosis hepatis dan karsinoma hepatoselular yang merupakan komplikasi jangka panjangbinfeksi kronis VHB yang secara signifikan meningkatkan morbiditas dan mortalitas.6
 
Angka mortalitas pada 5 tahun adalah 16% pada mereka yang menderita sirosis yang terkompensasi dan 65% – 85% dan mereka yang menderita sirosis yang tidak terkompensasi. Setelah terjadi sirosis yang tidak terkompensasi, angka survival turun ke 55% – 77% setelah 1 tahun dan menjadi 14% – 28% setelah 5 tahun.6
 
Perkembangan karsinoma hepatoselular dan gagal hati merupakan penyebab utama kematian pada infeksi kronis hepatitis B. Insidens karsinoma hepatoselular 3–6 kali lebih tinggi pada pria dibandingkan pada wanita. Beberapa studi menunjukkan bahwa usia yang semakin tua (>45 tahun) merupakan faktor risiko penting karsinoma hepatoselular. Tidak seperti hepatitis C, perkembangan karsinoma hepatoselular pada hepatitis B tidak selalu melalui sirosis.
 
Oleh karena itu dianjurkan pada penderita hepatitis B kronis terutama dengan faktor risiko perlu dilakukan screening untuk karsinoma hepatoselular setiap 6 bulan.6   
 
Pengobatan Infeksi Kronis Hepatitis B
 
Tujuan utama pengobatan hepatitis B kronis adalah untuk menekan secara permanen replikasi VHB.7 Obat yang dapat digunakan untuk pengobatan infeksi kronis hepatitis B adalah terapi berbasis interferon (IFN-α, PegIFN-α), analog nukleosida/nukleotida (lamivudin, entecavir, telbivudin, adefovir)
 
Berikut adalah algoritma infeksi   hepatitis B kronis berdasarkan konsensus   Asia-Pacific tahun 2008:  
 
Gambar 4. Alur manajemen pasien Hepatitis B Kronis dengan HbeAg positif 7
 
Gambar 5. Alur manajemen pasien Hepatitis B Kronis dengan HbeAg negatif 7
 
Narasumber : dr. Rino A Gani, SpPD KGEH   (Ketua PPHI)
 
Referensi:
  1. WHO Hepatitis B (version August   2008). Available at http://www.-who.int/mediacentre/factsheets/fs2 04/en/. Accessed October 24th,   2011.
  2. McMahon, B. Natural History of   Chronic Hepatitis B – Clinical   Implications. Medscape J Med   2008;10(4):91.   
  3. Schödel F, Peterson D, Zheng J, et   al. Structure of Hepatitis B Virus   Core and e-Antigen: A single precore   amino acid prevents nucleocapsid assembly. The Journal of   Biological Chemistry 1993;268-   (15):1332-1337.  
  4. WHO Hepatitis B. Available at   http://www.who.int/csr/disease/hepatitis/whocdscsrlyo20022/en/ind   ex2.html. Accessed October 24th,   2011.
  5. Fung SK, Lok AS. Hepatitis B Virus   Genotypes: Do They Play a Role in   the Outcome of HBV Infection?   Hepatology 2004;40(4):790-792.  
  6. Pan CQ, Zhang JX. Natural History   and Clinical Consequences of   Hepatitis B Virus Infection. Int J   Med Sci 2005;2:36-40.   
  7. Liaw YF, Leung N, Kao JH, et al.   Asian-Pacific consensus statement   on the management of chronic   hepatitis B: a 2008 update.   Hepatol Int 2008;2:263-283. F   

——– End