banner
banner

Partners

banner
 
 

Artikel Bebas

Peran Albumin dalam Penatalaksanaan Sirosis Hati (Irsan Hasan, Tities Anggraeni Indra) Print E-mail

Sumber : Majalah Medicinus, Vol 21, No. 2, Edisi April - Juni 2008

Ditulis oleh : Irsan Hasan, Tities Anggraeni Indra. Divisi Hepatologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM –Jakarta

ABSTRAK

 

Penggunaan albumin dalam beberapa kondisi klinis masih menjadi kontroversi. Kontra terhadap pemakaian albumin timbul akibat uji klinis yang tidak menunjang serta biaya terapi yang tinggi. Dalam penatalaksanaan pasien sirosis hati albumin sering dimanfaatkan karena efek onkotiknya di samping untuk memperbaiki kondisi hipoalbuminemia. Sebagian indikasi telah melalui uji klinis yang memadai, sebagian lagi belum ditunjang data yang cukup kuat.

Kata kunci: albumin, sirorsis hati

 

PENDAHULUAN

 

Infus albumin telah dipakai sejak puluhan tahun yang lalu sebagai salah satu pilihan terapi dalam praktek medis. Tujuannya adalah mengatasi kondisi hipoalbuminemia pada berbagai penyakit.  Menurunnya kadar albumin dapat menjadi penyebab terjadinya kelainan tetapi lebih banyak  merupakan komplikasi penyakit yang diderita sebelumnya. Banyaknya data yang membuktikan bahwa kadar albumin darah berkaitan dengan prognosis membuat para ahli berkeyakinan untuk memperbaiki hipoalbuminemia dengan infus albumin. Contoh yang paling nyata adalah usaha untuk menaikkan kadar albumin pada pasien-pasien gawat atau kondisi pra-bedah. Tetapi penggunaan yang begitu lama tidak melepaskan terapi albumin dari pro dan kontra. Hal ini timbul akibat penelitian yang telah dipublikasi memberikan hasil yang berbeda-beda. Debat ini semakin terpicu lagi semenjak dipublikasikannya meta analisis yang berasal dari The Cochrane Injuries Group Albumin Reviewers pada tahun 1998 yang membuktikan bahwa pemberian albumin justru meningkatkan kematian pada penderita dalam kondisi kritis. Selain itu harga albumin yang relatif mahal menjadi salah satu pertimbangan agar pemberiannya sungguh-sungguh memperhitungkan cost and benefit ratio.1,2

 

Parasentesis terapeutik diindikasikan pada asites yang tidak memperlihatkan Respons terhadap terapi obat diuretika, mempercepat pengeluaran cairan pada keadaan asites masif, mempermudah pemeriksaan ultrasonografi atau tindakan lain seperti aspirasi hati dan radio frequency ablation.

 

 

Salah satu penyakit yang banyak berhubungan dengan terapi albumin adalah sirosis hati. Sirosis hati merupakan proses difus pada hati yang ditandai dengan timbulnya fibrosis dan perubahan arsitektur hati normal menjadi nodul dengan struktur abnormal. Penyakit ini menimbulkan berbagai gangguan fungsi hati, salah satunya adalah gangguan sintesis albumin, sehingga terjadi keadaan hipoalbuminemia yang menimbulkan berbagai manifestasi klinis seperti edema tungkai, asites maupun efusi pleura.

 

Pada keadaan dimana kadar albumin dalam plasma menurun, transfusi albumin menjadi salah satu pilihan tatalaksana yang telah dipakai sejak lama. Umumnya indikasi pemberian albumin pada sirosis hati adalah untuk mengurangi pembentukan asites atau untuk memperbaiki fungsi ginjal dan sirkulasi. Sebagian dari indikasi tersebut ditunjang oleh data uji klinis yang memadai, tetapi beberapa hanya berdasarkan pengalaman klinis dan belum pernah dibuktikan lewat penelitian yang sahih. Oleh karenanya penggunaan albumin pada pasien sirosis hati masih mengandung unsur kontroversi. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengulas beberapa indikasi pemberian albumin pada pasien sirosis hati, terutama ditinjau dari bukti-bukti uji klinis yang ada.3,4      

 

ALBUMIN     

 

 

Albumin merupakan protein plasma yang paling banyak dalam tubuh manusia, yaitu sekitar 55-60% dari protein serum yang terukur. Albumin terdiri dari rantai polipeptida tunggal dengan berat molekul 66,4 kDa dan terdiri dari 585 asam amino. Pada molekul albumin terdapat 17 ikatan disulfida yang menghubungkan asam-asam amino yang mengandung sulfur. Molekul albumin berbentuk elips sehingga bentuk molekul seperti itu tidak akan meningkatkan viskositas plasma dan terlarut sempurna. Kadar albumin serum ditentukan oleh fungsi laju sintesis, laju degradasi dan distribusi antara kompartemen intravaskular dan ektravaskular. Cadangan total albumin sehat 70 kg) dimana 42% berada di kompartemen plasma dan sisanya dalam kompartemen ektravaskular.5,6

 

Sintesis albumin hanya terjadi di hepar dengan kecepatan pembentukan 12-25 gram/hari. Pada keadaan normal hanya 20-30% hepatosit yang memproduksi albumin. Akan tetapi laju produksi ini bervariasi tergantung keadaan penyakit dan laju nutrisi karena albumin hanya dibentuk pada lingkungan osmotik, hormonal dan nutrisional yang cocok. Tekanan osmotik koloid cairan interstisial yang membasahi hepatosit merupakan regulator sintesis albumin yang penting.5,6

 

Degradasi albumin total pada dewasa dengan berat 70 kg adalah sekitar 14 gram/hari atau 5% dari pertukaran protein seluruh tubuh per hari. Albumin dipecah di otot dan kulit sebesar 40-60%, di hati 15%, ginjal sekitar 10% dan 10% sisanya merembes ke dalam saluran cerna lewat dinding lambung. Produk degradasi akhir berupa asam amino bebas. Pada orang sehat kehilangan albumin lewat urine biasanya minimal tidak melebihi 10-20 mg/hari karena hampir semua yang melewati membran glomerolus akan diserap kembali.5,6

 

FUNGSI ALBUMIN5-7

 

Albumin merupakan protein plasma yang berfungsi sebagai berikut:

  1. Mempertahankan tekanan onkotik plasma agar tidak terjadi asites
  2. Membantu metabolisme dan tranportasi berbagai obat-obatan dan senyawa endogen dalam tubuh terutama substansi lipofilik (fungsi metabolit, pengikatan zat dan transport carrier).
  3. Anti-inflamasi
  4. Membantu keseimbangan asam basa karena banyak memiliki anoda bermuatan listrik
  5. Antioksidan dengan cara menghambat produksi radikal bebas eksogen oleh leukosit polimorfonuklear
  6. Mempertahankan integritas mikrovaskuler sehingga dapat mencegah masuknya kuman-kuman usus ke dalam pembuluh darah, agar tidak terjadi peritonitis bakterialis spontan
  7. Memiliki efek antikoagulan dalam kapasitas kecil melalui banyak gugus bermuatan negatif yang dapat mengikat gugus bermuatan positif pada antitrombin III (heparin like effect). Hal ini terlihat pada korelasi negatif antara kadar albumin dan kebutuhan heparin pada pasien heemodialisis.
  8. Inhibisi agregrasi trombosit

 

 

INDIKASI PEMBERIAN ALBUMIN PADA SIROSIS HATI

Terdapat berbagai indikasi untuk memberikan infus albumin bagi pasien sirosis hati, seperti  memperbaiki kondisi umum, mengatasi asites atau mengobati sindroma hepatorenal. Dari sekian banyak alasan pemberian albumin ada empat indikasi yang ditunjang oleh data uji klinis memadai, yaitu:2,8,9

 

  1. Peritonitis bakterialis spontan
  2. Sindroma hepatorenal tipe 1
  3. Sebagai pengembang plasma sesudah parasentesis volume besar (>5 liter)
  4. Meningkatkan respons terapi diuretika

 

Selain itu masih ada beberapa indikasi lain yang masih menjadi kontradiksi, misalnya pada sirosis hati dengan hipoalbuminemia berat yang disertai penyulit atau pasien sirosis hati yang akan menjalani operasi besar. Tidak ditemukannya kesepakatan untuk memberikan infus albumin pada beberapa indikasi klinis berkaitan dengan lemahnya data penelitian yang dapat dijadikan bukti penunjang. Meskipun begitu sebagian klinisi tetap memberikannya dengan berdasarkan laporan-laporan kasus, pendapat pakar maupun pengalaman pribadi.

 

PERAN ALBUMIN DALAM TATALAKSANA PERITONITIS BAKTERIALIS SPONTAN

 

Salah satu komplikasi yang cukup sering dialami pasien dengan sirosis hati adalah infeksi akibat migrasi spontan bakteri dari lumen usus ke dalam cairan asites yang dikenal sebagai peritonitis bakterialis spontan (PBS). Hampir sepertiga kasus PBS berlanjut dengan penurunan fungsi ginjal yang merupakan prediktor paling kuat terhadap mortalitas. Tidak jarang perbaikan infeksi terjadi tanpa disertai perbaikan fungsi ginjal. Gangguan fungsi ginjal terkait dengan aktifasi sistem renin-angiotensin akibat menurunnya volume darah arteri efektif. Penurunan volume darah efektif sendiri kemungkinan disebabkan vasodilatasi perifer yang dicetuskan oleh sitokin-sitokin di plasma dan cairan asites. Tujuan pemberian albumin adalah sebagai pengembang volume plasma sehingga mencegah perburukan fungsi ginjal.10,11

 

Penelitian paling terkenal mengenai penggunaan albumin pada PBS adalah studi oleh Paul Sort dan kawan-kawan pada 126 pasien yang dibagi dalam dua kelompok untuk membandingkan terapi cefotaxime dengan cefotaxime plus albumin. Gangguan fungsi ginjal terjadi pada 33% pasien yang mendapat cefotaxime saja dan hanya 8% pada kelompok yang mendapat cefotaxime plus albumin. Selain itu angka kematian untuk kelompok yang hanya mendapat cefotaxime mencapai 29%, sedangkan kelompok yang mendapat cefotaxime dan albumin jauh lebih rendah, yaitu sebesar 10%. Berdasarkan hasil-hasil ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan antibiotik plus albumin pada pasien peritonitis bakterialis spontan dapat menurunkan insidensi gangguan fungsi ginjal dan bahkan angka kematian. Tulisan lain merekomendasikan untuk memberi infus albumin sebagai pendamping antibiotika segera setelah diagnosis PBS ditegakkan.12

 

                       Tabel 1. Antibiotika vs kombinasi antibiotika dan albumin  pada PBS12

 

 

PERAN ALBUMIN DALAM TATA LAKSANA SINDROMA HEPATORENAL

 

Sindroma hepatorenal (SHR) adalah komplikasi lain pada penyakit sirosis hati lanjut. Komplikasi ini berupa gagal ginjal fungsional akibat vasokonstriksi pembuluh darah ginjal sebagai kompensasi terhadap vasodilatasi arteri perifer (terutama di splanknik). Oleh karenanya SHR dicirikan oleh adanya hipotensi arteri, resistensi vaskular sistemik yang rendah, disertai peningkatan berbagai vasokonstriktor seperti renin-angiotensin, endothelin dan aktivasi sistem saraf simpatik.5 Ada dua jenis SHR, yaitu tipe 1 yang terjadi pada penyakit hati tahap akhir dan tipe 2 yang terjadi pada asites refrakter. Sindroma hepatorenal tahap 1 biasanya sangat progresif dengan median kesintasan (survival) sekitar 10 hari, sedangkan SHR tipe 2 lebih stabil. Tatalaksana definitif untuk SHR tipe 1 adalah transplantasi hati, tetapi mengingat keterbatasan organ donor dan progresifitas penyakit ini tergolong cepat, umumnya pasien sudah meninggal sebelum transplantasi hati dilakukan.13

 

Terapi farmakologik SHR pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan aliran darah ginjal, baik melalui vasokonstriksi  splanknik maupun langsung merangsang vasodilatasi pembuluh darah ginjal. Obat vasokonstriktor selektif sirkulasi splanknik (terlipressin, ornipressin, amidodrin atau noradrenalin) terbukti dapat mengembalikan sirkulasi hiperdinamik. Pada penelitian selanjutnya terlihat bahwa pemberian albumin sebagai pengembang volume plasma bersama dengan obat vasokonstriktor akan menghasilkan volume darah sirkulasi sentral lebih baik. Selain itu penggunaan keduanya secara bersamaan juga akan meningkatkan tekanan arteri dan resistensi vaskular sistemik serta menurunkan curah jantung sehingga akan memperbaiki fungsi sirkulasi yang diikuti dengan perbaikan fungsi ginjal.13,14

 

Paling tidak tercatat 14 studi telah dipublikasikan berkaitan dengan terapi kombinasi albumin dan vasokonstriktor. Respons positif secara keseluruhan pada SHR tipe 1 mencapai 61,6%, dan bila respons terapi dinilai berdasarkan penelitian yang mensyaratkan kadar serum kreatinin kembali normal (kurang dari 1,5 mg/dl) hasilnya sekitar 61,7%. Lebih menarik lagi pada sebagian besar pasien fungsi ginjal yang membaik tersebut tetap bertahan setelah pengobatan dihentikan. Respons positif

juga disertai dengan perbaikan kesintasan (survival), dimana 40% bertahan 1 bulan dan 22% bertahan selama 3 bulan tanpa transplantasi. Pada SHR tipe 2 pemberian bersamaan albumin dan vasokonstriktor juga memberikan hasil yang baik, dari tiga penelitian yang dipublikasi didapatkan perbaikan fungsi ginjal pada 80% kasus. Sayangnya tidak ada data yang dilaporkan mengenai kesintasan (survival). Penelitian menyangkut terapi  kombinasi albumin dan vasokonstriktor bagi SHR tipe 2 tidaklah sebanyak pada tipe 1.13

 

Salah satu penelitian yang cukup sering dikutip adalah studi oleh Rolando Ortega dan kawan-kawan terhadap 21 pasien dengan target penurunan nilai kreatinin di bawah 1,5 mg/dl. Tiga belas pasien menjalani terapi kombinasi, sedangkan sisanya Cuma mendapat vasokonstriktor (terlipressin). Respons komplit terlihat pada 12 pasien (57%) dimana albumin merupakan faktor prediktif. Kelompok terapi kombinasi menunjukkan respons sebesar 77%, sedangkan bila mendapat  terlipressin saja respons hanya 25% (lihat tabel 2). Median survival time pada seluruh kasus adalah 40 hari. Pada akhir bulan pertama 11 pasien bertahan hidup (9 diantaranya mendapat albumin). Selanjutnya pada akhir bulan ketiga dari 7 pasien yang bertahan, 6 diantaranya adalah pasien yang mendapat albumin.15

 

Tabel 2. Terlipressin dan albumin vs terlipressin pada SHR15

PERANAN ALBUMIN PADA PARASENTESIS CAIRAN ASITES VOLUME BESAR

 

Parasentesis cairan asites sebagai tindakan diagnostik maupun terapeutik sering dilakukan pada pasien sirosis hati. Parasentesis terapeutik diindikasikan pada asites yang tidak memperlihatkan respons terhadap terapi obat diuretika, mempercepat pengeluaran cairan pada keadaan asites masif, mempermudah pemeriksaan ultrasonografi atau tindakan lain seperti aspirasi hati dan radiofrequency ablation. Prosedur parasentesis dapat dilakukan pada saat tertentu sesuai indikasi, bisa pula secara berkala seperti pada kasus asites refrakter. Dikatakan sebagai parasentesis cairan asites volume besar (large volume paracentesis) jika satu kali tindakan mengeluarkan lebih dari 5 liter cairan. Parasentesis volume besar telah menjadi prosedur rutin dan tercantum dalam konsensus penatalaksanaan asites pada sirosis bahkan merupakan terapi lini pertama bagi asites refrakter.16

 

Walaupun dianggap cukup aman, parasentesis volume besar bukanlah tindakan tanpa risiko sama sekali. Pengeluaran cairan dalam jumlah besar tanpa pemberian pengembang plasma akan berdampak pada gangguan sirkulasi yang ditandai dengan penurunan volume darah arteri efektif. Kondisi ini selanjutnya diikuti dengan aktivasi vasokonstriktor dan faktor antinatriuretik. Dampak klinis yang terlihat adalah berupa rekurensi asites yang cepat, komplikasi sindroma hepatorenal atau hiponatremia dilusional sampai pemendekan kesintasan (survival).

 

Pemberian pengembang plasma seperti koloid atau albumin dianjurkan untuk mencegah komplikasi pada parasentesis volume besar. Uji klinis mengenai penggunaan albumin pada tindakan ini telah dipublikasikan sejak sekitar 20 tahun yang lalu. Penelitian yang dilakukan Lucia Tito dan kawan-kawan terhadap 38 pasien sirosis dan dipublikasikan pada tahun 1990 merupakan salah satu publikasi yang menjadi acuan prosedur parasentesis volume besar. Dalam penelitiannya Tito mengeluarkan cairan asites sampai habis sehingga disebut parasentesis total. Rata-rata cairan yang dikeluarkan sebanyak 10,7 liter dalam waktu 60 menit. Pasien kemudian mendapat infus albumin 20% sebanyak 6-8 gr per liter cairan asites yang dikeluarkan. Evaluasi terhadap beberapa parameter yang sering terganggu akibat parasentesis dilakukan 48 jam dan 6 hari pasca tindakan. Terbukti tidak didapatkan perubahan bermakna pada parameter penting yang diperiksa, seperti kadar kreatinin serum, kadar natrium dan kalium serum, begitu juga pada tes fungsi hati seperti bilirubin dan masa protrombin.17

 

Mengingat harga albumin yang cukup mahal, dipikirkan pemakaian koloid sebagai alternatif pengembang plasma. Secara teori alternatif ini cukup menjanjikan, tetapi pada prakteknya koloid tidak memberikan hasil sama bagusnya dengan albumin. Suatu penelitian yang membandingkan penggunaan dextran-70, polygeline dan albumin pasca parasentesis jumlah besar dalam kaitan dengan timbulnya paracentesis-induced circulatory dysfunction (PICD) menunjukkan perbedaan signifikan. Paracentesisinduced circulatory dysfunction terjadi sebanyak 34,4% pada pemakaian dextran-70, 37,8% pada pemakaian polygeline dan 18,5% pada pemakaian albumin. Hal ini mungkin disebabkan karena waktu paruh dextran-70 yang pendek (hanya 10-24 jam) dibanding albumin yang memiliki waktu paruh 21 jam, sehingga tidak memungkinkan mencegah PICD yang umumnya muncul pada hari ke 2-6 pasca parasentesis. Begitu pula jika saline digunakan sebagai alternatif. Studi yang dilakukan Sola-Vera menunjukkan kejadian PICD lebih tinggi secara signifikan pada kelompok yang mendapat saline dibanding albumin (33,3% vs 11,4%, p=0,03).18,19

 

ALBUMIN DAN TERAPI DIURETIK

 

Albumin juga seringkali dipakai untuk meningkatkan respons terhadap diuretik pada pasien sirosis dengan komplikasi asites. Latar belakang teorinya adalah kekurangan albumin untuk mengikat furosemid sehingga obat Cuma beredar di plasma dan tidak berhasil mencapai nefron proksimal. Akibatnya terapi diuretika tidak akan memberikan respons yang baik. Ketika ditambahkan albumin volume distribusi akan menurun, obat akan diikat dan dibawa ke ginjal untuk kemudian keluar bersama urine sehingga diuresispun membaik. Studi untuk mempelajari mekanisme ini antara lain dilakukan pada mencit dengan analbuminemik yang menunjukkan volume distribusi furosemid 10 kali lipat dibanding mencit normal. Penelitian pertama pada pasien sirosis hati dilakukan oleh Wilkinson dan Sherlock dan dilaporkan dalam jurnal Lancet tahun 1962. Disebutkan bahwa kombinasi albumin dan diuretika memberikan perbaikan keluhan subyektif. Setelah itu tercatat enam penelitian lain berkaitan dengan manfaat pemberian albumin bersamaan dengan diuretika.20,21

 

Penelitian dengan kontrol secara acak oleh Gentilini dkk merupakan salah satu studi dengan metodologi cukup baik dalam membandingkan efek kombinasi albumin dan diuretika dengan diuretika saja. Subyeknya adalah pasien sirosis hati yang tidak respons dengan tirah baring dan diit rendah garam. Pada tahap pertama albumin 12,5 gr/hari (50 ml albumin 25%) diberikan tiap hari selama seminggu. Pada tahap kedua albumin diberikan 25 gr/minggu pada tahun pertama dan setiap 2 minggu pada tahun kedua dan ketiga. Uji klinis tahap pertama menunjukkan bahwa terapi kombinasi lebih efektif daripada diuretik saja dalam mengatasi asites (p<0,05) dan berhasil memperpendek lama perawatan di rumah sakit (20 hari vs 24 hari, p<0,05). Pada fase kedua terlihat bahwa pemberian albumin dan diuretika jangka panjang memperkecil probabilitas terjadinya asites secara bermakna dalam 12, 24, dan 36 bulan (19%, 56%, 69%) dibandingkan diuretika saja (30%, 79%, 82%). Angka perawatan ulang di rumah sakit juga lebih rendah pada terapi kombinasi (15%, 56%, 69% versus 27%, 74%, 79% ; p<0,02). Sayangnya penelitian ini tidak memperlihatkan perbedaan kesintasan (survival) diantara kedua kelompok.22

 

Untuk membuktikan dampak terapi kombinasi albumin dan diuretika jangka panjang terhadap kesintasan (survival), sekelompok peneliti dari Florence melakukan uji klinis pada 100 pasien sirosis. Terapi kombinasi diberikan selama dua tahun dengan medianpengamatan 84 bulan. Kelompok pertama (54 pasien) mendapatkan terapi diuretika dan infus albumin 25 gram/minggu selama 1 tahun dan selanjutnya 25 gram setiap 2 minggu, sedangkan kelompok kedua (46 pasien) hanya diuretika. Hasilnya kelompok satu memiliki angka ketahanan hidup rata-rata 108 bulan sedangkan kelompok dua hanya sebesar 36 bulan (p<0,05). Berulangnya kembali asites pada kelompok satu sebesar 38,88%, sedangkan pada kelompok dua sebesar 84,78% (p<0,0001). Tidak didapatkan efek samping selama pemberian terapi albumin jangka panjang. Disimpulkan bahwa pemberiaan albumin jangka panjang menurunkan angka rekurensi terjadinya asites dan meningkatkan angka survival pasien.23

 

Data-data di atas cukup kuat untuk menunjang pemberian infus albumin sebagai penguat terapi diuretika. Walaupun begitu harga albumin yang lumayan tinggi membuat terapi kombinasi tidak jadi protokol rutin dalam penatalaksanaan asites, kecuali pada kasus tertentu seperti asites masif, komplikasi hernia atau gangguan pernafasan.

 


CARA PEMBERIAN ALBUMIN 9

Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada pemberian albumin adalah:

 

 

  1. Kecepatan infus
    • Pada infus albumin 20% kecepatan maksimal adalah 1 ml/menit
    • Pada infus albumin 5% kecepatan maksimal adalah 2-4 ml/menit
  2. Pada tindakan parasentesis volume besar (>5 liter) 
    • Dosis albumin yang diberikan adalah 6-8 gram per 1 liter cairan asites yang dikeluarkan.
    • Cara pemberian adalah 50% albumin diberikan dalam 1 jam pertama (maksimum 170 ml/jam) dan sisanya diberikan dalam waktu 6 jam berikutnya.
  3. Sindroma hepatorenal tipe 1 
    • Pada keadaan ini albumin diberikan bersama-sama dengan obat-obat vasoaktif seperti noradrenalin, oktreotid, terlipressin atau ornipressin.
    • Cara pemberiannya adalah: Hari pertama: 1 gram albumin/kg BB. Hari kedua dan seterusnya: 20-40 gram/hari kemudian dihentikan bila CVP (Central Venous Pressure) >18 cm H2O.
  4. Peritonitis bakterialis spontan
    • Pada keadaan ini, infus albumin diberikan pada dosis 1,5 g/kgBB dengan disertai pemberian antibiotik yang sesuai.
    • Cara pemberian : Infus albumin diberikan pada saat diagnosis PBS dibuat dan diberikan dalam waktu 6 jam. Pada hari ke-3 infus albumin diberikan dengan dosis 1 gram/kgBB.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Uhing MR. The albumin controversy. Clin Perinatol 2004; 31: 475-88
  2. Cochrane Injuries Group Albumin Reviewers. Human albumin administration in critically ill patients: systematic review of randomised controlled trials. BMJ 1998; 317:235-40
  3. Avindan B.The use of albumin in all patient with decompensated cirrhosis is not justified. IMAJ 2005;7:118-20
  4. Gines P, Arroyo V. Is there still a need for albumin infusions to treat patients with liver disease? Gut 2000; 46:588-90
  5. Peters TJ. The albumin molecule: Its structure and chemical properties. In: All about albumin. Biochemistry, genetics, and medical applications. San Diego: Academic Press; 1996.p. 9-75
  6. Evans WT. Review article: Albumin as a drug-biological effects of albumin unrelated to oncotic pressure. Aliment Pharmacol Ther 2002; 16(Suppl.5):6-11
  7. Gonzales ER, Kannewurf B. The clinical use of albumin. US Pharmacist 1998; 23:HS15-26
  8. Arroyo V. Review article: albumin in the treatment of liver diseases-new features of a classical treatment. Aliment Pharmacol Ther 2002; 16(Suppl. 5):1-5
  9. Konsensus FKUI-PPHI. Pemberian albumin pada sirosis hati. Unit PPKB/ CME FKUI 2003.p.1-6
  10. Follo A, Llovet JM, Navasa M, et al. Renal impairment after spontaneous bacterial peritonitis in cirrhosis: incidence, clinical course, predictive factors and prognosis. Hepatology 1994; 20:1495-501
  11. Guarner C, Runyon BA. Spontaneous peritonitis: pathogenesis, diagnosis, and management. Gastroenterologist 1995; 3:311
  12. Sort P, Nasava M, Arroyo V, et al. Effect of intravenous albumin on renal impairment and mortality in patient with cirrhosis and spontaneous bacterialis peritonitis. N Engl J M 1999; 341:403-9.
  13. Arroyo P, Terra C, Gines P. Advances in the pathogenesis and treatment of type-1 and type-2 hepatorenal syndrome. J Hepatol 2007; 46:935-46
  14. Duvoux C, Zanditenas D, Hezode C, Chaucat A, Monin JL, et al. Effects of noradrenalin and albumin in patients with type 1 hepatorenal syndrome: A pilot study. Hepatology 2002; 36:374-80
  15. Ortega R, Gines P, Uriz J, Cardenas A, Calahorra B, Heras DDL. Terlipressin with and without albumin for patients with hepatorenal syndrome: Results of a prospective, nonrandomized study. Hepatology 2002; 36:941-48
  16. Runyon BA. Management of adult patients with ascites due to cirrhosis (AASLD Practice Guideline). Hepatology 2004; 39:1-16
  17. Tito Ll, Gines P, Arroyo V, Planas R, Panes J, Rimola A. Total paracentesis associated with intravenous albumin management of patients with cirrhosis and ascites. Gastroenterology 1990; 98: 146-51.
  18. Gines A, Fernandez-Esparrach G, Monescillo A, et al. Randomized trial comparing albumin, dextran 70, and polygeline in cirrhotic patients treated by paracentesis. Gastroenterology 1996; 111:1002-10
  19. Sola-Vera J, Minana J, Ricart E, Planella M, Gonzalez B, et al. Randomized trial comparing albumin and saline in the prevention of paracentesis-induced circulatory dysfunction in cirrhotic patients with ascites. Hepatology 2003; 37:1147-53
  20. Chalasani N, Gorski JC, Horlander JC, Craven R, Hoen H, et al. Effects of albumin/furosemide mixtures on responses to furosemide in hypoalbuminemic patients. J Am Soc Nephrol 2001; 12:1010-16
  21. Wilkinson P, Sherlock S. The effect of repeated albumin infusions in patients with cirrhosis. Lancet 1962; ii:1125-9
  22. Gentilini P, Casini-Raggi V, Di Fiore G, Romanelli RG, Buzzelli G, Pinzani M, et al. Albumin improves the response to diuretics in patients with cirrhosis and ascites: results of a randomized, controlled trial. J Hepatol 199; 30:639-45
  23. Romanelli R, Villa G, Barletta G, et al. Long term albumin infusion improves survival in patients with cirrhosis and asites : An unblinded randomized trial. World J Gastroenterol 2006;12(9):1403-7

 

----- End     

Dibaca 56163 kali.
 

Berbagi Bersama Kami

banner

Partners

Media Sosial

 

Visitor Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini226
mod_vvisit_counterKemarin275
mod_vvisit_counterMinggu Ini1425
mod_vvisit_counterBulan Ini1425