Tantangan Kepemimpinan Era Milenium Ke Tiga

Tantangan Kepemimpinan Era Milenium Ke Tiga

Ditulis oleh : Edhie Purwanto (Ketua Yayasan Budi Lukmanto, Staf pengajar Universitas “BINA NUSANTARA”

Seorang pernah mengeluh kepada saya tentang kualitas/produktivitas. SDM yang dimilikinya. Pendekatan ke-sisteman sudah dilakukan (Rekrutmen, imbal jasa, pelatihan, pengembangan). Infrastruktur/Rel sudah dibangun ,di-evaluasi dan diperbaiki terus menerus bahkan diskusi kelompok dilakukan untuk memperbaiki sistem.

Nilai-nilai yang dituliskan dalam misi perusahaan jelas dan dipasang dilokasi strategis perusahaan, tetapi komitmen mereka untuk bekerja optimal masih terasa kurang, kalaupun ada hanya bersifat temporer –pas sedang hangat-hangatnya-, sehingga investasi besar yang sudah dikeluarkan tidak ada hasil yang memadai.

Terkesan misi tersebut seperti slogan yang sudah dicanangkan, dibuat dengan tulisan yang indah bahkan melalui peresmian tetapi tidak ada realitanya. Seperti keinginan untuk meningkatkan etos kerja melalui Gerakan Peningkatan Kualitas Kerja, aturannya jelas, pelaksanaanya tidak sesuai rencana. Bila hanya menyalahkan satu pihak saja (pengontrol/pengawas) , rasanya kurang bijaksana.

Apa yang mendasari permasalahan tersebut ?, kata kunci dalam pelaksanaan sistem ada di Kepemimpinan. Di dalam setiap perusahaan selalu ada pemimpin,  mereka selalu memiliki bawahan ,adalah orang yang berperan dalam berhasilnya  sistem dalam mencapai apa yang diinginkan melalui visi dan misi perusahaan. Mereka harus kompak dan bisa bersinergi (1 + 1 > 2) sebaik apapun dan dari bahan apapun rel yang dibangun, kereta yang berjalan diatasnya, dan sang masinis yang lebih menentukan bagaimana kereta sampai ke tujuan.

Dalam era demokrasi yang hampir dapat dikatakan kebablasan ini, dimana setiap orang atau karyawan lebih berani untuk menyuarakan aspirasinya,  pemimpin yang tidak siap akan digoyang oleh para karyawannya sendiri, para karyawan meminta pergantian pimpinan yang lebih sesuai dengan situasi sekarang ini. Pemimpin-pemimpin seperti bagaimanakah sebenarnya yang dibutuhkan secara tepat untuk diharapkan mampu membawa perubahan sehingga tercapai keadaan saling menguntungkan.

Menurut pengamatan saya ada 3 (tiga) hal tantangan kepemimpinan.

1. Pemimpin dengan kecerdikan.

Seorang pemimpin biasanya  memiliki kelebihan dibanding orang lain, kelebihan untuk melihat ke depan, mampu melihat peluang yang mungkin tidak dilihat oleh orang lain. Itulah kecerdikan seorang pemimpin, mampu melihat kemana perusahaan atau organisasi, dua, lima bahkan sepuluh tahun mendatang. Tidak hanya itu, biasanya ia mampu melihat rintangan dan cepat melakukan antisipasi, kemudian mengilhamkan kepada para pengikut untuk mengatasi dan mencapai apa yang diinginkannya.

Dalam situasi krisis yang masih belum kunjung selesai sekarang ini, pemimpin dengan kecerdikan itulah yang diperlukan, untuk melihat peluang ke depan, antisipasi rintangan dari pesaing maupun lingkungan, memikirkan strategi dan kemudian menginspirasikan kepada pengikutnya.

2. Pemimpin dengan keteladanan.

Era sekarang adalah betul-betul era demokrasi, seorang pemimpin tidak bisa lagi memimpin dengan kata-kata, memberikan instruksi untuk disiplin sedangkan ia sendiri tidak disiplin, hingga dipertanyakan apakah hanya pemimpin yang boleh tidak disiplin. Di era orde baru pengikut tidak berani bicara, sekarang mereka berani untuk mengemukakan pendapat. Para pengikut mengikuti pemimpin dengan mata dan telinga.

Bagaimana kita bisa memberantas korupsi kalau pimpinannya korupsi. James M. Kouzes dan Barry Z. Posner, pakar kepemimpinan, mengatakan, pemimpin berjalan lebih dulu, mereka memberikan contoh dan membina komitmen melalui tindakan sehari-hari. Apa yang mereka perbuat jauh lebih penting dari yang mereka katakan dan harus konsisten dengan apa yang mereka katakan.

3. Pemimpin dengan keterbukaan.

Seorang pakar komunikasi dan motivasi Joe-Harry, yang cukup kita kenal dengan teori “Johary Window”-nya, mengatakan, jadilah pemimpin yang pantas dihormati dan diterima oleh pengikut bukan karena jabatan anda, tetapi memang anda pantas untuk dihormati.

Pemimpin dengan keterbukaan adalah sosok pemimpin yang memperbesar daerah keterbukaan (Saya tahu – Orang lain tahu), berani menerima kritik dan memberikan saran untuk membangun sebuah team yang solid. Ia tidak hanya memberikan instruksi atau perintah, tetapi juga mendengar kesulitan yang dialami selama menjalankan instruksi tersebut. Intensitas interaksi pemimpin dengan pengikut ditingkatkan. Ia sadar tanpa pengikut idenya tidak akan bisa diwujudkan. Pengikutnya memiliki kecenderungan menjalankan ide pemimpin dengan keterlibatan emosional, dengan sepenuh hati cenderung menyelesaikan tugas tanpa hitung-hitungan.

Tanpa keterbukaan, seorang pemimpin akan digoyang oleh pengikutnya, mereka secara perlahan melakukan provokasi terhadap karyawan lainnya, membesarkan kelemahan pemimpin ke permukaan dan akhirnya semua pihak dirugikan. Kalau kita amati secara kasar, banyak pemimpin yang ada saat ini sangat tertutup, mereka ingin para pengikutnya hanya mengangguk dan menjalankan perintah, orang yang membantah dan mengkritik dianggap orang yang tidak pantas menjadi pengikut. Perilaku tersebut hanya menghasilkan produktivitas jalan di tempat.

Banyak hal lain yang bisa dipelajari oleh para pemimpin di manapun ia bertugas, apa yang saya kemukakan hanyalah sebagian kecil, tetapi intinya adalah ajakan untuk kita  yang bertugas sebagai pemimpin, untuk mulai menyadari situasi krisis yang menimpa negara kita dan di dalam organisasi / perusahaan untuk mulai  melihat ke depan, dalam persaingan yang semakin ketat, sebab tanpa pimpinan dengan kualitas pemimpin, kita akan kalah.

 

—– end