banner
banner

Partners

banner
 
 

Artikel Bebas

Farmacia, Gerai : Harapan Bagi Penyandang Hepatitis B Print E-mail

Sumber : FARMACIA, Gerai (Desember 2006/Vol 6 no.5)

 

Terapi hepatitis B tidak memulihkan kondisi seperti sedia kala, namun penekanan jumlah virus diyakini mampu melambatkan laju komplikasi.

Hepatitis B masuk dalam daftar sebagai penyakit penyebabkematian ke-10 di dunia. Gangguan kesehatan ini mengenai organ hati yang terpicu oleh keberadaan virus hepatitis B. Diagnosa ditegakkan dengan pemeriksaan kadar HBV DNA dan kadar ALT (Alanine Aminotransferase) yang merupakan penanda khas naiknya enzim liver.

Penyakit ini jika tidak ditangani dengan baik dapat berkembang menjadi lebih parah dengan terjadinya fibrosis, sirosis, disfungsi liver hingga kanker hati yang menuntut tindakan transplantasi hati.

Kehadiran hepatitis B terkadang disertai gejala namun kebanyakan justru tanpa gejala (asymptomatik). Data dunia menyebut ada sekitar 350 juta orang penderita hepatitis. Angka untuk Indonesia diperkirakan terdapat sebanyak 11 juta jiwa. Hepatitis B juga diketahui sebagai jenis hepatitis terganas dan mudah ditularkan. Gejala yang kerap menandai kehadiran hepatitis B antara lain, kekuningan pada mata dan kulit (jaundice), kelelahan, sakit perut, nafsu makan menurun, mual, muntah dan sakit persendian.

Hepatitis B kronis terjadi sekitar 1 % di negara Eropa Barat dan Amerika Utara. Tetapi tren peningkatan imigran memperlihatkan kenaikan jumlah penderita hepatitis B kronis. Sekitar 1,25 juta penderita hepatitis B kronis di Amerika Serikat, setengahnya merupakan warga keturunan Asia atau kepulauan pasifik.Prevalensi yang lebih besar ditunjukkan oleh kawasan Asia, dengan perkiraan angka pengidap sekitar 78 % dari semua kasus hepatitis B kronis di dunia.Terjadi sekitar 360.000 kematian setiap tahunnya disebabkan hepatitis B kronis pada sejumlah negara Asia Timur (Cina, Hongkong, Jepang dan korea). Cina daratan memiliki penderita hepatitis B kronis terbesar sekitar 120 juta jiwa (9,8 %) dan 30 juta jiwa carrier hepatitis B kronis.

Kongres Hepatitis I yang turut diprakarsai oleh Perhimpunan Pecinta Hati Indonesia (PPHI) berlangsung pada 11 November lalu di  Intercontinental Mid Plaza, Jakarta. Dalam kesempatan tersebut dipaparkan banyak kemajuan dalam penanganan hepatitis B, termasuk pada diagnosa, vaksin dan tren pengobatan baru.

Dengan keparahan yang terjadi akibat komplikasi hepatitis B, edukasi agaknya menjadi sisi yang masih harus digiatkan. Terlebih minimnya pengetahuan awam kepada celah penularan yang terbilang sebagai hal yang sederhana seperti, meminjam pemotong kuku, meminjam alat cukur atau benda tajam dengan penderita hepatitis B. Meski penularan hepatitis B ini memang hanya melalui perpindahan cairan tubuh, seperti plasma darah, saliva dan sperma. Sehingga perlu diwaspadai prosedur kesehatan yang menggunakan benda tajam seperti tindakan injeksi, pemberian infus. Hepatitis B juga dapat ditularkan secara parental dari ibu ke anak yang tengah dikandungnya. "Pengobatan hepatitis B bukan merupakan upaya penyembuhan total melainkan supresi virus. Supresi virus ini yang akan menunda perkembangan penyakit menuju sirosis, memperbaiki survival, menurunkan resistensi penyakit, memperbaiki jaringan liver, dan menormalisasi kadar ALT," jelas Prof. L.A Lesmana.

Hepatitis B kronis dapat dibagi menjadi hepatitis B dengan HBeAg positif atau HBeAg negatif. Perbedaan klinis dari keduanya mempengaruhi pengelolaan penyakitnya. Antigen E pada HBeAg merupakan protein virus yang dikeluarkan oleh sel yang terinfeksi HBV. Keberadaannya sering kali dihubungkan dengan jumlah virus yang tinggi dalam serum darah, jika tidak diobati. Pasien dengan HBeAg positif lebih responsif terhadap pengobatan. Salah satu tujuan dari pengobatan hepatitis B adalah mencapai serokonversi dari HBeAg positif menjadi anti HBeAg positif.

Sementara pada HBeAg negatif penyakit liver biasanya lebih aktif denganluka hati yang lebih parah. Pasien dengan HBeAg negatif juga lebih potensial untuk berkembang menjadi sirosis, dibandingkan pasien dengan HBeAg positif. Strain virus ini umumnya lebih resisten terhadap pengobatan. Dan hepatitis dengan kondisi HBeAg negatif tidak bisa mencapai serokonvers, sehingga tujuan pengobatan hepatitis B diarahkan kepada normalisasi kadar ALT dan HBV DNA yang tidak terdeteksi pada pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction).

Pengobatan pada hepatitis B antara lain dengan menggunakan interferon(IFN), interferon pegilasi, antiviral baik lamivudine, adefovir, entecavir atau yang terbaru adalah telbivudine. Telbivudine telah mendapat izin dari FDA Amerika pada oktober 2006.

Telbivudine telah dievaluasi efikasi dan keamanan dalam sebuah studi bertajuk GLOBE. Studi GLOBE merupakan studi fase IIIb dengan melibatkan sebanyak 1.367 peserta. Peneliti studi Globe yang juga hadir dalam kongres hepatis kemarin adalah Prof. Anuchit Chutaputti dari Phramongkutklao Hospital Bangkok dan Prof. Lim Seng Gee dari national University Hospital Singapura turut memberi penjelasan dihadapan media adalah Prof. L.A Lesmana, ketua PPHI yang juga guru besar FKUI.

Studi GLOBE berlangsung selama dua tahun mengevaluasi khasiat pemberian telbivudine dibandingkan dengan pemberian lamivudine. Tampak perbaikan yang diperlihatkan dari penurunan jumlah virus hingga tidak terdeteksi (PCR negatif) sebesar 56 % berbanding 39 % pada pasien dengan HBeAg positif. Sebesar 82 % berbanding 57 % pada pasien dengan HBeAg negatif.

Dalam studi ini, telbivudine memperlihatkan respon terapetik yang lebih unggul (primary efficacy endpoint) sebesar 64 % pada pasien dengan HBeAg positif berbanding sebesar 48 % pasien yang menerima lamivudine. Sementara respon terapetik pada pasien dengan HBeAg negatif tercatat sebesar 78 % berbanding 66 % pada pasien penerima lamivudine.

Hasil studi selama setahun pada pasien dengan HBeAg positif penerima telbivudine memperlihatkan respon terapetik yang lebih tinggi dibandingkan pasien penerima lamivudine, yakni 75 % berbanding 65 %. Sedikit berbeda dalam hal respon terapi pada pasien dengan HbeAg negative, yakni 75 % berbanding 77 %. Secara keseluruhan, endpoint terapetik tercatat merupakan kombinasi antara penekanan virus hingga kurang dari 100.000 kopi/mL, perbaikan penanda penyakit hati dilihat dari normalisasi ALT/SGPT atau hilangnya antigen E Hepatitis B (HBe-Ag).

Penurunan virus yang tampak pada PCR negatif tercapai sebesar 44 % pada kelompok telbivudine berbanding 32 % pada kelompok lamivudine dengan HBeAg positif. Serta kelompok telbivudine unggul sebesar 80 % berbanding 71 % pada kelompok lamivudine dengan HBeAg negatif. Tingkat serokonversi oleh semua kelompok dalam studi ini tercapai sebesar 46 %.

"Dengan hasil studi ini, tentunya diharapkan dapat menyingkat masa terapi yang selama ini cukup panjang bagi pasien Hepatitis B", sela Prof. Lim Seng Gee. Prof. L.A Lesmana menyambut gembira terhadap hasil studi yang juga telah disampaikan dalam pertemuan tahunan ke-57 American Association for the Study of Liver Disease (AASLD) di Boston, akhir Oktober lalu. "Penekanan virus hepatitis B yang signifikan dari telbivudine, dapat menjadi bagian solusi untuk pasien hepatitis B", lanjut Prof. Lesmana.

 ------ end

 

 

 

Dibaca 7619 kali.
 

Berbagi Bersama Kami

banner

Partners

Media Sosial

 

Visitor Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini541
mod_vvisit_counterKemarin639
mod_vvisit_counterMinggu Ini1884
mod_vvisit_counterBulan Ini13559