banner
banner

Partners

banner
 
 

Artikel Bebas

Arjuna Mencari Makna Print E-mail

Ditulis oleh : Edhie Purwanto (Ketua Yayasan Budi Lukmanto)

Setiap orang dalam perjalanan kehidupannya merupakan sebuah proses mencari makna. Seorang anak ketika ditanya cita-citanya seringkali menjawab, “Aku ingin menjadi dokter”, “Aku ingin menjadi tentara”, makna sering diwujudkan dalam cita-cita, karena dalam cita-cita itu mereka ingin mengekspresikan makna dalam kehidupannya.

 

Namun untuk memahami makna dalam cita-cita tersebut perlulah seseorang digali lebih jauh, artinya jika seorang anak ingin menjadi dokter bisa ditanya lagi “Kalau kamu jadi dokter, memangnya untuk apa ?”, terkadang jawaban anak tersebut polos dan mengatakan “Aku pengen KAYA”, ini lah makna dari seorang dokter dari anak tersebut. Mungkin ada anak lain yang menjawab “Aku ingin MEMBANTU orang lain supaya sehat”, ini juga makna yang dipilih oleh anak lain.  Setiap orang tentu berbeda dalam pemberian makna akan perjalanan kehidupannya, baik ketika bekerja atau ketika hidup dalam keluarga.

 

Hal lain, ketika semakin dewasa dan melakukan sesuatu, kita juga memberi makna, namun jika kita mau mengamati, dominan akan bermakna kepada hal yang bersifat bisnis, artinya harus merasa sesuai antara apa yang dikeluarkan dengan manfaat atau sesuatu yang diperoleh, ketika tidak sesuai antara yang manfaat atau sesuatu yang diperoleh dalam arti lebih rendah, maka kekecewaan atau kemarahan yang muncul. Kecenderungan untuk memberi makna dari luar, berarti berdasarkan asas manfaat atau asas bisnis menjadi semakin dominan.

 

Sering kita mendengar kata “Hati Ikhlas” atau “Hati Tulus”, jika ditambahkan lagi menjadi “Bekerjalah dengan Ikhlas”, “Bekerjalah dengan Tulus”, “Hiduplah dengan Ikhlas”. Dalam kamus Bahasa Indonesia “Tulus” berarti -- sungguh dan bersih hati (benar-benar keluar dr hati yg suci); jujur; tidak pura-pura; tidak serong; tulus hati --

 

Apa makna kalimat tersebut bagi kita ?, Bisakah itu diaplikasikan dalam kehidupan kita ?, baik dipekerjaan maupun di luar pekerjaan, karena ketika kita bisa mengaplikasikan di luar pekerjaan, tentu bisa juga mengaplikasikan di pekerjaan.

 

Menolong seorang ibu membawa barang yang berat ketika menyeberang  jalan, itu berarti kita melakukan perbuatan dengan tulus ikhlas, karena kita tidak mengharap imbalan, paling ucapan terima kasih yang kita dapatkan. Ciri perbuatan yang tulus ikhlas adalah memberikan seluruh tindakan yang dilakukan hanya kepada Tuhan, berharap hanya Tuhan yang memberikan balasan. Tidak berharap apa yang harus diterimanya dari orang yang mendapatkan perbuatan atau tindakannya. Namun sifat kesombongan manusia yang seringkali muncul, kecewa atau sakit hati ketika imbalan tidak didapatkan, kalaupun didapatkan merasa tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

 

Semuanya dimulai dari niat di dalam hati, niat yang mulia, semata-mata semuanya merupakan bagian untuk menyenangkan salah satu konstituen yang sangat Mulia yaitu Tuhan. Ketika hal ini dibahas dengan menggunakan logika, maka akan sulit untuk seseorang untuk dapat menerimanya. Orang akan bertanya “Bagaimana bisa kita menerima tidak sesuai dengan yang kita harapkan ?”, sifat manusia pada umumnya tidak bisa memahami hal ini, namun ketika melihat dan mendalaminya, justru kekuatan, ketegaran yang akan didapat, menjadikan seseorang yang lebih memiliki mental berlimpah.

 

Ada juga yang mengatakan jika menerapkan ini, maka seseorang akan miskin terus. Kekayaan itu adalah relatif, kekayaan terkadang dihubungkan dengan kehormatan, seseorang yang memiliki kekayaan berlebih akan menjadi terhormat. Seseorang mengejar kekayaan karena ingin kehormatan.

 

Seringkali orang salah menilai sebuah kehormatan, mengukur kehormatan dengan kekayaan. Padahal kekayaan hanyalah pelengkap, kehormatan sejati adalah ketika kita mampu memberikan segala yang kita miliki, baik tenaga pikiran, waktu bahkan harta dengan tulus ikhlas, disitulah kita tidak menjadi miskin namun kita menjadi kaya secara relatif.

 

Memang semakin sulit di era modernisasi sekarang ini kita mampu melaksanakan prinsip-prinsip tulus ikhlas ini, namun yang bisa saya sampaikan adalah ketika melaksanakan segala sesuatu dalam ruang-ruang kehidupan ini, baik di pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari, maka saya memiliki kekuatan yang lebih, tidak kawatir akan masa depan, sesulit apapun saya menjalani kehidupan ini.

 

Semakin tidak kekurangan secara materi, karena memandangnya dalam sudut yang berbeda, semakin memiliki kekayaan mental yang berlimpah. Mampu melihat lebih jelas, bahwa kehidupan di dunia ini harus saling toleransi, saling menghargai, bukan saling menyakiti atau menghakimi. Jika di dunia ini semakin banyak orang yang berfikiran seperti ini, ada keyakinan dalam diri saya, kehidupan ini akan lebih baik, dan ada keyakinan bahwa dalam diri setiap orang ada keinginan di dalam lubuk hatinya untuk kehidupan yang lebih baik, namun terkadang tertutup oleh kesombongan-kesombongan yang masih beluk tercairkan.

 

“Semoga …sampai kapanpun selama masih ada di dunia ini, saya tetap mampu mempertahankan prinsip tulus ikhlas, di tengah-tengah kehidupan modernisasi dunia, karena hal tersebut menjadikan saya memiliki krendahan hati dan kekayaan mental (bukan materi) yang berlimpah”.  

 

------------ End    

 

 

 

 

 

 

Dibaca 25017 kali.
 

Berbagi Bersama Kami

banner

Partners

Media Sosial

 

Visitor Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini507
mod_vvisit_counterKemarin639
mod_vvisit_counterMinggu Ini1850
mod_vvisit_counterBulan Ini13525