Artikel Umum: Kanker Hati/Hepatoma (PPHI online) Print

Sumber : PPHI online -  Link  - 26 Februari 2013

Apa yang dimaksud kanker hati?

Kanker hati adalah pertumbuhan yang tidak terkontrol dari sel-sel ganas di hati yang dihasilkan dari sel-sel abnormal pada hati, atau mungkin akibat dari penyebaran kanker dari bagian tubuh lain. Beberapa jenis kanker, baik jinak dan ganas dapat berkembang di hati. Jenis yang paling umum dari kanker hati adalah hepatocellular carcinoma (HCC / hepatoma). Jenis kanker ini terjadi sekitar 84% dari total kejadian kanker hati primer (kanker yang berasal dari sel hati). Di hati juga dapat terjadi kanker sekunder atau metastasis. Kanker ini karena adanya penyebaran sel kanker dari bagian lain tubuh, seperti usus besar, payudara atau pankreas. Hal ini tidak disebut “kanker hati”, melainkan sebaliknya dinamai bagian dari tubuh di mana kanker berasal (misalnya seperti, kanker payudara metastatik).[i]

Apa yang menyebabkan kanker hati?

Sulit untuk menentukan apa yang menyebabkan kanker hati, namun para peneliti telah menemukan beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker hati. Beberapa faktor risiko untuk kanker hati termasuk:

  1. Hepatitis B & C kronis – Para peneliti telah menghubungkan infeksi hepatitis-B (HBV) dan hepatitis-C (HCV) dengan perkembangan kanker hati dan menemukan hubungan yang signifikan. Diperkirakan bahwa 10-20 persen orang yang terinfeksi hepatitis B kronik akan berkembang menjadi kanker hati.
  2. Sirosis – The National Cancer Institute USA memperkirakan bahwa 5-10 persen orang dengan sirosis (gangguan progresif yang menyebabkan parut pada hati) akan berkembang menjadi kanker hati. Sirosis yang disebabkan oleh virus hepatitis B dan C, penyalahgunaan alkohol dan gangguan genetik dapat menempatkan orang pada risiko tinggi untuk berkembang menjadi kanker hati.
  3. Paparan aflatoksin – zat ini bersifat karsinogenik yang dapat ditemukan pada jamur  yang terdapat pada kacang, jagung, dan biji-bijian.
  4. Paparan vinil klorida dan thorium dioksida (Thorotrast) – Paparan zat kimia ini digunakan pada pemeriksaan menggunakan sinar X. Zat tersebut dapat menyebabkan angiosarcoma pada hati, jenis kanker hati selain HCC. Namun zat tersebut meningkatkan resiko HCC pada level yang rendah.
  5. Pil KB – Konsumsi pil jenis kontrasepsi oral ini dapat berkaitan dengan tumbuhnya beberapa jenis kanker pada hati, tapi cukup jarang hingga menjadi HCC.
  6. Steroid anabolik – Penggunaan jangka panjang steroid bisa sedikit meningkatkan risiko kanker hati.
  7. Arsenik – Di beberapa bagian dunia, air minum yang terkontaminasi dengan arsenik menyebabkan peningkatan risiko untuk mengembangkan kanker hati.[ii]

Apa gejala dan akibat yang ditimbulkan dari kanker hati?

Beberapa gejala yang disebabkan oleh kanker hati yaitu kehilangan berat badan, jaundice, lemah, rasa nyeri di perut, akumulasi cairan di perut (ascites), dan demam. Dalam banyak kasus, kanker hati dapat ditemukan pada pasien sirosis atau penyakit hati kronis lainnya tanpa disertai adanya gejala melalui pemeriksaan skrining rutin.[iii]

Pemeriksaan apakah untuk mendiagnosis kanker hati?

Untuk mendiagnosa kanker hati, dokter akan melakukan wawancara medis (anamnesis) untuk meninjau riwayat kesehatan pasien, riwayat kesehatan keluarga pasien dan melakukan pemeriksaan fisik. Jika diagnisa belum bisa ditegakkan maka dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan diantaranya:

  1. Pencitraan – Pemeriksaan ini menggunakan alat, salah satunya USG, CT (computerized tomography), MRI (magnetic resonance imaging) dan transien elastography (FibroScan®) untuk melihat apakah terdapat kelainan / fibrosis pada hati.
  2. Biopsi – yaitu pengambilan sampel kecil dari sel-sel hati yang diambil dan diperiksa dengan menggunakan mikroskop. Pengambilan sampel hati dengan cara memasukkan jarum halus di antara tulang rusuk kemudian ke hati. Biopsi tidak hanya dapat memastikan adanya sirosis, tetapi juga dapat mengungkapkan penyebabnya.[iv]
  3. Pemeriksaan AFP – Alpha fetoprotein (AFP) adalah glikoprotein yang dihasilkan oleh kantung telur yang akan menjadi sel hati pada janin. Ternyata protein ini dapat dijumpai pada 70 – 95% pasien dengan kanker hati primer. Pada seminoma yang lanjut, peningkatan AFP biasanya disertai dengan human Chorionic Gonadotropin (hCG). Kadar AFP tidak ada hubungan dengan besarnya tumor, pertumbuhan tumor, dan derajat keganasan. Kadar AFP sangat tinggi (>1000 IU/mL) pada kasus dengan keganasan hati primer, sedangkan pada metastasis tumor ganas ke hati (keganasan hati sekunder) kadar AFP kurang dari 350 – 400 IU/mL. Pemeriksaan AFP ini selain diperiksa di dalam serum, dapat juga diperiksakan pada cairan ketuban untuk mengetahui adanya spinabifida, ancephalia, atresia oesophagus atau kehamilan ganda.

Bagaimana tata laksana dan pencegahan kanker hati?

Tata laksana kanker hati dapat dilakukan dengan beberapa metode, diantaranya:

  1. Pembedahan, tujuannya yaitu untuk menghilangkan bagian tumor pada hati secara keseluruhan, namun meminimalisir penghilangan bagian hati yang sehat. Pembedahan adalah cara terbaik untuk menghilangkan kanker hati, bila kondisi kanker hati masih memenuhi kriteria untuk pembedahan.
  2. Kemoterapi, tujuannya untuk menyusutkan atau menghilangkan kanker hati dengan menggunakan obat-obatan. Tujuan lainnya adalah untuk menghentikan kanker dari menyebar ke bagian lain dari tubuh. Obat kemoterapi dapat diinjeksikan melalui pembuluh darah yang disebut pengobatan sistemik atau juga dapat diberikan langsung melalui arteri hepatika (pembuluh darah besar pada hati), pengobatan ini disebut kemoterapi intrahepatik. Namuun, saat ini kemoterapi sistemik belum memberikan hasil yang baik bila dibandingkan dengan kemoterapi intrahepatik, tetapi tidak semua pasien dengan kanker hati dapat dilakukan kemoterapi ini.
  3. Radiofrequency ablation (RFA), yaitu suatu metode dengan menggunakan frekuensi radio gelombang tinggi untuk menghancurkan tumor dengan pemanasan lokal. Elektroda RFA dimasukkan ke dalam tumor hati dengan bantuan USG melalui pendekatan perkutaneus, laparoskopik, dan pembedahan. Terapi RFA sangat cocok untuk tumor kecil (<5 cm).
  4. Transplantasi, yaitu dengan mengganti organ hati dengan hati yang sehat berasal dari orang yang telah meninggal atau cangkok donor hidup.[v]

Sedangkan untuk tindakan pencegahan sebaiknya dilakukan saat pasien belum mengalami penyakit hati kronis yang dapat menyebabkan kanker hati. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:

Sedangkan untuk tindakan pencegahan sebaiknya dilakukan saat pasien belum mengalami penyakit hati kronis yang dapat menyebabkan kanker hati. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Hindari alkohol.
  2. Melakukan tindakan pencegahan & vaksinasi terhadap Hepatitis B.
  3. Melakukan screening secara berkala pada pasien yang terkena penyakit hati.
  4. Makan yang seimbang, diet rendah lemak dan mengkonsumsi vitamin.[vi]

[i] AASLD, “Liver Cancer”, http://www.aasld.org/patients/Pages/LiverFastFactsLiverCancer.aspx, diakses pada tanggal 19 Februari 2013.

[ii] The Ohio State University, “Liver Cancer FAQ”, http://cancer.osu.edu/patientsandvisitors/cancerinfo/cancertypes/gi/faq/liver/pages/index.aspx, diakses pada tanggal 19 Februari 2013.

[iii] AASLD, Op. cit.

[iv] PubMed Health, “Hepatocellular Carsinoma”, http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0001325/, diakses pada tanggal 19 Februari 2013.

[v] Washington University Physician, “Liver Cancer – Specialists and Commonly Asked Questions”, http://wuphysicians.wustl.edu/page.aspx?pageID=724, diakses pada tanggal 19 Februari 2013.

[vi] PubMed Health, Op. cit.

 

 

Dibaca 8870 kali.