banner
banner

Partners

banner

Artikel Bebas

Facebook Like

Program Pengembangan Imunisasi dan Produk Vaksin Hepatitis B di Indonesia (M Holy Herawati, SKM) Print E-mail

Sumber : Cermin Dunia Kedokteran No. 124, 1999

Ditulis oleh : Maria Holly Herawati, SKM, Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

PENDAHULUAN

 

Hepatitis B merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius, 78% dari para pengidap ini bermukim di Asia Timur Jauh dan Asia Tenggara(1).

Para pengidap hepatitis B di Asia Tenggara yang mendapat infeksi sewaktu bayi dan anak-anak, cenderung berkembang menjadi pengidap hepatitis B kronik dan selanjutnya mempunyai risiko menjadi sirosis hati dan kanker hati. World Health Assembly pada tahun 1992 menghimbau negara-negara dengan tingkat prevalensi HbsAg > 6% (termasuk Indonesia) untuk menyertakan vaksinasi hepatitis B dalam program imunisasi nasional paling lambat pada tahun 1995, dan pada tahun 1997 diharapkan semua bayi di seluruh dunia bisa terjangkau oleh vaksinasi Hepatitis B. Pada tahun 1987 kelompok Tehnical Advisory Group On Viral Hepatitis dan Global Advisory Group EPI menganjurkan agar vaksinasi hepatitis B diintegrasikan dengan program imunisasi yang lain.

 

Indonesia telah melaksanakan program Imunisasi Hepatitis B sejak tahun 1987 di Lombok dan kebijaksanaan ini diterus-kan ke beherapa propinsi lain, yaitu tahun 1991 dimulai secara bertahap di empat propinsi, tahun 1992 diperluas menjadi sepuluh propinsi, dan pada tahun 1997 untuk dua puluh tujuh propinsi harus sudah melaksanakan vaksinasi hepatitis B.

 

Bila program vaksinasi berhasil, diharapkan pada tahun 2015 (satu generasi kemudian) hepatitis B bisa diberantas dan bukan merupakan persoalan kesehatan masyarakat lagi.

 

UNIDO-WHO-UNICEF menganjurkan, untuk negara dengan jumlah penduduk lebih dari 50 juta supaya memproduksi sendiri vaksin yang diperlukan. Indonesia dengan penduduk lebih dari 180 juta dan prevalensi HBsAg antara 8-20% harus mempersiapkan diri untuk memproduksi sendiri vaksin hepatitis B.

 

INFEKSI VIRUS HEPATITIS B DAN AKIBATNYA

 

Apabila bayi terkena infeksi misalnya sewaktu persalinan karena ibunya menderita hepatitis B maka lebih dari 90% akan menjadi hepatitis kronik. Apabila yang terkena anak-anak yang  lebih besar maka keadaan kronisitas menurun hanya menjadi 20-30% saja. Sedang jika orang dewasa yang terkena maka keadaan kronik hanya terjadi pada 4-50% saja(4).

 

Karena itu prioritas program vaksinasi hepatitis B adalah bayi serta anak-anak.

 

ANALISIS FAKTOR BIAYA-MANFAAT

 

Untuk menyukseskan integrasi imunisasi hepatitis B ke dalam program imunisasi di Indonesia, perlu dipertimbangkan kombinasi faktor biaya dan pertimbangan epidemiologis. Beberapa studi telah dilakukan untuk meneliti dengan pasti analisa faktor biaya bila dibandingkan dengan efektivitas program.

Manfaat program imunisasi yaitu (4) :

1. Bila imunisasi dilaksanakan sedini mungkin yaitu pada saat bayi baru lahir. (dosis pertama saat lahir) :

 

  • Target populasi : 5.000.000 (bayi lahir pertahun).
  • Jumlah pengidap kronik usia 10 tahun : 10% x target populasi = 10% x 5.000.000 = 500.000.
  • Kematian pada pengidap kronik karena Kanker Hati Primer (KHP) : 25% x 500.000 = 125.000.
  • Efikasi vaksin (VE) : 0,95. Cakupan vaksin (VC) : 0,80.

Analisa biaya :

  • Biaya imunisasi untuk seorang bayi : US $ 5.25.
  • Biaya keseluruhan : 5,25 x 5.000.000+ US $ 26.250.000,00
  • Pengidap kronik yang dapat dicegah : 0,95 x 0,80 x 500.000 = 380.000.
  • Biaya perpengidap yang tercegah : 26.250.000 : 380.000 = US $ 69.08.
  • Kematian akibat Hepatitis B yang dapat dicegah : 0,95 x 0,80 x 125.000 = 95.000.
  • Biaya perkematian yang tercegah : 26.250.000 : 95.000 = US $ 276

 

2. Bila imunisasi dilaksanakan beberapa saat kemudian. (dosis pertama tidak pada saat lahir) :

 

  • Persentase pengidap kronik akibat transmisi perinatal : 65%.

Analisis biaya :

  • Jumlah pengidap kronik yang tercegah : 0,95 x 0,80 x 65% x 500.000 = 247.000.
  • Biaya perpengidap yang tercegah : 26.250.000 : 247.000 = US $ 100,2.
  • Jumlah kematian akibat hepatitis B/KHP yang tercegah: 0,95 x 0,80 x 65% x 125.000 = 61.750.
  • Biaya perkematian yang tercegah : 26.250.000 : 61.750 = US $ 404.48.

 

Dari gambaran di atas tampak bahwa seandainya penerapan imunisasi bayi tidak sesegera mungkin setelah melahirkan, maka biaya pencegahan perkasus akan lebih tinggi, begitu pula per angka kematian dan angka pengidap, karena adanya kesempatan terpapar baik secara vertikal maupun horisontal. Oleh karena itu maka program imunisasi pemerintah memprioritaskan vaksinasi hepatitis B pada bayi yang baru lahir dengan mengintegrasikannya ke dalam program imunisasi yang telah ada.

 

INTEGRASI VAKSINASI HEPATITIS DENGAN PROGRAM IMUNISASI LAIN

                                           Jadual I, Jadual imunisasi uji coba

Kontak Antigen
Umur
I
Hb11 minggu setelah lahir
II
Hb2 , OPV1, DPT1
6 minggu
III
BCG, OPV2, DPT2
10 minggu
IV
Hb3, OPV3, DPT3
14 minggu
V
Campak
36 minggu

Jadual II, Jadual imunisasi bayi yang dilahirkan di rumah sakit

Kontak Antigen
Umur
I
Hb1, BCG
0 bulan
II
Hb2 , OPV1, DPT1
2 bulan
III
OPV2, DPT2
3 bulan
IV
OPV3, DPT3
4 bulan
V
Hb3 / Campak
7 bulan
VI
Campak
9 bulan

Menurut sifat epidemiologisnya, maka dosis pertama vaksinasi hepatitis B sebaiknya diberikan segera setelah kelahiran. Namun atas pertimbangan teknis, kepraktisan, efisiensi program, pelayanan imunisasi hepatitis B diintegrasikan pemberiannya dengan vaksin lain atau antigen lain sesuai dengan jadual II dan III.

Jadual III, Jadual imunisasi bayi di posyandu / puskesmas

Kontak Antigen
Umur
I
BCG, OPV1, DPT12 bulan
II
Hb1, OPV2, DPT23 bulan
III
Hb2, OPV3, DPT3
4 bulan
IV
Hb3, Campak
9 bulan

 

 

biasanya baru dibawa ke puskesmas atau posyandu pada usia 2-3 bulan, bahkan lebih tua lagi. Melihat jadual di atas, maka bayi-bayi ini tidak akan terlindung dari penularan hepatitis secara vertikal yang diperkirakan 25% akan menyebabkan carrier pada anak-anak; di samping itu mereka juga tidak akan terlindung dari penularan secara horizontal selama 2-3 bulan pertama usia mereka atau lebih tua lagi, hal ini merupakan kelemahan jadual di atas (3).

 

KEMUNGKINAN PRODUKSI DAN PILIHAN TEKNOLOGI

 

Vaksin hepatitis B, baik vaksin asal plasma maupun vaksin rekayasa genetika, secara teknis dapat dibuat di Indonesia; yang terpenting adalah memilih jenis teknologi yang optimal  dan paling menguntungkan bagi Indonesia, terutama dalam pertimbangan jangka panjang.

 

Satu kendala lain yang perlu diwaspadai adalah besarnya biaya investasi yang diperlukan untuk produksi vaksin hepatitis B terutama dengan teknologi rekayasa genetika, sementara di lain pihak harga vaksin di pasaran diperkirakan akan terus bergerak turun, sehingga akan sangat mempengaruhi perhitungan kelayakan proyek.



PASAR VAKSINASI HEPATITIS B DI INDONESIA

 

Pasar vaksin hepatitis B di Indonesia diyakini akan terus meningkat dan berkembang karena dukungan berbagai faktor :

 

  1. Masuknya vaksinasi hepatitis B dalam program imunisasi nasional.
  2. Peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi hepatitis B.
  3. Pertambahan jumlah penduduk maupun peningkatan ekonominya.
  4. Meningkatnya persentase penduduk dengan petanda serologis negatif, sebagai hasil dimulai imunisasi hepatitis B itu sendiri.
  5. Semakin murahnya vaksin maupun biaya skrining.
  6. Dukungan pemerintah.

 

FAKTOR-FAKTOR YANG PERLU DIPERTIMBANGKAN

 

Berbagai faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum memproduksi Vaksin Hepatitis B di Indonesia ;

1. Produsen, Sangat diperlukan produsen dengan personil yang cukup ahli dan berpengalaman.

2. Teknologi, Teknologi rekayasa genetika masih dalam lindungan paten, sedangkan teknologi plasma sudah tidak dilindungi.

3. Bahan baku.

 

Apabila teknologi asal plasma yang dipilih, maka secara teoritis Indonesia dengan jumlah penduduk 180 juta dan tingkat prevalensi HbsAg yang sedang sampai tinggi memiliki sumber plasma yang cukup banyak. Tetapi dari data survei di PMI  Pusat hanya 20% darah pengidap HBsAg saat ini yang bisa dimanfaatkan karena belum tersedianya dionor darah yang tetap dan memenuhi syarat. Hal ini tidak terlepas dari perlunya pengertian masyarakat dan pemerintah bahwa bukan darah transfusi yang diperlukan tetapi darah yang sudah ada penyakit-nya; di samping itu faktor teknik pengambilan yang belum menggunakan metode plasmaphercsis. Semua di atas merupa-kan faktor hambatan apabila memilih teknologi asal plasma.

4. Dana

 

Proyek alih teknologi vaksin hepatitis B ini membutuhkan dana yang besar, perkiraan total kebutuhan dana investasi dari pengadaan vaksin untuk rekayasa genetika diperkirakan USD 35 juta, sebagian besar untuk biaya alih teknologi; sedangkan untuk plasma sekitar USD 5 juta tergantung pada kapasitas dan persyaratan produksi(4).

5. Konsekuensi ekonomis

 

Komitmen pemerintah untuk memasukkan hepatitis dalam program imunisasi nasional dan membeli vaksin hepatitis B hanya dari industri dalam negeri pada tingkat harga yang layak, merupakan kondisi yang secara ekonomis dapat dipertanggung-jawabkan.

STRATEGI

 

Garis besar strategi yang perlu diambil dalam pengadaan vaksin hepatitis B, dikaitkan dengan sasaran jangka pendek dan jangka panjang.

1. Jangka Pendek

 

a). Vaksinasi hepatitis B dimasukkan dalam program nasional.

b). Perlu sesegera mungkin mencari peluang penyediaan dan memiliki sarana produksi vaksin, hal ini dapat diwujudkan dengan kerjasama dengan berbagai pihak.

c). Pilihan teknologi yang jelas antara nilai ekonomis proyek, teknik dan kemampuan pendanaan.

2. Jangka Panjang.

 

a). Dari segi strategi harus mampu memproduksi vaksin dengan pilihan teknologi yang tepat dan ekonomis.

b). Vaksin yang dihasilkan harus efektif, aman, dengan harga yang layak dan jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan program imunisasi.

c). Produk tersebut harus mampu dipasarkan pula ke sektor swasta dalam waktu dekat, dengan harga bersaing, sehingga mendapat porsi pasar yang kuat di sektor non program.

 

KESIMPULAN 

 

  1. Imunisasi hepatitis B sebaiknya diberikan sedini mungkin.
  2. Pemilihan teknologi produksi harus dikaji dengan cermat, terutama aspek risiko finansial jangka panjang, aspek teknologi, disamping aspek teknis dan non teknis yang lain.

 

KEPUSTAKAAN

 

  1. Sulaiman Ali. Integrasi imunisasi Hepatitis B ke dalam program pengem-bangan Imunisasi. Simposium sehari program pengembangan imunisasi hepatitis B di Indonesia; Dirjen P2M PLP DEPKES RI dan PAEI. Jakarta, 6 Februari 1993.
  2. Darodjatun. Prospek masa depan vaksin Hepatitis B. Simposium sehari program pengembangan imunisasi Hepatitis B di Indonesia: Dirjen P2M PLP DEPKES RI dan PAEI. Jakarta, 6 Februari 1993. Gandung Hartono. Program pengembangan imunisasi Hepatitis B di Indonesia. Simposium sehari program pengembangan imunisasi hepatitis B di Indonesia : Dirjen P2M PLP DEPKES RI dan PAEI. Jakarta, b Februari 1993.
  3. Hudoyo Hupudio. Epidemiologi Hepatitis B di Indonesia dan aspek kesehatan masyarakatnya. Simposium sehari program imunisasi hepatitis B di Indonesia : Dirjen P2M PLP DEPKES RI dan PAEI. Jakarta, 6 Februari 1993.
----- End 

 

Dibaca 9431 kali.
 

Berbagi Bersama Kami

banner

Partners

Visitor Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini104
mod_vvisit_counterKemarin314
mod_vvisit_counterMinggu Ini418
mod_vvisit_counterBulan Ini8647