banner
banner

Partners

banner
 
 

Artikel Bebas

Program B-Care Print E-mail

AJAK MASYARAKAT PEDULI HEPATITIS B, Suara Karya On line , 8 Maret 2006

Satu kesadaran baru tentang penyakit Hepatitis B agaknya perlu dibangun di kalangan keluarga Indonesia. Bukan karena hepatitis B telah menjadi masalah kesehatan global yang telah diidap hampir 2 miliar orang, tetapi juga karena Indonesia termasuk daerah endemis sedang-tinggi yang mana prevalensi HbsAg (+) di kalangan individu sehat sudah mencapai 3,17 persen

"Bila tidak diantisipasi sejak dini, penyakitnya akan berkembang menjadi hepatitis B kronis yang sangat beresiko terkena sirosis atau kanker hati" kata Prof Dr. Ali Sulaiman SpPD KGEH, ketua divisi hepatologi FKUI-RSCM dalam acara seminar sekaligus peluncuran program B-Care -- satu program kampanye untuk membangun kesadaran masyarakat tentang bahaya hepatitis B, di Jakarta. Program B-Care digagas Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) dan 2 perusahaan farmasi kelas dunia GlaxoSmithKline dan Dexa Medica.

Program tersebut akan terus dikumandangkan, terutama di komunitas risiko tinggi, sehingga timbul kewaspadaan dan pengetahuan masyarakat tentang Hepatitis B, serta dapat menekan jumlah penderitanya dan kerusakan hati yang lebih parah.Seperti dikemukan dr Irsan Hasan SpPD, Humas PPHI bahwa program B-Care juga memiliki sejumlah pelatihan untuk meningkatkan kompetensi dokter-dokter dalam menangani pasien-pasien hepatitis B. Peningkatan kemampuan itu diharapkan akan berdampak pada pelayanan pasien yang lebih baik, sehingga dapat menekan insiden hepatitis B.

"Melalui program ini, mereka yang beresiko tinggi diberikan pengetahuan yang cukup mengenai hepatitis B sehingga mereka dapat bersikap dengan benar. Bagi mereka yang terinfeksi dapat mengetahui penatalaksanaan yang tepat sehingga risiko penurunan fungsi hati, baik sirosis maupun kanker hati dapat di minimalisir" kata dr Irsan Hasan SpPD, humas PPHI.

Menular Lebih Cepat

Prof. Ali Sulaiman menjelaskan, hepatitis B merupakan penyakit serius yang disebabkan virus Hepatitis B (VHB). VHB bekerja dengan merusak hati secara tidak langsung melalui gangguan sistem kekebalan/imun. Kemudian virus tersebut menggerogoti tubuh melalui infeksi yang berkepanjangan, sirosis hati, kanker hati dan berujung pada kematian.

"Karena virus hepatitis B dapat bertahan hingga beberapa minggu di luar tubuh manusia, maka penularan virus ini sangat cepat yaitu 100 kali lebih cepat dari virus HIV/AIDS" katanya. Hati adalah organ tubuh yang paling luas, letaknya di sebelah kanan atas dari perut, dan di bawah tulang rusuk. Hati terbentuk dari sel-sel yang disebut hepatocytes kemudian membentuk kelompok-kelompok yang disebut lobules. Hepatocytes melakukan lebih dari 500 fungsi vital dan kompleks, diantaranya, memproses penyerapan nutrisi, menyimpan vitamin dan sumber energi, membuang racun-racun yang dapat membahayakan.

Jika fungsi hati terganggu -- seperti karena penyakit atau akibat mengkonsumsi alkohol dalam waktu yang lama -- racun dan produk tak berguna menumpuk dalam tubuh, vitamin penting yang tersimpan akan habis dan akan mengakibatkan kekurangan nutrisi yang diperlukan oleh tubuh.

Cara penularan virus hepatitis B sangatlah mudah yaitu melalui cairan tubuh dari seseorang yang terinfeksi seperti melalui cairan tubuh dari kulit yang terluka, air mani, air ludah dan cairan tubuh lainnya.

Mereka yang beresiko tinggi adalah bayi yang baru lahir dari ibu yang sudah terinfeksi, hubungan seksual yang tidak aman dengan orang yang terinfeksi, penggunaan pisau cukur, jarum suntik, tindikan, tato, sikat gigi, jarum suntik, juga minum dalam gelas yang sama secara bergantian.

Bahayanya lagi, ditambahkan Prof Ali Sulaiman, penyakit itu tidak memiliki gejala yang jelas dan hanya sedikit yang menunjukan gejala kuning pada mata dan kulit, lesu, tidak nafsu makan dan mual. "Sehingga acap kali pengidapnya tidak mengetahui bahwa dirinya mengidap VHB dan tanpa disadari menularkan kepada orang lain. Diagnosa yang tepat hanya bisa dilakukan melalui pemeriksaan darah dan pemeriksaan tambahan lainnya yang dapat membantu ditemukannya kerusakan pada hati," katanya.

Cara pencegahan yang dianjurkan adalah menjalani hidup sehat, menghindari penularan virus Hepatitis B, serta melakukan vaksinasi/imunisasi. Melakukan imunisasi hepatitis B secara lengkap (3 kali suntikan dalam rentang waktu yang berbeda) dapat mencegah terinfeksi virus hepatitis B hingga lebih dari 95 persen.

Penatalaksanaan HB

Dikemukakan, berbagai macam terapi dikembangkan untuk mengobati  pasien dengan kondisi hepatitis kronik, terutama untuk mencegah semakin bertambahnya jaringan hepar yang rusak. Dewasa ini ada 2 modalitas utama golongan obat hepatitis B kronik, yaitu, immunomodulator yang meliputi semua bahan yang memacu respon imun guna menghancurkan sel hati yang terinfeksi dengan virus hepatitis B dan membersihkan hati dari virus.

"Golongan immunomodulator meliputi FIN alfa, dan Thymosin alfa 1, " kataProf Ali Sulaiman. Terapi lainnya adalah Viral Supressor yang meliputi analog sintetik dari bahan pembentuk virus hepatitis B yang nantinya akan menghalangi replika virus. Obat-obatan yang dikenal pada terapi itu adalah Lamivudine (3TC) dan satu obat hepatitis generasi terbaru bernama Adefovir dipivoxil dengan merek dagang Hepsera. "Penggunaan viral supressor, Lamivudine telah menunjukan kemampuan dalam menekan resiko terjadinya kanker hati pada pasien-pasien dengan kondisi dekompensasi awal. Namun, pemakaian Lamivudine pada penderita infeksi VHB kronis dengan HbeAg positif dapat menimbulkan resistensi obat, jika terapi yang efektif lainnya tidak dilakukan," ujarnya.

Berkat kemajuan teknologi kedokteran, obat hepatitis generasi baru adefovir dipivoxil -- suatu analog nukleosida -- menunjukan hasil yang baik pada pasien VHB kronis dan tidak menunjukan resistensi. "Pengobatan dengan adefovir yang memiliki merek dagang Hepsera selama 48 minggu menunjukan hasil yang nyata dalam perbaikan histologis, penurunan VHB DNA dan peningkatan kadar normal SGPT," ungkap Prof Ali Sulaiman.

Ditambahkan, Adefovir dipivoxil memiliki prosentase efek samping yang tidak bermakna. Sehingga Adefovir Dipivoxil merupakan terapi pilihan yang memberikan perbaikan klinis yang sangat baik. "Penentuan strategi pengobatan sangat tergantung pada keadaan klinis dan tahap perkembangan penyakit penderita. Hasil akhir pengobatan virus Hepatitis B yang optimal adalah eradikasi virus. Bila hal ini tidak mungkin dicapai, berhubung faktor host maupun agent, maka harus diupayakan tujuan sekunder, yaitu menekan progresivitas penyakit," ucapnya.

Efektifitas Adefovir sudah diteliti pada pasien baru Hepatitis B dengan replikasi virus yang aktif, pada pasien yang gagal dengan lamivudine, pasien pasca transplantasi hati hingga pasien dengan dekompensasi hati maupun yang dengan koinfeksi dengan HIV. Adefovir difosfat bekerja menghambat enzim virus hepatitis B yaitu HBV polymerase sehingga pembentukan rantai DNA virus Hepatitis B terhenti.

Tidak adanya resistensi silang dengan Lamivudine dengan Adefovir dikarenakan kelompok yang resisten terhadap Lamivudine terjadi karena pembentukan steric hindrance berasal dari rantai gula L yang non alamiah sedangkan  Adefovir berinteraksi dengan rantai gula D yang alami sehingga menyebabkan adefovir masih dapat berinteraksi dengan HBV polymerase.

Tetapi dengan Adefovir terbukti memberikan perbaikan histologis yang sangat bermakna (53-59 persen versus 25 persen) pada kelompok penderita Hepatitis B naove dengan hasil serokonversi HbeAg, penurunan HBV DNA maupun normalisasi SGPT yang jauh lebih tinggi dibandingkan plasebo. Penggunaan Adefovir dapat dipertimbangkan sebagai pilihan pertama untuk pengobatan Hepatitis B baik yang baru maupun yang sudah resisten terhadap Lamivudine. Dosis yang dianjurkan untuk pengobatan Adefovir adalah 10 mg per hari yaitu satu tablet.

Bagi mereka yang memiliki resiko tinggi, Prof Ali Sulaiman menyarankan, harus segera menyadarinya jika dirasakan gejala kesehatan yang kurang baik. "Segera periksakan ke dokter, karena dengan deteksi dini dapat menyelamatkan fungsi hati dari kerusakan yang semakin parah," katanya menegaskan.

Data-data dari berbagai penelitian menunjukkan sebagian besar infeksi virus hepatitis B yang menetap, timbul sebagai akibat infeksi pada waktu bayi dan anak-anak. Makin muda usia seseorang terkena infeksi virus hepatitis B, maka lebih besar kemungkinannya untuk menderita infeksi virus hepatitis B yang menetap. Dengan demikian, lebih besar pula resiko untuk menjadi sirosis hati dan kanker hati dikemudian hari.

 --- end

 

Dibaca 7883 kali.
 

Berbagi Bersama Kami

banner

Partners

Media Sosial

 

Visitor Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini541
mod_vvisit_counterKemarin639
mod_vvisit_counterMinggu Ini1884
mod_vvisit_counterBulan Ini13559