banner
banner

Partners

banner
 
 

Artikel Bebas

Temuan Ultrasonografi Kanker Hati Hepato Selular (Hepatoma) (Abdul Rasyid) Print E-mail

Sumber : Majalah Kedokteran Nusantara , Volume 39 , No. 2, Juni 2006

Ditulis oleh : Abdul Rasyid , Laboratorium Radiologi FK USU/RS H. Adam Malik Medan

Abstrak: Kanker hati hepato selular (hepatoma) adalah kanker nomor lima tersering di Indonesia. Walaupun angka kejadian dan kematiannya tinggi tetapi penyebab pasti belum diketahui. Perlu dicari faktor pencetus terjadinya kanker ini. Dikumpulkan data-data penderita kanker ini selama 5 tahun dan dicari hubungannya dengan sirrhois hati, hepatitis B, dan hepatitis C dimana ketiga penyakit ini adalah penyakit hati tersering di Indonesia. Dari 483 kasus ternyata 367 orang (76%) berhubungan erat dengan ketiga penyakit ini dan sisanya 116 orang (24%) tidak ada hubungannya. Dari 367 orang penderita hepatoma ini ternyata 232 orang (63%) penderita bersamaan dengan sirrhosis hati dan 91 orang (25%) bersamaan dengan hepatitis B dan 44 orang (12%) dengan hepatitis C yang kesemuanya berjumlah 367 orang (76%). Sedangkan 116 orang (24%) lagi tidak berhubungan sama sekali dengan sirrhosis hati, HBV ataupun HCV. 

Abstract: Hepatocellular carcinoma (hepatoma) is the fifth commonest cancer in Indonesia. Even the morbidity and mortality rate is high but still there is no one prove of the exact cause. 483 cases found  within the year 2001 – 2005 was being evaluated and try to find it’s correlation with other commonest  hepatic disease in indonesia like liver cirrhosis, hepatitis B and hepatitis C. This data   showed 367 cases (76%) have close correlation while 116 cases (24%) none. Among the 367 cases, 232 cases (63%) have liver cirrhosis and 91 cases (25%) hepatitis B and 44 cases (12%) have hepatitis C.

PENDAHULUAN

Kanker hati hepato selular yang berasal dari sel hati merupakan kanker nomor lima tersering di Indonesia. Dalam kelompok penyakit hati, kanker ini menduduki tempat terbanyak ketiga setelah sirrhosis hati dan hepatitis virus. Di Indonesia, kanker ini mematikan lebih dari satu juta orang per tahun.  

Penyebab pasti belum diketahui tetapi penyakit ini paling banyak ditemukan pada penderita sirrhosis hati (pengerasan hati), hepatitis virus B aktif, hepatitis virus B carrier, dan pada penderita hepatitis virus C, sehingga mereka dimasukkan dalam kelompok berisiko tinggi mendapatkan kanker hati ini.1,2 Hal yang sama ditemukan oleh Zhou dkk. di Cina.3 Sedangkan di Eropa hanya 20% yang berhubungan dengan ketiga penyakit ini dan sisanya 80% berhubungan dengan kebiasaan konsumsi alkohol yang berlebihan, faktor kimia industri, dan faktor lainnya.4  

Angka kejadian dan kematian dari kanker ini masih tinggi di Indonesia disebabkan penderita datang pada stadium lanjut. Sebenarnya angka kematian ini dapat ditekan bila diagnosa dini dapat ditegakkan.5  

Penderita kanker hati stadium dini masih punya harapan hidup lama dan diselamatkan dengan pengobatan cara radiologi diikuti dengan cara bedah.6 Tindakan bedah melakukan reseksi hati yaitu membuang bagian hati yang terkena kanker yang didahului dengan tindakan radiologi Trans-Arterial Embolisasi yaitu menutup aliran darah yang mensuplai makanan ke sel-sel kanker.7,8 Sedangkan pada penderita kanker hati stadium lanjut yang tak memungkinkan lagi dilakukan bedah reseksi maka tindakan radiologi digabung dengan tindakan kemoterapi dan tindakan medis lainnya ternyata juga masih dapat memberikan harapan hidup penderita walaupun tidak dapat hidup lama seperti halnya pada stadium dini.9  

Cara-cara diagnostik yang dikenal untuk mendeteksi kanker hati ganas ini adalah cara radiologi, laboratorium, dan patologi. Cara radiologi dengan ultrasonografi (USG), CT Scan, Magnetic Resonance Imaging (MRI), Angiografi, Positron Emission Tomografi (PET), Skintigrafi.10 Cara laboratorium dengan pemeriksaan pertanda tumor dalam darah yang disebut Alphafetoprotein.11,12 Sedangkan patologi dengan cara aspirasi biopsi memakai jarum halus.  

Dengan ultrasonografi konvensional (grey scale) atau dikenal dengan nama ultrasonografi hitam putih yang sederhana saja pun sudah dapat mendeteksi hepatoma noduler berdiameter kecil dari 2cm. USG merupakan sarana diagnostik yang tidak invasif, tanpa efek samping, biaya murah, mudah dilakukan, dan alat USG hitam putih ini sudah tersedia di pusat-pusat kesehatan di Indonesia dan lagi biaya murah.13,14  

BAHAN DAN CARA

Data-data kasus hepatoma sejak 1 Januari 2000 – 31 Desember 2005 yang dikumpulkan di Rumah Sakit Adam Malik Medan, Klinik Spesialis Bunda, dan Rumah Sakit PTPN II Medan yang terdeteksi dengan USG dengan positif Alphafetoprotein dikumpulkan, diteliti ulang, dan dicatat apakah penderita secara bersamaan menderita hepatitis viral B (HBV), hepatitis viral C (HCV) atau juga penderita sirrhosis hati, dengan atau tanpa HBV atau HCV.  

HASIL

Selama kurun waktu 5 tahun sejak Januari 2000 - Desember 2005 ditemukan 483 penderita hepatoma positif dengan USG dan Alphafetoprotein. Dari jumlah ini ditemukan 232 orang penderita (63%) bersamaan dengan sirrhosis hati dan 91 orang bersamaan dengan hepatitis B (25%) dan 44 orang (12%) dengan hepatitis C yang semuanya berjumlah 367 orang (76%). Sedangkan 116 orang lagi (24%) tidak berhubungan sama sekali dengan sirrhosis hati, HBV ataupun HCV. Gambaran USG yang dijumpai pada penelitian-penelitian ini adalah noduler, massive ataupun diffuse dan ada juga massa yang besar berdiameter sampai 10 cm. Hampir 75% penderita sudah dalam stadium lanjut.

DISKUSI

Dari 483 kasus ternyata 367 orang (76%) berhubungan erat dengan ketiga penyakit ini dan sisanya 116 orang (24%) tidak ada hubungannya. Dari 367 orang penderita hepatoma ternyata 232 orang penderita (63%) bersamaan dengan sirrhosis hati dan 91 orang bersamaan dengan hepatitis B (25%) dan 44 orang (12%) dengan hepatitis C yang kesemuanya berjumlah 367 orang (76%). Sedangkan 116 orang lagi (24%) tidak berhubungan sama sekali dengan sirrhosis hati, HBV, ataupun HCV. Data yang hampir bersamaan didapati di negara Cina yang mendapati bahwa pada 70% penderita hepatoma juga didapati menderita salah satu dari sirhosis hati atau hepatitis B atau hepatitis C.5 Di Eropa, menurut penelitian Anzol dkk. hanya 20% yang berhubungan dengan ketiga penyakit ini dan sisanya 80% berhubungan dengan kebiasaan konsumsi alkohol yang berlebihan, faktor kimia industri, dan faktor lainnya.4  

Dari kajian epidemiologi dan biologi molekuler di Indonesia sudah terbukti bahwa penyakit ini berhubungan erat dengan sirrhosis hati, hepatitis virus B aktif ataupun hepatitis B carrier, dan hepatitis C dan semua mereka ini termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang berisiko tinggi untuk mendapatkan kanker hati ini.5  

Secara epidemiologi, Indonesia dikelompokkan sebagai daerah endemi sedang sampai tinggi hepatitis B di dunia. Hal ini diungkapkan oleh Achmad Sujudi waktu itu sebagai Menteri Kesehatan dalam jumpa pers “Pekan Peduli Hepatitis B di Indonesia” tahun 2003, dan dikatakannya jumlah penderita hepatitis B adalah 15 - 20 juta penduduk, sedangkan jumlah penderita hepatitis C adalah 7 – 8 juta orang dan pada masa ini jumlah ini terus meningkat.  

Data statistik menunjukkan bahwa pada 12.5% kasus sirrhosis hati akan ditemukan kanker jenis ini dalam kurun waktu 3 tahun.4 Orang dengan hepatitis B kronis dan hepatitis C kronis berpotensi berkembang menjadi sirrhosis hati dan selanjutnya mendapatkan kanker hati selular. Kira-kira 50% dari hepatitis B dan 60% - 80% hepatitis C berkembang menjadi hepatitis kronis dan dalam waktu 20 – 30 tahun kemudian hepatitis tersebut menjadi sirrhosis akhirnya.2 Dengan demikian diperhitungkan 4% penderita hepatitis B dan 37% hepatitis C pada akhirnya akan mendapatkan komplikasi kanker ini.  

Penularan hepatis B dari ibu ke anak umumnya terjadi sewaktu proses persalinan dan ini terutama terjadi pada daerah endemik. Umumnya ini terjadi dari ibu yang darahnya dijumpai HbeAg positif, tapi hal ini bisa juga terjadi pada keadaan e antigen tidak dijumpai umumnya bayi yang terinfeksi akan menjadi carriers dengan insiden yang tinggi dari HbeAg positip dan biasanya asimptomatik (tanpa gejala) dan sebagian dari bayi berlanjut menjadi hepatitis kronis dengan risiko pada usia dewasa terbentuk sirrhosis hati dan kanker hati hepato selular. Dan satu di antara 5 orang akan meninggal oleh kanker hati ini.15  

Maka dapatlah diperhitungkan berapa banyak penduduk Indonesia yang terancam mendapatkan kanker hepato selular yang mematikan ini yaitu dari faktor sirrhosis hati, hepatitis B, dan hepatitis C, belum lagi dari faktor lainnya.5  

Dari data epidemiologi yang ada, tampak adanya satu kelompok bahan kimia yaitu Aflatoksin B1 yang tak kalah pentingnya sebagai penyebab terjadinya kanker hati pada manusia. Aflatoksin B1 ini dihasilkan oleh jamur Aspergillus flavus yang terkontaminasi dan melekat pada permukaan makanan seperti beras, kacang, gandum, jagung, dan kacang kedelai yang disimpan pada tempat yang panas dan lembap. Bagi Indonesia, pemeriksaan yang dilakukan beberapa tahun lalu menunjukkan pencemaran Aflatoksin B1 itu cukup tinggi pada beberapa jenis makanan. Diduga Aflatoksin B1 memegang peran sebagai faktor pemicu mutasi P53 gen sel hati yang seterusnya menimbulkan kanker sel hati. Pasalnya, iklim Indonesia yang lembap memudahkan tumbuhnya jamur ini pada bahan makanan yang tersimpan lama. Data dari berbagai rumah sakit di Indonesia menunjukkan ada 20% kasus kanker hati tak menunjukkan kaitan dengan infeksi hepatitis B maupun hepatitis C. Sayangnya tak dilakukan pemeriksaan Aflatoksin. Hanya disebutkan dugaan bahwa kasus kanker hati itu berhubungan dengan virus lain atau karsinogen termasuk Aflatoksin B1.  

Faktor lain lagi yaitu haemochromatosis yaitu penumpukan zat besi di dalam hati, dan nyatanya pada 30% pasien haemochromatosis ini timbul kanker hati. Masih ada lagi sederetan panjang nama-nama zat-zat kimia yang juga disebut-sebut dapat menimbulkan kanker hati ini.  

Walaupun dengan peralatan USG hitam putih (grey scale) konvensional dapat dideteksi kanker berdiameter 2cm – 3cm dan dengan USG hitam putih yang diperlengkapi dengan perangkat lunak baru yang dikenal dengan nama harmonik sistem16 dapat mendeteksi kanker berdiameter 1cm – 2cm, namun nilai akurasi diagnosanya hanya 70% karena dengan alat ini hanya dapat melihat adanya gambaran nodule (tumor berbentuk bulat) berwarna kehitaman padat batas jelas dikelilingi oleh bayangan garis hitam yang melingkar yang terletak di bayangan hati yang keabu-abuan.14 Dengan peralatan USG color doppler yang sudah dapat memberikan warna dan melihat pembuluh darah yang ada di sekeliling nodule sehingga jadi jelas bahwa garis warna hitam yang melingkari nodule itu adalah pembuluh darah sehingga dengan demikian akurasi diagnosa meningkat jadi 80%. Lebih canggih lagi kini alat USG dengan perangkat lunak lengkap Color Doppler Flow Imaging (CDFI) USG yang dapat melihat kecepatan dan arah aliran darah di dalam pembuluh darah yang terlihat dengan color doppler itu sehingga dapat ditentukan resistensi index dan pulsatily index dengan demikian dapat memastikan apakah pembuluh darah yang mengelilingi nodule itu adalah neovascularisasi (pembuluh darah baru). Dengan begitu dapat dipastikan keberadaan neovascularisasi ini maka akurasi diagnosa kanker meningkat jadi 90%. Dan bila sewaktu pemeriksaan dengan CDFI USG ini diberikan suntikan zat kontras pada penderita maka alat ini mampu mendeteksi neovascularisasi yang menyusup di dalam nodule yang belum terlihat di dalam nodule tersebut sehingga akurasi diagnosa meningkat jadi 95% dan lebih-lebih lagi dapat mendeteksi kanker berukuran lebih kecil dari 1cm.16,17  

Dengan Color Doppler Flow Imaging USG ini memungkinkan kita melihat tumor trombus di dalam vena porta sekalipun kecil dan apakah trombus tersebut menimbulkan oklusi total atau partial dan apakah ada kanalisasi di dalam trombus yang memungkinkan darah masih bisa mengalir melalui trombus tersebut. Dari hasil USG ini sudah bisa diarahkan dengan tepat tindakan apa yang paling tepat dan sesuai untuk penderita yaitu apakah pada penderita dilakukan reseksi hepatektomi partial atau tidak, apakah bisa di-embolisasi atau tidak, ataukah hanya dilakukan infus sitostatik intra- arterial saja. Bila sudah jelas terdapat tumor trombus di dalam vena porta yang besar pada penderita, maka tindakan operatif dan embolisasi sudah hampir tidak berarti lagi dan satu-satunya cara adalah transplantasi hati.2.18  

KESIMPULAN

Walaupun penyebab pasti dari hepatoma belum diketahui tetapi sudah dapat diprediksi adanya faktor pemicu terjadinya kanker hati yang merupakan kanker nomor lima tersering di Indonesia dengan angka kematian yang tinggi ini yaitu faktor sirrhosis hati, hepatitis B, dan hepattis C dan mereka dimasukkan ke dalam kelompok komunitas berisiko tinggi.  

SARAN

  1. Perlu penyuluhan pada penduduk mengenai bahaya kanker hati dan penyuluhan bahaya penyakit hepatitis B dan C serta sirrhosis hati yang dianggap bertanggung jawab dalam terjadinya kanker hati ini.  
  2. Perlu diteruskan usaha-usaha pencegahan timbulnya hepatitis B dan hepatitis C dengan usaha imunisasi terhadap bayi dan orang dewasa yang dapat menurunkan jumlah kasus hepatitis yang berarti juga menurunkan dan mencegah timbulnya kanker hati ini.  
  3. Perlu dilakukan skrining (penapisan) secara USG dan pemeriksaan AFP tiap 6 bulan terhadap penderita hepatitis B dan C, juga penderita sirrhosis hati untuk menemukan adanya kanker hati selular dalam stadium dini.  
  4. Perlu digalakkan kerja sama yang baik antara para dokter ahli radiologi, ahli penyakit dalam, ahli anak, ahli patologi klinik, ahli patologi anatomi, dan dokter ahli bedah untuk menyusun program terpadu penanganan pengobatan dan pencegahan terjadinya kanker hati ini. Peralatan-peralatan yang diperlukan pun sudah banyak tersedia di hampir semua rumah sakit yang menunggu para dokter untuk bekerja keras demi usaha menurunkan angka kematian dan penderitaan dari pasien-pasien kanker hati ini. 
DAFTAR PUSTAKA
 
  1. Rasyid A. Peran USG pada Keganasan Hati. Majalah Kedokteran Nusantara. Vol XX no 3,September 1990;166-171.
  2. Agus Waspodo. Buletin Dinas Kesehatan Jawa Timur 6 Januari 2005.  
  3. Zhou X D, Tang Z Y, Yang B H et al. Hepatocellular Carcinoma: The Role of Screening.Asian Pacific Journal of Cancer Prevention 2000; Vol. 1:121-126.  
  4. M. Anzola. Hepatocellular Carcinoma: role of hepatitis B and hepatitis C viruses protein in hepatocarcinogenesis. Journal of Viral Hepatitis September 2004 Vol 11 (5): 383 – 389.  
  5. Ali Sulaiman. Tinggi, penderita Hepatitis di Indonesia. Media Indonesia 16 juni 2004.
  6. S D Ryder. Guidelines for the diagnosis and treatment of hepatocellular carcinoma (HCC) in adults. Gut 2003; 52:iii-1
  7. Koteish A, Paul J, T. Screening of Hepatocellular carcinoma. Journal of vascular and interventional Radiology.2002; 13; 185- 190.  
  8. Usatoff V, Habib N. Hepatic malignancy challenges and oppurtunitties for the surgeon. J.R.Coll.Surg. Edinb., 2000;45; 99 – 109.  
  9. Bruix J, Sherman M, Llovet JM, et al. Clinical management of hepatocellular carcinoma. Conclusions of the Barcelona-2000 EASL conference. European Association for the Study of the Liver. J Hepatol 2001; 35: 421-430.
  10. Richard L. Baron, MD and Mark S. Peterson MD. Screening the Cirrhotic Liver for Hepatocellular Carcinoma with CT and MR Imaging: Opportunities and Pitfalls. RSNA 2001 Volume 21: 117 – 132.
  11. Soresi M,Maglirisi C,Campgna P, et al. Usefulness of alpha-fetoprotein in the diagnosis o hepatocellular carcinoma. Anticancer Research.2003; 23; 1747-53.
  12. Gupta S,Be nt S,Kohlwes J. Test characteristics of alphafetoprotein for detecting heptocellular carcinoma in patients with hepatitis C. A systemic review and critical analysis.Annals of Internal medicine.2005;139(1):46-50.
  13. Tariq Parvez., Babar Parvez., and Khurram Parvaiz et al. Screening For Hepatocellular Carcinoma. Jounal JCPSP September 2004 Volume 14 No. 09.
  14. Wun YT, Dickinson JA. Alpha-fetoprotein and/or liver ultrasonography for liver cancer screening in patients with chronic hepatitis B. The Cochrane Database of Systematic Reviews 2005 Issue 2 John Wiley & Sons.
  15. Chairuddin P.Lubis. Imunisasi Hepatitis B Manfaat dan Kegunaannya dalam Keluarga: e-USU Repository@2004 universitas Sumatera Utara.
  16. Ding H,Kudo M,Onda H, et al. Evaluation of Posttreatment Response of Hepatocellular Casrcinoma with Contrastenhancement coded Phase-Inversion Harmonic US:Comparison with Dynamic CT.Radiology RSNA .2001; 221: 721-730.
  17. Bolondi L, Gaiani S, Celli N, Golfieri R, et al. Characterization of small nodules in cirrhosis by assessment of vascularity: The problem of Hypovascular Hepatocellular Carcinoma. HEPATOLOGY 2005; 42: 27-34.
  18. Badvie S. Hepatocellular Carcinoma. Postgrad med J 2000;76:4-1.  

----- end 

 

Dibaca 7541 kali.
 

Berbagi Bersama Kami

banner

Partners

Media Sosial

 

Visitor Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini223
mod_vvisit_counterKemarin275
mod_vvisit_counterMinggu Ini1422
mod_vvisit_counterBulan Ini1422