banner
banner

Partners

banner
 
 

Artikel Bebas

Pencegahan, Deteksi dini dan Penanganan Kanker Hati (Ethical Digest) Print E-mail

Sumber : ETHICAL DIGEST (Semijurnal Farmasi & Kedokteran), No. 105, Tahun X, November 2012

Ditulis : Team redaksi

 

Hepatitis B merupakan salah satu penyebab utama kanker hati. Perlu upaya pencegahan dan deteksi dini, untuk menekan kejadian kanker hati.

 

Prevalensi kanker hati atau Hepatocellular Carcinoma (HCC) mengalami peningkatan di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh peningkatan kejadian infeksi hepatitis B, hepatitis C dan kecenderungan peningkatan kasus non-alcoholic steatohepatitis (NASH). Maka, pengetahuan mengenai pencegahan, deteksi dini dan tatalaksana HCC penting diketahui.

 

Pendekatan komprehensif HCC banyak dibicarakan dalam salah satu sesi The 6th Liver Update and the 19th Scientific Meeting of INA ASL/PPHI. Untuk mengupas beberapa aspek terkait HCC, hadir beberapa pakar seperti DR. Dr. Rino Alvani Gani SpPD-KGEH FINASIM, dr. Sri Inggriani SpRad dan dr. Poernomo Boedi Setiawan SpPD-KGEH FINASIM.

 

Pencegahan HCC

 

HCC bisa karena berbagai penyebab. DR. Dr. Rino Alvani Gani, SpPD-KGEH, FINASIM, memaparkan beberapa penyebab utama HCC.""Hepatitis B merupakan penyebab utama HCC" ungkapnya. "Selain hepatitis B, penyebab lain HCC adalah hepatitis C dan NASH". Ia memaparkan adanya kecenderungan peningkatan kasus nonalcoholic steatohepatitis (NASH), yang ikut berkontribus terhadap peningkatan kasus HCC.

 

Ia menekankan pentingnya pencegahan, sebagai strategi penekanan kejadian HCC. Pencegahan dapat dilakukan dengan vaksinasi. Keberhasilan vaksinasi dalam pencegahan kejadian HCC terkait hepatitis B, telah dibuktikan dalam program vaksinasi yang dilakukan di Taiwan. Sejak diberlakukannya vaksinasi tahun 1984, populasi yang lahir setelah tahun 1984 mengalami penurunan resiko relatif HCC, dibandingkan mereka yang lahir tahun 1978.

 

Kasus HCC terkait hepatitis C, dapat dicegah dengan berbagai cara. Diantaranya kontrol terhadap penyebaran virus melalui transfusi dan penggonaan obat suntik, screening terhadap hepatitis C, dan pengobatan hepatitis C akut dengan interferon untuk pencegahan penyakit hepatitis kronik. Dr. Rino menambahkan pentingnya edukasi  mengenai infeksi hepatitis B dan hepatitis C, khususnya terkait penularan yang dapat terjadi melalui penyalahgunaan jarum suntik pada pengguna obat terlarang dan melalui hubungan seksual.

 

NASH merupakan penyebab HCC, yang dapat dicegah dengan perubahan pola hidup melalui pola makan yang sehat dan olah raga. Pasien dengan sirosis terkait NASH, memiliki risiko untuk berkembang menjadi HCC. Untuk kasus ini, pencegahan dapat dilakukan dengan mengontrol berbagai resiko terjadinya NASH seperti diabetes melitus tipe 2, obesitas dan dislipidemia.

 

Deteksi dini HCC

 

Deteksi dini HCC dapat dilakukan, khususnya untuk populasi risiko tinggi seperti pasien dengan hepatiitis B kronik, hepatitis C kronik dan sirosis hati non viral. Deteksi dini dan pemantauan pada kelompok resiko tinggi, dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan USG dan AFP.

 

"Walaupun ultrasound tidak dapat menjadi acuan satu-satunya untuk deteksi HCC, ultrasound dapat menemukan lesi fokal. Setelah itu, disarankan dilakukan pemeriksaan lanjutan seperti CT-scan," papar dr. Sri Inggriani, SpRad.

 

Pemeriksaan lain yang disarankan dr. Sri adalah pemeriksaan MRI dengan kontras Gadoxetic Acid. Ini merupakan kontras spesifik hati, yang memungkinkan pencitraan fase dinamik dan fase hepatobiliar. Selain itu, dengan penggunaan pemeriksaan ini dapat memberikan karakteristik yang lebih jelas dari lesi hati.

 

Tatalaksana HCC

 

Pendekatan tatalaksana HCC meliputi pendekatan yang berpotensi kuratif dan pengobatan paliatif. Inilah yang dibahas dr. Poernomo Boedi Setiawan, SpPD-KGEH FINASIM. Pendekatan kuratif meliputi bedah reseksi, tranplantasi hati, ablasi perkutan. Sedangkan pendekatan paliatif meliputi Tran arterial chemo embolization (TACE), kemoterapi sistemik, radioterapi dan targeted therapy.

 

Materi dilanjutkan dr. Poernomo, yang menyatakan bahwa selain mengikuti guideline, terdapat beberapa kondisi pasien yang memerlukan terapi individu (tailored therapy). Contohnya adalah pasien yang tidak memenuhi kriteria atau memiliki kontraindikas, untuk menerima pengobatan berdasarkan guideline.

 

Pada akhir sesi, dr. Poernomo memaparkan mengenai targeted therapy, menggunakan Sorafenib. "Penting untuk dinilai dalam pengobatan pasien adalah tingkat survival, bukan hanya ukuran tumor." tuturnya. Berdasarkan studi SHARP, penggunaan Sorafenib dihubungkan dengan penurunan risiko relatif kematian sebesar 31%, pada pasien yang tidak layak menjalani reseksi. Berdasarkan guideline the Asian Pasific Association for the Study of the Liver (APASL). Sorafenib direkomendasikan untuk tatalaksana pasien tahap lanjut, yang tidak cocok untuk terapi lokoregional dan memiliki fungsi hati Child Pugh kelas A. Juga, dapat digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan Child Pugh kelas B.

 

--------- End  

Dibaca 5444 kali.
 

Berbagi Bersama Kami

banner

Partners

Media Sosial

 

Visitor Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini223
mod_vvisit_counterKemarin275
mod_vvisit_counterMinggu Ini1422
mod_vvisit_counterBulan Ini1422