banner
banner

Partners

banner
 
 

Artikel Bebas

Interferon Sebagai Multidrug (Dr. Andi Utama) Print E-mail

oleh : Dr. Andi Utama Msc, peneliti Puslit Bioteknologi-LIPI. (Jawa Post, 12 Juni 2004)

INTERFERON adalah obat yang sering digunakan untuk penyembuhan berbagai penyakit. Obat ini awalnya dikembangkan untuk terapi kanker.Tapi, saat ini, selain untuk terapi kanker, interferon digunakan untuk terapi berbagai penyakit, termasuk hepatitis B dan hepatitis C. Untuk beberapa penyakit yang belum ditemukan obatnya, interferon juga menjadi alternatif utama walaupun tingkat penyembuhannya tidak begitu tinggi. Untuk terapi hepatitis , misalnya, efektivitasnya tidak lebih dari 30 persen.

Di negara berkembang, seperti Indonesia, obat ini belum banyak digunakan karena harganya. Namun, di negara maju, interferon banyak digunakan untuk pengobatan kanker dan infeksi hepatitis C. Obat yang merupakan "multidrug" menjadi alternatif terapi SARS yang belum ditemukan obatnya. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa interferon mampu meredam perkembangbiakan virus corona-SARS secara in vitro (Stroher et el, 2004).

Namun yang merupakan break through adalah hasil penelitian dari gabungan tim peneliti dari Erasmus Medical Centre, Belanda, National Institute of Infectious Deseases, Jepang, dan University of Hongkong. Seperti yang dipublikasikan di Jurnal Nature Medicine terbitan 22 Februari 2004, tim itu menemukan bahwa interferon alpha dapat menekan replikasi virus SARS di dalam tubuh macaque (sejenis kera) (Haagmans et al, 2004). Lebih jauh lagi, tim ini berhasil membuktikan bahwa kera yang diperlakukan dengan interferon menunjukan kerusakan paru-paru yang jauh lebih ringan dibandingkan dengan kera yang tidak diberi interferon. Ini adalah hasil pembuktian secara in vivo yang pertama dalam usaha penemuan obat ant-SARS.

Beberapa penelitian lain juga telah membuktikan bahwa interferon mampu menekan perkembangbiakan berbagai virus secara in vivo. Termasuk virus dengue yang menjadi masalah serius di negara kita. Namun secara in vivo, hal itu belum ada pembuktian yang pasti. Apa itu interferon. INTERFERON sebenarnya bukan obat, tetapi protein yang diproduksi secara alami oleh sel di dalam tubuh untuk melindungi tubuh dari serangan berbagai penyakit, termasuk penyakit infeksi dan kanker.

Berat molekul interferon relatif besar, berkisar 20-30 kDa. Ada tiga jenis interferon yang di produksi tubuh,yaitu interferon alpha, beta, dan gamma. Dilihat dari struktur tiga dimensinya, interferon alpha dan beta memiliki kemiripan (homology) yang tinggi dan sering dinamakan interferon I. Sementara itu, interferon gamma memiliki struktur yang berbeda dan biasanya juga disebut interferon II.

Dalam kondisi normal, gen regulator untuk produksi interferon berada pada posisi off hingga interferon tak diproduksi. Tetapi, pada saat ada rangsangan dari luar, baik infeksi virus maupun bakteri, switch gen regulator ini menjadi on dan sistem produksi interferon berjalan. Pada saat ini, interferon diproduksi berbagai sel yang berhubungan dengan sistem pertahanan tubuh. Misalnya, sel B, sel natural killer (NK), dan makrophage. Interferon Alpha dan beta, selain memiliki aktivitas sebagai antivirus, juga mempunyai efek inhibitor terhadap pertumbuhan sel (cell growth inhibitor), dan lain-lain. Semua fungsi i tu berhubungan dengan sistem pertahanan tubuh manusia dan makhluk mamalia lainnya.

Berbeda dengan interferon alpha dan beta yang diproduksi diberbagai sel, interferon gamma hanya diproduksi sel NK ketika mendapat rangsangan dari mitogen, substansi yang menyebabkan mitosis (pembelahan nukleus), atau antigen lainnya. Walaupun diproduksi di sel yang berbeda dengan mekanisme yang berbeda pula, interferon gamma memiliki efek yang sama dengan dengan interferon alpha dan beta. Interferon ini langsung berperan dalam sistem pertahanan tubuh dengan cara menyerang virus, bakteri, tumor dan substansi lain yang akan merusak tubuh. Sebagai "Multidrug".

Pada kondisi normal, tubuh akan memproduksi interferon setiap mendapat serangan dari berbagai agen penyakit. Namun, umumnya jumlah yang diproduksi tidak mencukupi untuk melawan agen penyakit yang berkembang biak sangat cepat.

Karena itu, suplai interferon dari luar diperlukan. Ini menjadi salah satu terapi yang termasuk ke dalam jenis imunoterapi (immunotherapy). Inilah yang menjadi ide awal penggunaan interferon sebagai obat.

Pada kebanyakan penyakit, terapi yang digunakan adalah kemoterapi, yakni terapi dengan menggunakan senyawa kimia yang digunakan pada umumnya spesifik untuk agen penyakit tertentu. Alhasil, senyawa tertentu hanya bisa untuk terapi penyakit tertentu. Misalnya: Cyclophosphamide - menjadi topik hangat di Indonesia saat ini karena tidak diproduksi lagi - adalah obat yang hanya bisa menyembuhkan kanker. Begitu juga, zidovudine, didanosine, lamivudine, dan stavudine adalah obat untuk terapiAIDS/HIV. Ini disebabkan obat-obat tersebut hanya mampu menekan agen penyakit yang bersangkutan.

Berbeda dengan kemoterapi, imunoterapi menjadikan sistem imun tubuh sebagai targetnya. Karena sistem imun ini berhubungan dengan hampir semua penyakit, imunoterapi bisa diaplikasikan untuk semua jenis penyakit. Dengan demikian, interferon bisa digunakan sebagai "multidrug" untuk terapi berbagai penyakit.

Efek obat akan lebih baik jika obat tersebut tidak hanya berfungsi sebagai defense, yakni menahan diri dari serangan, tetapi juga sebagai offense, yaitu mampu menyerang agen penyebab penyakit. Karena itu, sebelum digunakan sebagai obat, efek interferon terhadap perkembang biakan agen penyakit juga diuji terlebih dahulu. Dan, dari hasil beberapa penelitian, interferon menunjukan kemampuannya sebagai antivirus.

Masalahnya walaupun interferon berfungsi ganda, yaitu melindungi tubuh dari serangan penyakit dan sekaligus membunuh agen penyebab penyakit, obat ini masih mempunyai beberapa kelemahan. Pertama adalah adanya efek samping. Penggunaan interferon akan menimbulkan efek samping berupa gejala demam, termasuk panas dan sakit kepala.

Penggunaan interferon dalam waktu yang lama akan menyebabkan turunnya daya lihat dan bahkan rontoknya rambut. Kelemahan kedua adalah masa terapi lama bahkan sampai lebih dari satu tahun. Ini akan menyusahkan pasien karena konsumsi interferon biasanya melalui infus.

Dan, yang paling menjadi masalah adalah harga interferon yang mahal. Walaupun berbeda di antara negara-negara, secara umum biaya ini masih termasuk mahal. Contoh, terapi interferon penyakit hepatitis C selama setahun di Jepang diperlukan biaya USD 7.000. Di negara-negara Eropa tidak jauh berbeda, berkisar USD 4.800 per tahun.

---- end.

 

 

 

Dibaca 17792 kali.
 

Berbagi Bersama Kami

banner

Partners

Media Sosial

 

Visitor Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini526
mod_vvisit_counterKemarin639
mod_vvisit_counterMinggu Ini1869
mod_vvisit_counterBulan Ini13544