Beberapa Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Hepatitis B dan C Pada Pendonor Darah

Beberapa Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Hepatitis B dan C Pada Pendonor Darah

Sumber : Berita Kedokteran Masyarakat Vol. 22, No. 1, Maret 2006.

Ditulis oleh :

  • Theodola Baning Rahayujati, Kantor  Dinas Kesehatan Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.
  • Siti Nurdjanah, RS Dr. Sarjito, Yogyakarta
  • Nawi Ng, Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat, UGM, Yogyakarta.

Hasil analisis multivariat faktor yang berhubungan dengan kejadian hepatitis B dan hepatitis C pada pendonor darah di PMI Cabang Kota Yogyakarta adalah riwayat pernah hubungan seks dengan bukan suami/istri.

ABSTRACT

Background : Hepatitis B Virus (HBV) and Hepatitis C Virus (HCV) infection transmitted through blood product remains the major infectious problems in developing countries. There was an increase of HBsAg and anti-HCV prevalenceamong blood donors in Yohyakarta in the last five years.

Objective : of this study was to identify factors associated with HBV and HCV infections in this group.

Methods : This cross sectional study was conducted among blood donors in five units of blood transfusion unit in the Yogyakarta Municipality Red Cross. The status of HBV infection was ascertained with the presence of HbsAg using EIA or immunochromatography, and HCV infection was determined by the presence of anti HCV using Enzyme Immuno Assay (EIA) or rapid test. Histories of bllod transfusion, use of injection needles, tattoing, body piercing, acupuncture, dental treatment, family historiy of hepatities, sexual activities, and use of shared tooth brushes and razor blades were collected using questionaire.

Result : Out of 805  subjects screened 2.2% and 0.6% were HBV positive and HCV positive, respectively. Only sexual activities with partners other than spouse was significant predictor of infections in the multivariate analysis (ORHCV = 5,86 ; 95% CI 2, 10-16, 34 and ORHCV = 14,62 ; 95% CI 2,29-93,45).

Conclusion : The high prevalence of HBV and HCV infections among blood donors found in this study should alert public health practitioner. Providing health education on reproductive health and risk of sexual transmission of HBV and HCV should therefore be among the major focuses of health authority.

Keywords : Hepatitis B Virus (HBV), Hepatitis C Virus (HCV), Blood donors, HBsAg, anti-HCV.

 

PENDAHULUAN

Hepatitis B adalah penyakit infeksi yang  merupakan masalah kesehatan utama di negara berkembang terutama negara dengan kepadatan penduduk yang tinggi. Indonesia termasuk negara dengan endemisitas sedang sampai tinggi dengan prevalensi antara 3% – 20%.1 Penularan hepatitis B dan hepatitis C terjadi karena adanya paparan darah atau cairan tubuh dari orang yang terinfeksi. Penularannya dapat terjadi melalui penggunaan jarum bergantian, hubungan seks dengan penderita hepatitis, dan dapat pula terjadi secara vertikal dari ibu kepada bayinya. Penderita hepatitis B yang tidak menunjukan tanda dan gejala (asimptomatik) sebanyak 30% dan pada penderita hepatitis C 80%.2

Angka prevalensi karier HBsAg di dunia bervariasi mulai kurang dari 0,5% di Eropa Barat dan Amerika Utara hingga 10%-15% di Afrika dan beberapa negara Asia. Di Indonesia, prevalensi infeksi HBV pada donor darah sekitar 2,4-9,1%,3 tetapi di beberapa daerah seperti Nusa Tenggara prevalensinya mencapai 17%. Prevalensi infeksi HCV di antara pendonor darah berkisar antara 0,1% – 0,3% di Eropa Barat dan Amerika Utara dan 1,2% di Jepang dan Eriopa Selatan. Di Indonesia, prevalensi HCV pada pendonor bervariasi antara 0,5-3,4%.3 Jumlah darah yang berhasil dihimpun oleh Unit Transfusi Darah Cabang (UTDC) PMI Cabang Kota Yogyakarta dalam 5 tahun terakhir rata-rata sebanyak 2.570 kantong per bulan yang terdiri dari 32% berasal dari pendonor darah sukarela dan 78% berasal dari pendonor pengganti,4 sedangkan prevalensi HBV dan HCV berdasarkan hasil skrining HBsAg dan anti-HCV dalam 5 tahun terakhir mengalami peningkatan.

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hepatitis B dan hepatitis C pada pendonor darah di Yogyakarta.

 

BAHAN DAN CARA PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan  studi potong lintang. Penelitian dilakukan di UTDC PMI Cabang Kota Yogyakarta. Subjek penelitian adalah pendonor darah di UTDC PMI Cabang Kota Yogyakarta yang memenuhi kriteria inklusi (umur 16-60 tahun, berat badan minimal 45 kg, kadar hemoglobin darah minimal 45 kg, kadar hemoglobin darah minimal 12,5 g% dan tekanan darah antara 110/60 – 160/90 mmHg) dan diambil dengan menggunakan metode systematic sampling, serta bersedia mengikuti penelitian.

Jumlah sampel untuk hepatitis B dan hepatitis C yang didapatkan pada penelitian ini sebanyak 805 orang. Variabel dependen adalah status infeksi hepatitis B dan status infeksi hepatitis C. Variabel independen adalah riwayat transfusi darah, riwayat penggunaan jarum suntik, riwayat pembuatan tato permanen, riwayat tindik, riwayat akupuntur, riwayat perawatan rongga mulut/dokter gigi, ada anggota keluarga yang menderita hepatitis, riwayat menggunakan alat cukur bergantian dan riwayat hubungan seks dengan bukan suami/istri. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat uji saring darah dan kuesioner. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat dan analisis multivariat dengan multiple logistic regression.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Distribusi dan karakter subjek penelitian.

Dari lima unit pelayanan transfusi darah yang dimiliki oleh PMI Cabang Kota Yogyakarta, jumlah donor terbanyak didapatkan di Unit RS Dr. Sardjito (52,0%). Hal ini sangat dimungkinkan karena RS Dr. Sardjito merupakan RS rujukan dari unit-unit pelayanan kesehatan yang lebih kecil, sesuai dengan filosofi sebagai RS yang memberikan pelayanan medik, rujukan medik dan kesehatan.5 Distribusi dan karakter subjek disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Karakteristik Subjek Penelitian

 
Sebagian besar pendonor adalah laki-laki (98,0%), hal ini disebabkan karena kriteria inklusi sebagai donor jarang bisa dipenuhi oleh perempuan. Umur pendonor terbanyak adalah antara 16-25 tahun (34,9%) yang merupakan usia remaja dan dewasa muda. Sebagian besar pendonor adalah karyawan kantor (33,8%) dan pelajar/mahasiswa (32,2%). Hal ini disebabkan karena adanya kelompok-kelompok pelajar/mahasiswa ataupun organisasi yang telah menyediakan diri untuk sewaktu-waktu dihubungi apabila diperlukan sebagai donor. Mayoritas pendonor bertempat tinggal di DIY (91,9%). Berdasar status donor terlihat bahwa 71,1% adalah donor darah pengganti yaitu pendonor darah yang mendonorkan darahnya karena darahnya dibutuhkan langsung oleh pasien tertentu, sedangkan donor sukarela yaitu pendonor darah yang mendonorkan darahnya tanpa tujuan pasien tertentu hanya mencapai 28,9%.
 
Metode skrining yang digunakan di unit-unit di RS (84,1%) menggunakan metode immunochromatography dengan reagensia HBsAg Strips Entebe untuk pemeriksaan HBsAg dan rapid test, dengan reagensia Acon HCV untuk pemeriksaan anti HCV. Metode Immunochromatography ini mempunyai level deteksi 4,03 ng/ml, sedangkan metode Enzyme Immuno Assay (EIA) yang kemampuan deteksinya 8 kali lebih tinggi yaitu 0,47 ng/ml hanya dilakukan di unit markas PMI (15,9%).1  Metode Immunochromatography dan Rapid test digunakan dengan pertimbangan lebih praktis dan lebih cepat, sehingga dalam keadaan permintaan darah/komponen darah atau jumlah pendonor darah jumlahnya banyak, serta tenaga yang minimal maka skrining dapat segera diselesaikan. Distribusi subjek menurut faktor yang berhubungan dengan kejadian hepatitis B dan hepatitis C disajikan pada Tabel 2.
 
Tabel 2. Distribusi subjek menurut faktor yang berhubungan dengan hepatitis B dan hepatitis C
 
 
Dari Tabel 2 terlihat bahwa persentase paparan terhadap faktor resiko yang berhubungan dengan hepatitis B dan hepatitis C yang terbanyak adalah riwayat pernah menggunakan jarum suntik (74,4%), riwayat pernah perawatan dokter gigi (57,5%) dan paling sedikit adalah riwayat pernah akupuntur (2,5%).
 
 
2. Faktor yang berhubungan dengan kejadian hepatitis B dan hepatitis C
 
Distribusi subjek menurut faktor yang berhubungan dengan kejadian hepatitis B dan hepatitis C seperti pada Tabel 3.
 
Tabel 3. Distribusi subjek menurut faktor yang berhubungan dengan hasil skrining HBsAg(+) dan anti-HCV(+)
 
Dari Tabel 3 terlihat bahwa pada beberapa kelompok sampel tidak dijumpai adanya HBsAg (+) yaitu pada jenis kelamin perempuan, pekerjaan sopir/kernet/kondektur, medis/paramedis, petani/buruh, asal donor dari luar DIY dan riwayat pernah membuat tato permanen, sedangkan hasil pemeriksaan anti HCV(+) hanya dijumpai pada jenis kelamin laki-laki, pelajar/mahasiswa, wiraswasta, donor asal DIY maupun luar DIY, kelompok umur 16-25 tahun, kelompok umur 26-35 tahun, donor pengganti dan sukarela, riwayat pernah menggunakan jarum suntik, riwayat pernah membuat tindik, riwayat perawatan dokter gigi, riwayat menggunakan sikat gigi dan alat cukur bergantian dan riwayat pernah berhubungan seks dengan bukan suami/istri.
 
 
3. Analisis univariat dan multivariat
 
Hasil analisis univariat dan multivariat terhadap faktor yang berhubungan dengan kejadian HBV dan HCV terdapat pada Tabel 4.
 
Tabel 4. Analisis univariat dan multivariat faktor yang berhubungan HBV
Catatan : Untuk variabel demografi, yang menjadi kelompok referen adalah pekerjaan karyawan kantor, kelompok umur 16-25 tahun dan status donor sukarela.
 
Tabel 5. Analisis univariat dan multivariat faktor yang berhubungan HCV
Catatan : Untuk variabel demografi, yang menjadi kelompok referen adalah kelompok umur 16-25 tahun dan status donor sukarela.
 
Dari hasil analisis univariat dan multivariat terhadap faktor yang berhubungan dengan kejadian hepatitis B dan hepatitis C didapatkan 1 variabel yang bermakna secara statistik, yaitu riwayat pernah berhubungan seks dengan bukan suami/istri.
 
 
1. Distribusi dan Karakter Subjek
 
Prevalensi HBsAg positif pada penelitian ini sebesar 2,2% dan anti-HCV positif sebesar 0,6 %. Hasil penelitian ini lebih besar dari data sebelumnya yang diperoleh dari laporan UTDC PMI. Adanya perbedaan dimungkinkan karena adanya perbedaan sumber data, dimana data sekunder diperoleh dari rekapitulasi dari buku laporan afftap dari masing-masing unit, sedangkan sumber data penelitian berasal dari buku laporan skrining. Dari pengamatan di tempat penelitian, ditemukan adanya perbedaan data antara catatan hasil skrining pada buku afftap dengan catatan hasil skrining pada buku laporan skrining yaitu data catatan hasil skrining pada buku laporan skrining. Hal ini terjadi karena pencatatan pada buku afftap dilakukan oleh petugas afftap setelah donor diambil darahnya tanpa menunggu hasil skrining dan pencatatan hasil skrining oleh petugas skrining. Oleh karena petugas afftap dan petugas skrining berbeda maka sering terjadi setelah hasil skrining didapatkan dan dicatat langsung pada buku laporan skrining tidak semuanya dipindahkan pada buku laporan afftap. Kejadian tersebut terjadi terutama pada saat jumlah pendonor banyak dan bersamaan dengan akhir jam pergantian petugas jaga.
 
Hasil prevalensi pada penelitian ini hampir sama dengan laporan Gogos, dkk.8, yang melakukan penelitian pada populasi umum dan kelompok tertentu di Perancis Barat Daya menemukan prevalensi HBsAg positif sebesar 2,1% dan anti HCV positif sebesar 0,5%, sedangkan Budihusodo, dkk.3, yang melakukan penelitian pada pendonor darah di Jakarta mendapatkan prevalensi yang lebih tinggi yaitu 5,7% untuk HBsAg dan 1,9% untuk anti-HCV. Dengan demikian berdasarkan kriteria endemisitas dari WHO maka di Kota Yogyakarta termasuk daerah endemis sedang untuk hepatitis B (2-10%) dan endemis rendah untuk hepatitis C(<2%).
 
Sebanyak 74,4% responden yang pernah terpapar jarum dan 5,5% pernah menerima transfusi karena penyakit demam berdarah dan kecelakaan lalu lintas. Responden yang pernah mendapatkan suntikan menyatakan bahwa penyuntikan tersebut dilakukan oleh petugas kesehatan dan menggunakan jarum disposibel. Sebanyak 33 orang (4,1%) menjawab pernah membuat tato permanen pada tubuh, dimana ada 18,8% menjawab tidak menggunakan jarum sekali pakai, dari 92 orang (11,4%) yang pernah melakukan tindik pada tubuh, 6,5% diantaranya tidak menggunakan jarum sekali pakai, dan 20 responden pernah mendapatkan terapi akupuntur yang seluruhnya mengaku menggunakan jarum sekali pakai. Kecilnya persentase pembuatan tato dan tindik dimungkinkan karena budaya tersebut tidak lazim dilakukan pada masyarakat umum di DIY. Budaya tindik di DIY umumnya hanya dilakukan pada wanita, sedangkan pada penelitian ini 98,0% responden adalah laki-laki. Persentase subjek yang terpapar faktor resiko pada penelitian ini jauh lebih rendah dari penelitian Nishioka dkk.9, yang meneliti di Brazil bahwa 52,8% memiliki tato dan 37,1% pernah membuat tindik, sedangkan untuk riwayat akupuntur hampir sama yaitu 2%, sedangkan Shin dkk.10, di Korea mendapatkan 65% dengan riwayat akupuntur.
 
Sebanyak 56,6% responden menyatakan pernah mendapat perawatan dokter gigi. Hal ini karena sarana pelayanan kesehatan sudah banyak dan terjangkau, serta didukung kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan gigi dan mulut, sehingga jumlah masyarakat yang mendapat pelayanan tersebut sudah banyak. Dari 33 responden yang menjawab bahwa anggota keluarganya pernah menderita hepatitis, persentase penderita terbanyak adalah adik/kakak (57,6%) diikuti orang tua (24,2%), anggota keluarga lain (15,2%) dan suami/istri (3,0%). Sedangkan berdasarkan riwayat pernah menggunakan sikat gigi secara bergantian (32,8%) kebanyakan terjadi di rumah dan diasrama untuk TNI/Polri, sedangkan penggunaan alat cukur bergantian (38,2%) kebanyakan terjadi di rumah dan tempat potong rambut/salon, dan sebanyak 89 orang (11,1%) mengaku pernah berhubungan seks dengan bukan suami/istri, dan menurut pengakuan responden yang berstatus menikah. Hal ini lebih banyak dilakukan pada waktu belum menikah.
 
 
2. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hepatitis B dan hepatitis C
 
Dari hasil penelitian setelah dilakukan analisis univariat dan multivariat ternyata yang berhubungan bermakna secara statistik dengan kejadian hepatitis B hanya riwayat hubungan seks dengan bukan suami/istri yaitu bahwa orang yang pernah melakukan hubungan seks dengan bukan suami/istri mempunyai resiko 5,85 kali lebih besar untuk menderita hepatitis B daripada orang yang tidak melakukan hubungan seks dengan bukan suami/istri. Hasil ini sama dengan penelitian sebelumnya, antara lainLong dkk.11, yang menyatakan bahwa riwayat hubungan seks dengan > 1 orang bermakna secara statistik. Yusuf12 yang melakukan penelitian di Klaten Jawa Tengah menemukan bahwa tidak ada hubungan antara penggunaan jarum suntik dengan kejadian hepatitis B. Nishioka dkk.9, yang melakukan penelitian di Brazil menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pembuatan tato dengan kejadian hepatitis B dan Roy dkk.13, yang melakukan penelitian di Kanada menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pembuatan tato dan tindik dengan kejadian hepatitis B. Demikian juga hasil penelitian Ernst dan Sherman14 yang melakukan review pada 16 studi yang pernah dilaporkan  tidak ada yang melaporkan bahwa ada hubungan antara akupuntur dengan hepatitis B. Sedangkan McCarthy15 yang menulis tentang resiko penularan virus pada praktek kedokteran gigi menyatakan bahwa kejadian hepatitis B berhubungan dengan pelayanan dokter gigi hanya terjadi apabila kontrol infeksinya buruk.
 
Berdasarkan hasil analisis univariat dan multivariat ternyata yang berhubungan bermakna secara statistik dengan kejadian hepatitis C juga riwayat hubungan seks dengan bukan suami/istri. Hasil penelitian faktor yang berhubungan bermakna adalah riwayat hubungan seks bukan suami/istri ini sesuai dengan penelitian sebelumnya antara lain penelitian yang dilakukan oleh Brandao dan Fuchs16 pada pendonor darah di Brazil mendapatkan hasil hubungan seksual dengan 2-4 orang memiliki resiko 13,2 kali (95%CI 4,0-47,7) untuk menderita hepatitis C, sedangkan Guevera dkk.17, yang melakukan penelitian pada pendonor darah di kota Mexico mendapatkan OR=7,48; 95%CI 1,43-38,91 untuk hubungan sekusal di prostitusi. Hepburn dan Lawitz18 yang melakukan penelitian pada penduduk perkotaan di Haiti mendapatkan hasil OR untuk faktor resiko pasangan seksual lebih dari 2 orang yang lebih kecil yaitu sebesar 1,1; 95% CI 1,04- 1,20. Peneliti lainnya yaitu Kao dan Chen19 menyatakan bahwa transmisi hepatitis C di Asia melalui nosokomial (antara lain perawatan dokter gigi), akupuntur, tato, kontak rumah tangga dan paparan seks adalah faktor resiko mungkin (possible), sedangkan faktor resiko yang pasti (definite) adalah transfusi, Injection Drug Usage (IDU) dan transplantasi organ. Sedangkan pada penelitian ini didapatkan bahwa semua kontak jarum suntiik adalah melalui petugas kesehatan dan dengan alat suntik disposabel. Brandao dan Fuchs16 dalam penelitiannya pada pendonor darah di Brazil menemukan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara akupuntur dengan hepatitis C. Penelitian pada karyawan perusahaan menemukan bahwa hubungan seks dengan > 1 orang secara statistik tidak berhubungan bermakna dengan kejadian hepatitis C. Adanya perbedaan hasil penelitian faktor yang berhubungan dengan hepatitis C ini dengan penelitian Syspa dkk20, sesuai dengan pernyataan Smikle dkk21, yang menyatakan bahwa transmisi HBV dan HCV berbeda antar negara. Di beberapa negara penularan HBV dan HCV berhubungan dengan IDU, di negara lain HBV berhubungan dengan transmisi seksual dan transmisi seksual HCV masih diperdebatkan.
 
 
KESIMPULAN DAN SARAN
 
Kesimpulan
 
Prevalensi hepatitis B pada pendonor darah di PMI Cabang Kota Yogyakarta adalah 2,2% dan 0,6% untuk hepatitis C. Hasil analisis multivariat faktor yang berhubungan dengan kejadian hepatitis B dan hepatitis C pada pendonor darah di PMI Cabang Kota Yogyakarta adalah riwayat pernah hubungan seks dengan bukan suami/istri.
 
Saran
 
Dalam upaya menurunkan prevalensi hepatitis B dan hepatitis C oleh lembaga-lembaga terkait, baik melalui upaya preventif  maupun kuratif, perlu dilakukan penyebarluasan informasi mengenai faktor resiko hepatitis B dan hepatitis C kepada masyarakat pada umumnya dan pada kelompok dengan resiko tinggi pada khususnya. Selain itu, sosialisasi tentang upaya pencegahan penularan hepatitis B dan hepatitis C dengan cara berhubungan seks hanya dengan suami/istri, serta peningkatan kinerja petugas UTD dalam hal pencatatan sehingga data yang dicatat pada semua jenis laporan sama.
 
 
KEPUSTAKAAN
 
  1. Suwarso, Endang, TP, dan Budi, M. Sensitivitas Rapid Test untuk mendeteksi Hepatitis Survace Antigen (HBsAg) pada Penderita Hepatitis B, Berkala Ilmu Kedokteran, 1996;28 (3), 109-114.
  2. CDC, Hepatitis (fac sheet). www.cdc.gov/hepatitis. 2004
  3. Budihusodo, U., Sulaiman, HA., Akhbar, HN., Lesmana, LA., Waspodo, AS., Noer, HMS., Akahane, Y., Suzuki, H. Seroepidemiology of VHB dan VHC infection in Jakarta Indonesia. Gastroenterologia Japonica. 1991;26 (supp III): 196-201.
  4. UTDC PMI Cabang Kota Yogyakarta. Laporan Unit Transfusi Darah Tahun 1999 sampai dengan tahun 2003. Yogyakarta. 2003.
  5. Sarjito RS. SK Direktur RS Dr Sardjito Nomor:OT 01.31.5.0067 tahun 2003 tentang Filosofi, Visi, Misi, Maksud dan Tujuan, Arah, Strategi, Budaya Kerja dan Motto RS Dr Sardjito. 2003.
  6. Hosmer, D.W. & Lemeshow, S. Applied Logistic Regression, School of Public Helath Science University of Massachusets, Anherst, Massachusets. 1989.
  7. Kleinbaum, D.G. Logistic Regression A Self-Leraning Text. Department of Epidemiology Emory University Atlanta. USA. 1994.
  8. Gogos, C.a., Fouka, K.p., Nikiforidis,G., Avgeridids, K., Sakellaropoulus, G., Bassaris, H., Maniatis, A., dan Skoutelis, A. Prevalence of Hepatitis B and C Virus Infection in General Population and Selected Group in South-Western Greece. European Journal of Epidemiology.2000; 18:551-7.
  9. Nishioka, S., Gyiorkos, T.W.G., Joseph,L., Collet, J.P. dan MacLean, J.D. Tattoing and Transfusion-transmited Disease in Brazil: A Hospital-Based Cross-Sectional Matched Study.2003;18 441-9.
  10. Shin, H.R., Kim, J. Y., Lee, D.H., Yoo, K.Y., Lee, D.S., dan Franceschi, S. Hepatitis B dan C Virus Prevalence in a Rural Area of South Korea: the role of acupuncture. British Journal of Cancer. 2002; 87:314-8
  11. Long, J., Allwright, S. Barry, J., Reynolds, S.R., Thornton, L., Bradlet, F, dan Parry, J, V. Prevalence of Antibodies to Hepatitis B, Hepatitis C and HIV and Risk Factors in Entrants to Irish Prisons a National Cross Sectional Survey. BMJ. 2001;323:1-5.
  12. Yusuf. Hubungan antara Penggunaan Jarum Suntik dan Jarum Lain dengan kejadian Hepatitis B Virus. Berita Kedokteran Masyarakat. 1991; VII (2): 60-63.
  13. Roy, E., Haley, N., Lemire, N., Boivin, J.n., Leclerc, P dan Vincelettw, J. Hepatitis B Virus Infection Among Street Youth in Montreal. Canadian Medical Association Journal. 1999; 161(6): 689-93.
  14. Ernst & Sherman Kj. Is Acupuncture a Risk Factor for Hepatitis? Systematic Review of Epidemiological Studies. Journal of Gastroenterology and Hepatology. 2003; 18(11): 1231.
  15. Mc Carthy, G.M. Risk of Transmission of Viruses in The Dental Office. J Can Dent Assoc. 2000;66: 554-7.
  16. Brandao, A. & Fuchs, S, C. Risk Factors for  Hepatitis C Virus Infection Among Blood Donors in Shouthern Brazil: A Case Control Study. BMC Gastroenterology.2002;2-18.
  17. Guevara, L.,Gomez, P.N., Cantarell, V., Mendez, G. & Di Silvio. Prevalence and Risk Factor for Hepatitis C in Blood Donors (Abstrak). Rev Gastroenterol Mex. 2002; 67(1):11-6.
  18. Hepburn, M.J. & Lawitz, E.J. Seroprevalence of Hepatitis C and Associated Risk Factors among Urban Population in Haiti. BMG Gastroenterology. 2004;4-31.
  19. Kao, J. & Chen, D. Transmission of Hepatitis C Virus in Asia: Past and Present Perspective. Journal of Gastroenterolog and Patology 15 (suppl.) 2000; E91-E96.
  20. Sypsa, V., Hadjipaschali, E., Hatzakis, A. Prevalence, Risk Factor and evaluation of Screening Strategy for Hepatitis B and C Virus Infection in Healthy Company Employees. European Journal of Epidemiology. 2001; 17:721-8.
  21. Smikle, M. Dowe, G., Hylton-Kong, T and Williams, E. Hepatitis B and C Viruses and Sexually Transmitted Disease Patients in Jamaica. Sexually Transmitted Disease. 2001; 77: 295-6.
 
——- end